
"Setelah kita keluar dari pelabuhan kita akan cari tempat makan baru meneruskan perjalanan mungkin butuh lima jam lagi," ungkap Mikael setelah mereka keluar dari kapal.
"Apakah tidak sebaiknya kita cari penginapan saja," ujar Ariana. Mikael ingin mengatakan sesuatu tetapi Ariana terlebih dahulu menyela.
"Dita lelah, dia butuh istirahat di tempat yang nyaman. Kau mungkin kuat tetapi dia tidak."
"Kedua kau tidak mesti diterima dengan baik di sana alangkah baiknya jika datang sudah dalam keadaan bersih dan pikiran tenang. Jika kita sehabis dalam perjalanan jauh yang ada malah emosi yang tidak jelas dalam menghadapi keluargamu nanti."
"Baiklah, jika itu maumu," ucap Mikael.
"Bukan mau ku, ini semua untuk kebaikanmu. Mau ku pulang langsung ke rumahku dan bertemu dengan ayah serta kakak. Aku ingin melihat bagaimana tanggapan kakak jika melihatmu nanti. Sudah untung kau tidak digorok mereka nanti."
"Atau kita langsung ke rumah Kakek Toha?" Mereka terdiam. "Aku tidak mengerti mengapa kau memilih memakai mobil padahal kita bisa naik pesawat terbang," omel Ariana.
"Kita akan kemana?" tanya Mikael. Wanita di sebelahnya sangat labil. Sebentar mengatakan ini sebentar lagi mengatakan itu. Satu lagi dia baru tahu jika Ariana cerewet layaknya wanita pada umumnya.
"Aku lapar," ungkap Dita tiba-tiba.
"Kita makan dulu baru bicarakan hal itu nanti seraya makan," cetus Ariana.
Mereka lalu mencari tempat makan yang nyaman serta terdekat. Mampir ke sana. Mereka lalu memesan makanan.
Ariana takjub melihat ketelatenan Mikael ketika menyuapi Dita. Dia seperti terbiasa melakukannya. Dia bahkan rela tidak makan terlebih dahulu. Ariana menghabiskan makannya dengan cepat.
"Biar aku saja, kau makan dulu pesanan mu," ujarnya. Ayah dan anak itu langsung menghentikan gerakannya menatap Ariana dengan aneh.
"Aku hanya ingin membantumu saja, tidak lebih."
Mikael tersenyum. Dia kira Ariana akan bersikap dingin selama perjalanan ini nyatanya tidak. Dia terlihat peduli dengan dirinya dan Dita.
Mengapa dia memilih menggunakan mobil adalah biar bisa lebih mengenal Ariana dengan baik dan agar wanita itu legowo menerima permintaan maafnya. Jika mereka sudah saling mengenal mungkin mereka bisa menjadi sahabat dan berpisah dengan baik-baik tidak ada lagi permusuhan.
"Bu, aku tidak suka bawang itu," ujar Dita takut-takut pada Ariana.
"Oh, aku tidak melihatnya, aku juga tidak suka dengan bawang atau cabai dalam bumbu," balas Ariana memisahkan makanan itu dari bumbu yang melekat dengan sabar.
"Bagaimana kita akan kemana setelah ini?" tanya Mikael.
"Ke rumah Kakek Toha, kalau ke rumah sakit tidak akan diterima karena sudah malam, kalau ke hotel sayang uangnya."
__ADS_1
"Memang kita akan diterima di sana? Aku tidak yakin."
"Mereka tidak akan menerimamu tetapi akan menerimaku dan Dita," ucap Araina santai.
"Sial!"
"Mereka tidak akan tega melihat Dita, mereka juga sangat sayang padaku, jadi tidak mungkin akan mengusirku. Kalau kau aku tidak tahu karena kau itu...," perkataan Ariana terpotong.
"Iya aku tahu diri, aku akan tidur di mobil jika mereka menolakku."
"Mereka tidak akan mungkin melakukannya. Orang tua yang terpenting minta maaf atas kesalahannya dan mereka akan memaafkan."
"Tidak Ariana, aku pernah melakukannya tetapi mereka semua mengusirku dan mengatakan kalau aku boleh kembali hanya jika bersamamu."
Ariana menghela nafasnya. Dalam hatinya bertanya jika keluarga mereka sudah bermusuhan tetapi mengapa keluarga Mikael tetap ingin dia jadi menantu mereka. Ariana tidak habis pikir dengan ini.
