Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Aroma Pria lain


__ADS_3

Mikael memundurkan wajahnya. Tangannya mengusap bibir Ariana. Pikirnya Ariana mungkin butuh banyak waktu untuk bisa mempercayai semua yang dia lakukan. Tidak bisa secepat itu bagi seorang wanita untuk mempercayai seorang pria yang sudah pernah menyakitinya.


"Kita jalani saja kebersamaan kita ini yang mungkin beberapa hari saja. Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap berada di sini bersamaku karena semua keputusan ada padamu."


Ariana menganggukkan kepalanya. Mereka lalu mulai mengerjakan tugas Ariana hingga selesai. Setelah itu, Ariana bangkit untuk kembali ke kamarnya. Mikael memandangnya dengan nanar. Ingin rasanya dia menggendong wanita itu dan membawanya masuk ke kamar tetapi dia tidak bisa. Bagaimanapun wanita itu bukan miliknya walau statusnya masih sebagai istri sah.


Tiba-tiba Mikael bangkit dan berjalan mendekat Ariana. Menarik tangannya dan memeluk pinggang wanita itu.


"Ariana aku akan menunggu hingga kau yakin padaku," ucap Mikael lalu melayangkan sebuah kecupan di bibir Raina yang manis. "Agar kau mengingatku di mimpimu bukannya pria lain." Mikael lalu pergi masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Kehidupan dua insan itu berjalan seperti biasa, Mikael tidak pernah melarang Ariana melakukan semua hal termasuk bertemu dengan Adam. Dia hanya sering memaksa wanita itu untuk belajar dan mengerjakan tugasnya dengan benar.


"Jam segini kok sudah pulang?" tanya Mikael ketika Ariana baru kembali berkencan dengan Adam padahal jam masih menunjukkan pukul delapan malam.


Ariana terdiam. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan sesuatu. Satu menit berikutnya dia kembali lagi dengan wajah memerah karena marah.


"Dimana semua barangku?" tanya Ariana.


"Di kamarku," jawab Mikael tenang. Pandangannya tetap berada pada layar televisi.


"Kau tidak bisa melakukan itu. Jika kau memaksaku untuk tetap bersamaku maka aku akan pergi dari sini."


"Ameena dan suaminya akan datang kemari, entah kapan mereka akan sampai. Mereka akan menginap selama beberapa hari mungkin. Jadi selama itu kau tinggal dulu di kamarku."


"Kenapa kau tidak mengatakannya sedari tadi." Ariana lalu duduk di sebelah Mikael. "Kau juga bisa mengirim pesan padaku."


"Aku takut mengganggu kencan mu bersama Adam." Mikael mengatakan dengan nada datar tetapi itu seperti sebuah sindiran buat Ariana.


"Mandilah, aku tidak suka mencium bau pria lain di tubuhmu sewaktu kita bersama."

__ADS_1


"Kenapa aku merasa kau sedang marah padaku?'' tanya Ariana menatap tajam ke arah Mikael.


"Kau itu bodoh atau tidak berperasaan. Mana ada pria yang rela istrinya berkencan dengan pria lain." Ariana ingin menyela tetapi telunjuk Mikael berada di bibirnya.


"Aku bahkan tidak tahu apakah pria itu sudah mencium bibirmu lagi. Jika bisa aku ingin mengurungmu di rumah dan tidak bisa dilihat atau ditemui oleh pria lain. Namun, kembali lagi. Aku suamimu tetapi tidak punya hak apapun atasmu." Ariana hanya bisa terdiam mendengar ucapan Mikael. Dia tahu dia salah tetapi keadaan juga yang membuat dia seperti itu.


"Akh, aku benci dengan bau pria lain Ariana pergilah mandi dan buang baju itu jauh, jika tidak aku yang akan membakarnya!"


Ariana menyipitkan matanya dengan nakal. "Katakan kau cemburu pada Adam!"


"Cemburu untuk apa karena kau bukan milikku."


"Hmm. Aku memang bukan milikmu," ulang Ariana. "Karena itu Adam tadi membawaku pergi ke rumah orang tuanya dan mereka menerimaku dengan baik."


