
"Siapa dia Mike?" tanya Sheila.
"Dia istriku," jawab Mikael tenang tetap memakan hidangannya tanpa menatap ke arah Sheila.
Sheila menatap tajam ke arah Ariana. Ariana hanya terdiam melihat ke arahnya dengan tenang. Wanita itu lantas meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Jadi dia kau memutuskan kembali pada istrimu?" tanya Sheila dengan nada tinggi.
"Mbak, bawa Dita ke keluar untuk makan," panggil Mikael pada pengasuh anak itu. Wanita berseragam pink itu lantas mendekat dan mengajak Dita serta membawa piringnya untuk keluar.
"Sudah kukatakan jangan memperlihatkan emosimu ketika ada Dita!" Mikael membersihkan mulutnya dengan lap makan dan melemparnya ke atas piring dengan kesal.
"Aku hanya butuh penjelasanmu!''
"Sebaiknya aku pergi!" Ariana bangkit tidak enak duduk di antara sepasang sejoli yang sedang bertengkar.
"Bukan kau yang harus pergi tapi dia!" ucap Mikael membuat langkah Ariana terhenti.
"Kau mengusirku?" Sheila membuang mukanya tidak percaya mendengar ucapan kekasihnya itu
"Jika kau datang untuk membuat keributan silahkan angkat kaki dari sini. Kalau hanya sekedar menemui Dita, aku tidak akan pernah melarang asal kau tahu batasanmu sendiri." Ucapan Mikael terdengar jelas dan tegas tanpa terselip emosi sedikitpun.
"Dulu kau meninggalkannya karena diriku sekarang kau mengusirku karena dirinya. Takdir itu lucu," kata Sheila tertawa kecut.
"Yang keterlaluan itu kau, meninggalkan seorang bayi kecil hanya untuk mengejar mimpi yang suatu saat akan hilang seiring hilangnya kecantikanmu itu," ejek balik Mikael pada Sheila.
Ariana sekarang mengerti. Kehidupan Mikael tidak sebahagia yang dia bayangkan. Pria itu bahkan hidup menderita sekarang jauh dari keluarga besarnya bahkan tidak dianggap oleh mereka dan ditinggalkan oleh istri atau kekasihnya. Ariana tidak tahu status keduanya apa sudah menikah atau belum. Dia tidak peduli.
Sheila yang kehabisan kata-katanya lalu menghentakkan highheel-nya ke lantai lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Mikael mengambil segelas air putih dan menghabiskannya dengan sekali teguk mengatasi perasaan hatinya yang kacau.
"Maaf," ungkapnya.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku sudah menyiapkan diri pada situasi ini. Aku lupa jika kau sudah punya istri lain." Ariana menghembuskan nafas kasar.
"Kami belum menikah, kau tahu pergaulan di negara tidak mengharuskan kita menikah untuk tinggal satu rumah."
Pernyataan Mikael itu mengejutkannya sekali lagi. Sepertinya dia butuh obat jantung sekarang karena entah apa lagi yang akan membuatnya shock setelah ini. Dia takut terkena serangan jantung. Bersama dengan Mikael walau satu hari saja seperti berada di sebuah neraka. Terlalu banyak masalah yang mendera dan membuat kepalanya pusing.
__ADS_1
"Kau habiskan makanmu, aku akan menunggu lalu kita berangkat mudik ke kampung dengan mobil."
"Dengan mobil? Kau yakin?" tanya Ariana tidak percaya. Ini perjalanan jauh. Biasanya dia memilih memakai pesawat karena aman dan nyaman."
Ariana menjauhkan makannya yang masih banyak. "Aku sudah tidak berselera."
"Banyak yang kelaparan di sana karena tidak punya makanan tetapi aku tidak bisa memaksamu," ucap Mikael. Dia bangkit berjalan keluar ruangan itu, memanggil Dita. Ariana meneguk minumannya dan mengikuti pria itu.
"Istri," gumamnya mengingat perkataan Mikael. Setelah enam tahun sebutan itu tersemat lagi di dirinya. Terasa aneh dan lucu. Seharusnya dia marah tetapi nyatanya tidak. Ada perasaan lega mengetahui kenyataan Mikael belum menikah lagi. Walau dia pernah hidup dengan wanita lain. Ternyata posisinya belum tersingkirkan oleh wanita manapun.
Ariana sadarlah, kau sudah punya Adam yang sangat mencintaimu jangan pernah lagi membuka hati untuk pria yang tidak punya hati seperti Profesor itu. Kau hanya sedang dijadikan alat untuk mempermulus langkahnya saja. Istri selama tujuh hari atau enam atau mungkin kurang dari itu. Ariana tidak tahu berapa lama lagi pernikahannya akan berakhir.
