
Mikael pergi ke rumah Slamet yang berada tidak jauh dari rumah Pak Sanjaya. Mereka melewati jalanan yang masih dari tanah dan berlumpur. Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari ubin. Mikael keluar, turun dari mobil dan saat itu seorang wanita dengan memakai pakaian lusuh serta kerudung berwarna merah muda yang pudar membuka pintu. Dia heran melihat suaminya datang dengan membawa mobil bagus ke rumah mereka.
Pak Slamet lalu berjalan mendekati wanita itu.
"Itu suami Non Ariana, dia mau membantu kita membawa Bagus ke rumah sakit," bisik Slamet
"Tapi kita tidak punya biaya," ujar wanita itu melihat bingung kearah Mikael.
"Sudah tidak usah khawatirkan soal biaya, nanti akan saya bayar terlebih dahulu. Kalian bisa mengembalikan jika telah punya uang atau tidak sama sekali. Sebaiknya kita melihat anak abang."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu, hanya ada tiga kursi kayu yang telah lapuk dan satu kursi plastik. Beberapa anak yang lain sedang duduk dengan memakan sayur tempe tanpa ikan seperti yang Mikael makan. Sebersit penyesalan datang ke relung hati Mikael karena telah memakan ikan.
Mereka lalu menuju ke sebuah kamar yang hanya di tutup oleh kain korden tipis. Mereka masuk ke dalam dan melihat kondisi anak Slamet.
Istri pak Slamet menangis melihat anaknya yang kejang. "Bagus, kau kenapa?" katanya panik, berlari mendekati putranya dengan wajah pucat dan cemas. Pak Slamet pun ikut panik.
"Tenang... tenang jangan panik," ujar Mikael mendekat ke arah anak itu.
"Ambil sendok," perintah Mikael. Dengan kaki gemetar istri Pak Slamet mengambil sendok di dapur. Dia lalu kembali lagi. Mikael mengambil sendok, melapisinya dengan kain dan memasukkannya ke dalam mulut agar lidah tidak tergigit. Dia lalu melepaskan kancing baju pada anak itu bagian atas dan memiringkannya setelah di rasa mulai tenang, baru menyuruh Slamet membawanya masuk ke dalam mobil.
Warga yang melihat mulai berkerumun melihat Slamet membawa keluar anaknya. Anak-anak Pak Slamet yang lebih kecil menangis kencang mungkin tahu perasaan cemas ibu dan ayahnya.
"Sebaiknya Ibu di rumah saja menunggu tiga anak yang lain. Biar saya dan suami Ibu yang membawa anak ini ke rumah sakit."
Ibu itu terlihat keberatan tetapi dia tidak bisa meninggalkan tiga anaknya yang lain.
"Bawa beberapa baju anak Ibu dan handuk mungkin dibutuhkan di sana." Wanita itu lantas pergi masuk ke dalam rumah lagi dan beberapa saat kemudian membawa tas kain berisi pakaian si anak.
Mobil lalu mulai berjalan pergi setelah pintu di tutup. Perjalanan ke rumah sakit terasa lama karena mereka merasa cemas dan khawatir.
__ADS_1
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam mereka sampai di sebuah rumah sakit besar di kota itu. Dewi langsung mendapat penanganan dari Dokter dan Slamet yang sekolah dasar saja tidak lulus tidak bisa mengisi formulir yang rumah sakit berikan. Akhirnya Mikael yang mengisinya. Dia lalu mentransfer uang muka untuk biaya perawatan seminggu anak itu di rumah sakit.
"Jika kurang uangnya temui saya dan katakan berapa kekurangannya."
"Terima kasih banyak Tuan Muda," kata Slamet mengusap air matanya sembari bersimpuh di kaki Mikael tetapi pria itu menarik kembali tubuh pria itu.
"Sudah tidak usah sungkan. Kita hidup di dunia ini untuk saling membantu. Saya pergi dulu Bang Slamet. Kata Dokter tidak ada yang bahaya hanya perlu menurunkan panas tubuhnya saja."
Pak Slamet menganggukkan kepala.