Mikael menarik nafas berat. Bibirnya terkatup rapat. Pandangan matanya tetap lurus ke depan. Ariana menyatukan tangan di depan dada sembari memainkannya.


"Aku rasa, kita harus mengurus perpisahan kita." Wajah Mikael mengeras namun dia tetap bisa mengendalikan dirinya. Dia sudah menduga cepat atau lambat Ariana akan mengatakan hal ini. Namun, tidak secepat ini ketika hubungan mereka sedang membaik.


"Dimana Dita? Aku tidak melihatnya." Ariana celingukan mencari keberadaan anak itu.


"Dia baru saja tidur."


Ariana bangkit tetapi ketika ingin melangkah ke kamar Mikael dia merasa ragu. "Apakah kita akan tidur satu ranjang?"


"Mandilah! Aku muak dengan baumu baru kita bicara lagi nanti." Ariana mengerutkan bibir dan berjalan masuk ke kamar Mikael.


Begitu masuk kamar, aroma khas pria itu begitu kuat merasuk dalam indera penciumannya. Ariana lantas celingukan mencari baju dan barang-barangnya. Mungkin ada di lemari. Dia lalu pergi terlebih dahulu ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


Dia tidak mungkin membuang baju miliknya jadi melipat baju itu dan meletakkannya di pojokan kamar mandi. Niatnya akan dia cuci besok.

__ADS_1


Ariana lantas pergi keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk berwarna hitam polos yang menutupi sebagian tubuhnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Mikael sedang berdiri mengambil handphone milik pria itu.


Ariana menarik nafas, tangannya memegang erat ikatan handuk di dada. Mikael menatap ke arahnya tanpa ekspresi sehingga membuat Ariana tidak begitu canggung walau rasa malu itu tetap ada.


"Aku tidak tahu dimana bajuku," ucapnya gugup. Dia berdiri di dekat lemari. Mikael lalu berjalan mendekat dan membuka satu pintu lemari pakaian.


"Ini pakaianmu. Aku telah membelikan beberapa yang baru untuk kau pakai," ucapnya. Ariana menganggukkan kepala.


"Kau bisa pergi. Aku ingin memakai baju," ucap Ariana ragu untuk mengusir pria itu. Ini kamar Mikael dan dia berhak untuk tinggal di sini.


Mikael bergerak tetapi bukannya menjauh malah mendekat ke arah Ariana. Ariana lalu berjalan mundur sehingga tersudut di samping lemari.


Kedua tangan pria itu menumpu di tembok. Mengungkung Ariana. Dada Ariana berdetak dengan kencang. Dia sampai takut jika jantungnya akan meloncat keluar. Wajahnya nampak pias menatap ke manik mata cokelat terang di balik bulu mata lentik dan tebal milik Mikael.


"Kita harus bicara!" tanya Mikael.


"Biarkan aku memakai pakaianku terlebih dahulu," cicit Ariana.


"Kau harus jawab pertanyaanku terlebih dahulu."


"Apakah pria itu telah menyentuh bibirmu tadi?" tanya Mikael. Ariana terdiam. "Sudah kukatakan Ariana aku tidak menyukainya."


Ariana menggelengkan kepalanya.


"Kau berbohong?" tanya Mikael. Ariana ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak sampai di tenggorokannya. Jari-jari Mikael mengusap pipi Ariana yang masih basah karena air masih mengalir dari rambutnya. Kaki Ariana melemas seketika. Lehernya bergerak naik turun.


"Apa dia mencium pipimu yang lembut ini?" Kali ini Ariana terdiam memejamkan matanya dan menunduk. Adam memang ingin menciumnya tetapi dia memalingkan wajah sehingga hanya pipinya saja yang terkena kecupan pria itu.


Tiba-tiba, dagunya diangkat oleh Mikael dan pipi wanita itu di jilat oleh pria itu.

__ADS_1


"Mike...," panggil wanita itu ingin menolak apa yang pria itu lakukan tetapi terhenti ketika lidah itu menyusuri lehernya. Suara aneh keluar dari tenggorokannya seketika. Ariana reflek meremas handuk miliknya sendiri.


"Hentikan?" cicitnya tetapi malah tubuhnya menikmati perlakuan pria itu.


__ADS_2