Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Keputusan


__ADS_3

Mobil berhenti di belakang sebuah mobil yang Zahra kenal. Dia melihat Elang keluar dari mobil itu. Sopir mobil keluar dan digantikan oleh Elang.


"Kau!" tunjuk Zahra kesal dan marah ketika Elang sudah berada di dalam sana.


"Aku mau turun cepat buka mobilnya."


"Kita harus berbicara," kata Elang melihat ke belakang.


"Tetapi tidak dengan cara seperti ini!" ucap Zahra tegas.


"Aku tidak akan melakukan hal yang tidak semestinya padamu aku hanya ingin memastikan satu hal dan aku harap kali ini kau mau jujur padaku. Jika tidak aku tidak akan melepaskanmu," kata Elang dengan suara berat penuh penekanan.


"Kalau begitu katakan apa yang ingin kau bicarakan." Zahra melipat tangannya di dada.


"Kita bicara di tempat yang nyaman?"


"Nyaman untukmu tetapi membuatku tidak nyaman dan merasa terancam."


"Aku bukan pria yang akan melakukan hal diluar itu kecuali kau menginginkannya," kata Elang.


"Ish!" Zahra melihat ke arah samping jendela.


"Pindahlah ke depan. Kita akan berbicara sambil berkeliling kota."


"Aku tidak mau!" kata Zahra.

__ADS_1


"Kalau begitu kau membuat masalah ini menjadi sulit untuk dirimu sendiri. Baiklah kita akan berada di sini hingga kau mau menuruti kemauanku," kata Elang.


Zahra akhirnya mengalah dengan pindah duduk ke depan.


Elang melihatnya dan tersenyum licik.


"Aku melihat cincin di jarimu, apakah kau sudah bersuami atau baru bertunangan?" tanya Elang langsung tanpa basa-basi setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan lagi di tengah jalanan beraspal.


"Menurutmu?"


"Aku rasa kau belum menikah," ucap Elang lemah.


"Kami rencananya akan menikah tiga bulan lagi. Bulan besok acara lamarannya. Jika mau aku akan mengundangmu. Lagian kan kita sudah jadi saudara," ujar Zahra menyindir Elang.


"Masih ada tiga bulan," gumam Elang menghela nafas lega. Zahra yang mendengar samar hal itu menyatukan alisnya. Mereka lalu terdiam untuk sejenak."


"Tentu saja tidak, jika hanya itu aku bisa cari informasinya dari orangku."


"Kau memataiku?" Nada bicara Zahra makin meninggi tidak senang.


Elang tersenyum santai. "Belum tetapi ketika kau mengatakannya hal itu maka aku akan melakukannya. Aku akan memataimu mulai dari sekarang!"


Zahra menggelengkan kepalanya kesal. Dia tidak habis dengan jalan berpikir Elang. Dia bisa saja mencari wanita lain yang lebih cantik seperti wanita tadi yang bersamanya. Namun, malah memilih mengejarnya. Zahra kira setelah pertemuan terakhir mereka pria itu akan menyerah nyatanya tidak.


"Apakah kau mencintai pria itu, ehm tunanganmu," balik Elang bertanya. Dia sudah ingin menanyakan hal ini pada Zahra sedari tadi. Perhatian Zahra tadi di toilet seperti membuat angin segar untuknya di tengah teriknya rasa terbakar di dada.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu," kata Zahra memalingkan wajah tidak suka.


"Tentu saja jadi urusanku." Elang kembali menepikan kendaraannya dan melihat ke arah Zahra dengan tangan bertumpu pada stir.


"Kita tidak ada hubungan Lang," kata Zahra.


"Belum tetapi akan," ujar Elang santai.


"Hentikan kegialaanmu, kau dan aku tidak akan pernah bersama selain karena hubungan keluarga kita yang tidak baik, aku juga tidak mencintaimu," ujar Zahra.


Elang mencondongkan tubuhnya ke depan Zahra. Membuat wanita itu memundurkan kepala ke belakang hingga tersudut.


"Sungguh? Kenapa aku ragu?" tanya Elang menyentuh kulit wajah Zahra dengan lembut.


"Jangan sentuh aku," bentak Zahra. Elang tersenyum. Dia terlampau terbawa perasaan hingga tertarik ingin mencium wanita itu. Zahra bukan seperti wanita lainnya yang dengan mudah akan menyerahkan diri. Tetapi dia tidak tertarik pada barang bekas jamahan pria lain.


"Aku tidak bisa menyentuhmu sementara kau sudah menyentuh seluruh tubuhku, itu tidak adil." Elang menarik tangannya ke belakang.


Zahra memutar bola matanya malas.


"Waktu itu aku melakukannya hanya sebatas urusan pekerjaan."


"Tapi kau menikmatinya?"


"Tidak, bagiku semua sama saja." Zahra terlihat gugup ketika mengatakannya.

__ADS_1


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mencintainya?"


"Jika tidak untuk apa aku memutuskan akan menikah dengannya?"


__ADS_2