
"Tidak perlu jika Paman dan Bibi serta Kakek mengijinkan ku untuk melamar Zahra," ucap Elang. Semua orang yang ada di sana langsung terkejut. Namun, tidak dengan Haji Toha yang sudah melihat gelagat berbeda dari Elang semenjak beberapa hari ini.
"Elang?!" gumam Sanjaya terkejut, dia masih menahan diri untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah wanita yang pernah disebut Elang sebagai calon kakak ipar Ariana adalah Zahra?
"Kenapa kami harus menerima lamaranmu?" tanya Haji Toha.
"Karena aku mencintai Zahra semenjak lama sebelum aku tahu jika keluarga ini adalah keluarganya."
"Jika kau lebih dahulu tahu apakah kau akan membencinya sama seperti kau membenci Mike dulu?" cecar Haji Toha.
"Maaf, aku memang pernah melakukan salah dan aku mengakuinya. Tetapi kita tidak bisa memilih cinta itu berlabuh pada siapa. Sepertinya Ariana yang kekeh mencintai Mike padahal sudah di sakitnya seperti itu pula aku menahan rasa ini namun tidak bisa. Aku mencoba mengabaikan perasaanku tetapi yang ada rasa sakit. Aku berusaha ikhlas menerima kenyataan jika Zahra bukan milikku tetapi tetap tidak bisa."
Elang berjalan mendekat ke arah Zahra. "Semakin hari semakin bertambah cintaku. Ada perasaan ingin selalu melindungi dan menjaganya walau itu hanya bisa kulakukan dari jauh. Berulang kali aku mengatakan mencintainya. Tetapi berulang kali pula Zahra selalu menolak ku alasannya karena dia tidak ingin menyakiti keluarganya. Aku menghormati keputusannya walau itu sangat menyakitkan."
Mata Zahra dan Elang saling beradu pandang dan merebak. Zahra memutuskan kontak itu dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia mengusap air mata yang tidak bisa dia tahan lagi. Dia menyerahkan semua keputusan pada Yang Kuasa.
__ADS_1
Elang nampak bersimpuh dengan kepala tertunduk di depan keluarga Toha.
"Dengan kerendahan diriku. Aku meminta maaf pada seluruh keluarga ini atas semua kesalahanku. Selain itu, jika kalian mengijinkan aku ingin melamar dan menikah dengan Zahra."
Semua terdiam tidak mengeluarkan suara.
"Aku setuju jika Zahra menikah dengan Elang," celetuk Mike.
"Tidak apa-apa malah akan mempererat kekeluargaan kita, bukan begitu, Pak?" tanya Ibu Siti pada suaminya.
"Kau bukan sedang membalas dendam pada Zahra kan?" celetuk sang Kakek membuat semua orang terkejut.
"Demi Alloh Kek, saya benar-benar mencintai Zahra. Saya mencintainya dari sebelum tahu jika dia bagian dari keluarga Kakek. Saya berhutang nyawa padanya. Selain itu, kesabaran dan ketabahannya dalam menjalani hidup membuatku salut."
"Apa kau tahu siapa dia dan dari mana asalnya. Apa kau tidak akan malu nantinya?" cecar Kakek Toha.
__ADS_1
"Kami akan menjalankan masa depan bukan untuk melihat masalalu. Namun, apapun itu aku sudah tahu semuanya dan aku menerimanya," ucap Elang mantap.
"Zahra kemarilah!" panggil Haji Toha.
Zahra mendekat sambil menunduk. "Apakah kau menerima lamaran Elang?" tanya Kakek Toha pada cucunya.
Zahra mengangkat kepala menatap Elang untuk sejenak lalu menunduk lagi.
"Aku menyerahkan keputusan ini pada Kakek."
"Aku akan menolaknya, apakah kau akan terima?" balik Kakek Toha menatap Zahra lekat.
Deg!
Hati Elang terasa hancur, menatap penuh harap pada Zahra. Sedangkan Zahra menahan setengah mati dirinya agar tidak menangis. Dadanya bahkan seperti tersumbat tidak bisa bernafas sama sekali.
__ADS_1