"Kau ingin membawa makanan atau minuman apa, ada banyak di dapur kau bisa memilihnya?"
"Tidak, aku tidak ingin apapun, cukup air mineral saja."
"Aku mau jeruk, Yah," sela Dita yang berada di gendongan Mikael. Pria itu terlihat sangat perhatian dan menyayangi putrinya.
"Mbak ambilkan makanan serta minuman kesukaan Dita dan bawa ke mobil!" perintah Mikael.
Mereka lalu pergi ke mobil satunya milik Mikael, mobil Pajero sport. Kursi belakangnya sudah berganti menjadi kamar kecil karena ada matras diatasnya.
"Aku ingin di depan bersama kalian," ujar Dita melirik ke arah Ariana. Ariana melihat ke arah lain seperti tidak mendengar perkataan anak itu.
"Nanti jika kau mengantuk?"
"Please," ucap Dita menyatukan dua tangan di dada.
"Baiklah, biar kau duduk di pangkuan ayah setelah mengantuk kau pindah ke belakang, Okey!'' Mikael terlihat sabar sekali mengurus anak itu.
"Apakah kita tidak akan membawa pengasuh?" tanya Ariana.
"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya. Dia memang sedikit manja tetapi pengertian." Mikael mencium pipi tembam milik anak itu.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Sebuah panggilan masuk ke dalam handphone Ariana. Dia menatap ke arah Mikael lalu melihat ke arah luar.
__ADS_1
"Hallo, Adam," jawabnya.
"Aku sudah menerangkannya kan?" ujar Ariana.
"Maaf, jika tidak mengatakannya secara langsung."
"Aku sedang dalam perjalanan pulang," ujar Ariana berbohong.
"Percaya padaku, aku tidak akan melupakan janjiku."
"Love you too," jawab Ariana pelan. Dia mematikan sambungan teleponnya.
"Sudah, kalau sudah kita berangkat!" kata Mikael yang entah mengapa terasa dingin.
"Yeay," teriak senang Dita. Mikael mulai memutar kunci mobil dan menyalakan mesin. Dia lalu menancap gas dan pergi meninggalkan rumah itu.
Entah mengapa Ariana merasakan ini bukan hanya perjalanan sebentar saja karena kehidupan yang telah lama dia tutup akan kembali hadir di depan matanya. Dia tidak tahu bagaimana menanggapi orang tua Mikael nantinya, sudah terlalu lama mereka tidak bertemu.
Ini menjadi satunya alasan dia memilih sekolah di Jakarta agar jauh dari kehidupan masa lalunya yang kelam. Namun, lucunya kehidupan itu yang datang menghampirinya lagi dan mau tidak mau Ariana harus menghadapinya. Untuk menyelesaikan semua yang telah dimulai tetapi belum dijalani.
Awalnya, Dita nampak antusias dengan perjalanan ini. Suaranya yang cempreng khas anak kecil memenuhi mobil itu. Dia bertanya atau bercerita tentang banyak hal, Mikael menanggapinya. Sesekali Ariana melihat ke arah anak dan ayah itu yang terlihat saling mengisi. Sangat akrab. Ariana ingin memfoto momen kebersamaan itu, sepertinya akan bagus jika dia memasukkan di laman publik miliknya.
Hot Daddy dan her princess. Judul yang tepat untuk menggambarkan kedekatan mereka. Mikeal bertambah tampan ketika bersama dengan putrinya, sisi kemaskulinannya jelas terlihat. Apalagi ditambah penampilannya yang hanya memakai kaos ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kekar dan celana Levis pendek, santai namun menarik.
Dita nampak sudah mulai mengantuk, kepalanya bahkan hampir terkena stir.
"Sayang, kau mengantuk? Pindah di belakang saja ya," kata Mikael pelan. Tangan kecil itu mengusap matanya.
"Aku tidak mau sendiri di belakang. Aku mau duduk di sini saja," cicitnya.
"Biar aku yang memegangnya, kau menyetir saja," ucap Raina mengulurkan tangan membuat Mikael sedikit terkejut. Dia kira Ariana akan membenci atau tidak suka pada Dita.
"Nanti kau kesulitan dan tidak nyaman."
"Aku tidak nyaman jika melihatmu menyetir dengan tidak benar, kita bisa celaka nanti."
"Aku sudah terbiasa dengan ini," ungkap Mikael.
__ADS_1
"Kalau begitu cobalah hal baru," kata Ariana.