"Kita kembali ke rumah lama?" tanya Mikael lagi. Ariana menganggukkan kepalanya. Mereka lalu kembali ke dalam mobil.
"Kau dibelakang saja ya Sayang, kau bisa istirahat di sana," bujuk Mikael pada Dita.
"Aku takut," ungkapnya sembari melirik ke arah Ariana berharap wanita itu memperbolehkan dia untuk duduk di pangkuannya.
"Aku saja yang menyetir kau duduk bersama dengan Dita."
"Aku yakin aku sudah biasa memegang mobil di perkebunan dulu," ungkap Ariana. Dia lalu menuju mesin kemudi.
"Aku kok kurang sreg." Mikael mengatakan perasaannya yang tidak yakin dengan keputusan ini.
"Percayalah," kata Ariana membuka jaketnya. Daerah Lampung malam ini terasa sangat panas. Dia hanya memakai pakaian tanpa lengan, yang menggantung apik di pinggangnya yang kecil. Bentuk tubuhnya nampak jelas terlihat. Mikael hanya menghela nafas. Dia itu pria normal dan sudah lama sekali tidak dekat dengan wanita. Walau beberapa mahasiswi dan wanita yang terang-terangan merayunya tetapi dia tidak berminat.
"Ibu yang akan menyetir?" tanya Dita.
"Hmmm," jawab Ariana singkat dan tersenyum. Dia mulai memutar kunci mobil dan perjalanan di mulai. Ariana terlihat menguasai Medan. Dia santai saja mengemudikan mobil itu. Mikael mulai memejamkan matanya. Dia sebenarnya sangat lelah tadi.
Dita masih menatap Ariana yang mengemudi dengan lincah. Entah apa yang ada dalam pikiran anak itu. Ariana jadi geli sendiri melihatnya. Tadinya dia ingin menjaga jarak dengan anak itu.
"Kau belum mengantuk?" tanya Ariana.
Anak itu menggelengkan kepalanya. "Apa kau menginginkan sesuatu?" Gelengan kepala lagi yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Bu?" tanya Dita.
"Bukankah Ayahmu tadi bilang kita akan ke rumah nenek dan kakek," ujar Ariana.
"Apa kau ibu jahat, seperti yang ada di cerita putri?" tanya Dita. Ariana mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Mungkin bisa jadi." Ariana melirik ke arah Dita.
"Tetapi Ibu tidak seperti yang ada di film itu, Ibu tidak memarahiku?" lanjut anak itu.
"Mungkin suatu hari aku akan memakanmu, huaah," ujar Ariana menirukan gaya monster.
Dita menjerit memeluk ayahnya tetapi setelah itu tertawa.
Mikael yang tertidur lalu terbangun dan melihat anaknya sedang tertawa bersama Ariana.
"Ayah, Ibu akan memakanku," ujar Dita.
"Kalau begitu kau gigit dia terlebih dahulu," jawab asal Mikael.
"Tapi tubuhku kecil, aku tidak bisa melawannya."
"Aku tidak akan memakanmu karena kau masih kecil."
"Kata Ayah, Ibu tinggal bersama dengan kakek dan nenek?"
"Oh, ya, apalagi yang diceritakan ayahmu?''
"Ibu cantik dan benar, memang cantik," ungkap Dita.
"Oh, begitulah?" Ariana melirik ke arah Mikael yang mengedikkan bahunya sedikit.
"Dia bertanya apakah aku punya keluarga, aku terangkan semua nama keluarga ku. Dia tanya lagi, apakah ada yang dekat dengannya di Jakarta dan aku jawab iya. Bagaimana rupanya, aku jawab cantik, kau jangan salah sangka."
"Aku tidak salah sangka, semua wanita memang cantik," ujar Ariana tersenyum.
"Kau juga cantik, seperti ibumu," imbuh Ariana memegang dagu Dita. Mikael terlihat tidak senang ketika membahas nama mantannya.
"Kau tidak boleh membencinya ibunya, dia itu ibu anakmu. Selain itu, kalian pernah menjalin hubungan bersama. Yang penuh cinta pastinya. Jadi tidak sepantasnya kau memarahinya di depan anakmu."
__ADS_1
"Perpisahan orang tuanya membuat trauma dan rasa sakit bagi si anak. Apalagi jika kau menambahnya dengan melihat pertengkaran kalian. Itu tidak baik bagi psikisnya."
"Kata ibuku, ehm ibu ini akan jahat dan menyiksaku seperti di film," celetuk Dita tiba-tiba membuat Ariana dan Mikael terkejut.