Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Ragu


__ADS_3

Zahra terpana dengan kata-kata Elang tetapi dia bukan wanita yang mudah untuk ditaklukkan dengan bualan.


Dia tersenyum sinis. "Jika kau pria sejati kau akan membuktikan kata-katamu. Aku butuh tindakan bukan sekedar ucapan. Aku butuh bukti bukan sekedar janji dan aku butuh cinta suci bukan hanya gairah birahi."


Elang terkejut dengan ucapan Zahra yang seperti menantangnya.


"Kau meragukanku?"


"Aku meragukan setiap pria. Terkadang mereka hanya manis ketika sedang butuh saja tetapi ketika sudah bosan mereka akan meninggalkannya tanpa kata seolah kami tidak berarti."


"Aku bukan pria seperti itu," balas Elang tidak suka. Mereka lalu terdiam.


Mobil telah sampai di dekat rumah Zahra.


"Aku berhenti di sini saja," ujar Zahra.


"Aku bukan pria pengecut yang akan bersembunyi karena takut ketahuan membawa seorang wanita pergi."


"Kau mau apa?" Zahra mulai pucat ketika mobil hampir sampai di depan rumah kediaman keluarga Toha.


"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah."


"Bagaimana nanti kalau...," Zahra panik dan gugup. "Berhenti di sini saja!" serunya.


"Kau yang katakan jika tidak butuh hanya ucapan jadi aku buktikan."


"Aku tarik kata-kataku," ucap Zahra takut. Terlanjur mobil sudah masuk ke pelataran rumah keluarga Toha. Zahra hampir tidak bisa bernafas saat ini.


Kakek Toha yang sedang berbicara dengan beberapa pegawai melihat ke mobil mereka seraya mengernyitkan dahi. Dia lalu berjalan mendekat dengan bantuan tongkat di tangannya.

__ADS_1


Zahra hendak keluar dari mobil tetapi tangannya ditahan oleh Elang. "Ini awal, kau akan melihat buktinya lain kali. Yakinlah hanya aku yang akan jadi pengantin pria mu."


Mereka saling menatap sebelum suara Kakek Toha membuat Zahra tersadar dan menarik tangannya dengan cepat.


"Zahra?" panggil sang Kakek. Zahra lalu turun dan datang mencium tangan Kakek.


"Maaf Zahra terlambat pulang, Kakek." Dia mengatakannya dengan dada yang berdebar karena takut.


Kakek Toha melihat Elang yang turun dari mobil. "Elang," gumam pria lanjut usia itu.


"Maaf, Kakek aku melihatnya di jalan tadi jadi aku mengantarkannya sampai di sini." Elang bersikap baik membuat Kakek Toha menaikkan sebelah alisnya untuk sesaat lalu ekspresinya kembali biasa saja.


"Nak Elang, terimakasih sudah mengantar Zahra pulang. Bukankah kau tadi pergi bersama dengan Azzam?" tanya Kakek Toha pada Zahra.


"Mobil Azzam tadi bermasalah saat akan pulang jadi aku menunggu taxi lewat dan Elang melihat lalu mengantarku pulang."


Kakek Toha sebenarnya sedikit curiga dengan tingkah Elang yang tiba-tiba berubah menjadi manis seperti ini tetapi baginya mungkin ini sinyal baik untuk kembali akurnya kedua keluarga mereka.


"Dia yang menolong saya ketika mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu. Saya tidak tahu jika dia adalah bagian dari keluarga ini," ungkap Elang sedikit sungkan dan malu.


Kakek Toha menepuk pundak Elang. "Zahra tidak cerita. Senang rasanya melihat kau kemari lagi seperti dulu."


Elang menutup mulutnya dan tersenyum canggung. Dia harus membuang rasa malu dan gengsinya jika ingin mendapatkan pujaan hati yang dia impikan selama beberapa bulan ini.


"Oh, ya bagaimana keadaan Mike dan Ariana di sana?"


"Mereka dalam keadaan baik." Elang tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan ketegangannya.


"Ya, mungkin karena selama beberapa bulan ini Mike tidak pernah pulang ke rumah hanya sesekali menelfon ketika bersama Ariana dan Dita."

__ADS_1


Elang mengangguk kaku seraya menelan ludah dengan sulit. "Okey, semua baik-baik saja,'' meyakinkan pada diri sendiri.


"Katakan pada Ayahmu kapan-kapan kami akan mengunjungi mereka di rumah kalian," lanjut Kakek Toha seperti dulu, seperti tidak pernah ada masalah dalam keluarga mereka.


"Iya," kata Elang.


"Ayo masuk Nak Elang tidak enak berbicara diluar seperti ini."


"Saya harus kembali ke rumah, masih ada pekerjaan yang belum selesai."


"Tidak masuk ke dalam dulu," ajak Kakek Toha.


"Terima kasih, banyak."


"Ya, sudah titip salam buat Mike dan Ariana juga Dita."


"Saya akan sampaikan."


Elang lalu melihat Zahra yang ada di belakang Kakek Toha.


"Zahra aku pulang dulu," kata Elang. Zahra menganggukkan kepala dengan tegang. Rupanya pria itu memang melakukan hal gila yang tadinya menurut Zahra tidak mungkin akan dilakukannya. Dia datang ke rumah orang yang berseteru dengan keluarganya.


Elang lalu menyugar rambutnya mengurangi kegugupannya. Membalikkan tubuh dan melangkah ke arah mobilnya tetapi dia menahan langkahnya dan membalikkan tubuh lalu mengambil tangan Kakek Toha menciumnya lalu berjalan kembali ke mobil dengan cepat.


Dia lalu pergi dari rumah itu. Kakek Toha menahan senyumnya lalu menaikkan bahunya pada Zahra.


"Apa kau punya hubungan dengan pria itu Zahra?" tanya Kakek Toha ketika Zahra akan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Tidak Kakek. Dia hanya ingin menyampaikan rasa terimakasihnya saja," ucap Zahra menunduk.

__ADS_1


"Andai kata Iya, lupakan dia dan fokus pada pernikahanmu yang akan dilangsungkannya tiga bulan lagi. Jangan permalukan Kakekmu ini."


"Tentu saja Kakek. Aku akan selalu mengikuti ucapan Kakek," jawab Zahra berlalu pergi. Entah mengapa hatinya sakit ketika mengatakan hal itu.


__ADS_2