"Satu lagi jangan panggil Tuan Muda, saya risi mendengarnya. Lebih suka dipanggil Abang atau nama saja," kata Mikael. Kalau di kampus dia terbiasa dipanggil profesor.
"Baik Tu.. Bang Mike."
Mikael lalu kembali lagi menuju ke rumah Ariana meninggalkan Pak Slamet sendiri di rumah sakit.
Sedangkan di rumah Ariana wanita itu terlihat menangis di ruang tengah.
"Ayah, dia pasti punya urusan penting lainnya," bela Ariana.
"Urusan apa yang lebih penting darimu!" seru Elang. Dia juga merasa senang sekaligus kecewa karena pria itu pergi dari rumah ini begitu saja tanpa pamit.
"Jika dia punya urusan yang begitu penting, dia pasti akan berpamitan padamu atau keluarga ini sebagai tanda keseriusannya. Nyatanya tidak! Dia datang tanpa diundang dan pergi tanpa punggung. Pria berpendidikan macam apa itu?"
"Sudah bersiaplah Adam dan keluarganya akan datang."
"Kak, kenapa kau ikut urusanku. Kenapa pula kau harus membawa Adam dalam masalah ini."
"Eh, aku bukan ikut campur urusanku tetapi kau memang masih menjadi kewajibanku. Aku memanggil Adam karena kau telah meminta ijin padaku untuk bisa bersamanya. Omongan apa itu. Pria itu juga telah mengatakan keinginannya padamu dan kau setuju lalu apa salahku dalam hal ini!"
__ADS_1
"Tetapi jika Abang tidak menghubungi Adam masalah tidak akan serumit ini."
"Cepat atau lambat kau harus menghadapinya. Sekarang bersiaplah yang cantik dan anggun. Jika kau tidak mau kau bisa mengatakan semuanya pada Adam. Kau yang telah menyalakan api kau pula yang harus memadamkannya. Jangan permainkan pria Ariana jika kau tahu sakitnya dipermainkan."
"Apa yang dikatakan Kakakmu benar, Ariana. Hadapi pria itu dan katakan semuanya," ucap Sanjaya setelah satu jam lamanya melihat kedua anaknya terlibat adu mulut.
"Ayah bukan Ayah yang diktator tetapi Ayah akan memastikan anak Ayah memiliki pasangan yang tepat. Untuk berbagi suka dan kebahagiaan bersama." Sanjaya lalu bangkit dan meninggalkan kedua anak itu.
"Bayu?"
"Dia sedang ada dinas keluar kota. Baru berangkat semalam Ayah," ujar Elang.
"Kau dengar apa kata Ayah? Hmmm, aku tidak mengira jika suamimu sangat pengecut.
Ariana ogah untuk mengganti pakaiannya ketika Adam datang bersama dengan keluarganya.
Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ini adalah hal buruk yang pernah dia lalui. Dia merasa seperti seorang pembohong.
Elang lalu masuk ke kamarnya. "Hadapi, Adam dan keluarganya sekarang juga."
Dengan gontai dia berjalan mengikuti kakaknya. Langkahnya mulai terasa berat tatkala mendengar suara Adam dan Ayahnya yang sedang berbicara.
"Nah itu dia anaknya," kata Sanjaya pada Ariana tersenyum. Dengan kaku Arina masuk ke dalam ruangan itu. Dia bisa melihat Adam tersenyum lebar menatap dirinya sedangkan kedua orang tua Adam nampak sedikit tidak suka ketika melihat wajah sedih Ariana dan juga penampilannya yang dinilai kusut.
Ariana lalu duduk di sebelah ayahnya. Menarik nafas.
"Kenalkan Ariana, itu Ayah dan Ibu Adam." Ariana menarik paksa senyumnya dan bersalaman dengan mereka.
"Mereka kemari untuk berkenalan denganmu," kata Sanjaya. Ariana menghela nafasnya mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara jujur.
__ADS_1
"Ayah," panggil Ariana ingin mengatakan sesuatu. "Adam. Aku ingin mengatakan sesuatu."