Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Mencuri


__ADS_3

Malam ini Elang menyelinap masuk ke dalam kamar Zahra. Dia tidak menyangka jika anak angkat keluarga Toha di berikan tempat tinggal bersama dengan pelayan lainnya. Hal itu, membuat daftar rentetan keburukan dari keluarga terkaya di daerah ini.


Padahal bisa saja mereka meletakkan Zahra di kamar depan dengan anak cucu keluarga itu. Jika memang ingin mengangkatnya anak mengapa harus setengah-setengah. Tiba-tiba timbul kemarahan dalam diri Elang, membayangkan hidup seperti apa yang sebenarnya di jalani oleh Zahra.


Dia lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Hanya kamar berukuran tiga kali tiga meter bahkan kamar mandinya bersama dengan para pelayan lainnya. Mengapa?


Inilah sesuatu yang disembunyikan oleh Zahra? Timbul rasa simpati dari dirinya. Elang lalu melihat sebuah buku berwarna merah muda di laci meja kayu. Oleh karena rasa penasaran, Elang mengambil buku itu.


Diary


Tulisan di sampul buku itu. Benar seperti apa yang dia perkirakan. Elang mulai membuka lebar pertama berisi foto anak kecil. Knop pintu mulai bergerak. Elang langsung menyembunyikan buku itu di balik kemeja di belakang tubuhnya.


Zahra mengangkat wajahnya dan hendak berteriak ketika terkejut melihat ada seorang pria masuk ke dalam kamarnya. Elang langsung menutup mulut wanita itu dan menekannya di pintu.


"Tenang, aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Elang.


"Aku hanya ingin bicara berdua denganmu. Aku rindu melihatmu dari dekat."


"Kau gila," ucap Zahra dengan suara berbisik.


"Aku memang gila oleh cintamu. Sungguh aku tidak bisa tidur dua hari ini karena memikirkanmu. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku membayangkan kau akan jadi milik pria lain."


"Aku bukan kekasihmu, Lang," tegas Zahra.

__ADS_1


"Tetapi, aku akan jadi suamimu nantinya," ungkap pria itu dengan penuh keyakinan.


"Walau begitu aku tetap gelisah memikirkan bagaimana caranya agar kau batal menikah dengan pria itu. Apakah aku harus menculikmu dan membuat kau hamil agar kau bisa jadi milikku?"


"Kau jangan gila," ujar Zahra kesal.


"Aku memang gila oleh cintamu, Zahra."


"Aku kemari hanya ingin berbicara denganmu dan melihatmu tidak lebih." Elang menutup wajahnya dengan Hoodie yang dia kenakan.


"Kalau begitu sampai besok di acara lamaranmu," kata Elang membuka pintu sedikit melihat ke sekeliling lalu keluar dari ruangan itu.


Namun, kepalanya kembali masuk ke dalam kamar.


Perkataan Elang terasa manis di dengar oleh Zahra tetapi dia sadar jika itu hanya sebuah fatamorgana karena dia tidak boleh punya hati untuk pria itu. Dengan hati berdebar Zahra menatap kepergian Elang yang berlari dan bersembunyi di antara semak dan pepohonan. Kamar Zahra memang menghadap ke arah halaman belakang rumah itu.


Dadanya berhenti berdegub ketika penjaga rumah keluarga Toha terlihat memeriksa tempat Elang bersama. Zahra lalu langsung keluar dari kamar.


"Pak Yono," teriak Zahra.


"Ya, ada apa Uni?" tanya pria itu. Zahra nampak berpikir sejenak untuk memikirkan alasan yang tepat agar pria itu berlalu dari sana.


"Mau kubuatkan kopi?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Kok tumben, Uni?"


"Tidak apa-apa hanya saja di belakang tadi masih ada banyak pisang goreng, sayang kalau dibuang. Pisang goreng itu enaknya disandingkan bersama kopi panas yang masih mengepul."


Elang terlihat segera bergegas pergi dari tempat itu, membuat hati Zahra tenang.


"Wah, benar itu Uni." Pak Yono mengusap kedua tangannya karena bersemangat dan merasa senang.


***


Elang sampai kembali ke rumah pukul dua belas kurang. Dia berjalan melewati kamar Raina dan mendengar suara aneh dari dalam. Seketika bulu kuduknya merinding.


"Apakah mereka tidak bisa melirihkan suaranya, menjijikkan!" gerutu Elang.


Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar. Mengambil buku berwarna merah muda dari balik kemejanya. Dia menimang sebentar lalu meletakkan di tempat tidur.


Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali lagi setelahnya dengan pakaian santai. Dia lalu berbaring, mengambil buku itu dan mulai membaca halaman pertama buku itu.


Dear diary...


Aku sangat sedih, satu-satunya orang yang mencintaiku akhirnya telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku ingin ikut pergi bersama Ibu tetapi Kau tidak mengijinkannya. Kenapa??? Ini tidak adil untukku.


Hati Elang merasa perih membayangkan apa yang dilalui Zahra di masa kecilnya. Jika dilihat tanggal tulisan ini dibuat dan dihitung dengan umur Zahra sekarang maka ketika kejadian itu terjadi sewaktu Zahra berumur sepuluh tahun.

__ADS_1


__ADS_2