
Ariana akhirnya ikut Mikael ke Jakarta setelah mendapat persetujuan dari Sanjaya. Dia sangat antusias. Mereka menaiki pesawat dan sampai di rumah Mikeal malam harinya.
Dita yang lelah karena telah menempuh perjalanan jauh memilih tidur dengan cepat. Hingga akhirnya Ariana dan Mikael bisa bersama di kamarnya.
Mikael duduk di sandaran tempat tidur ketika Ariana masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Dita. Mikael mengulurkan tangannya, wanita itu membalas uluran tangan pria itu dan berbaring manja di dada suaminya.
"Akhirnya kita bisa tinggal satu kamar lagi," ucap Ariana menatap suaminya.
Mikeal mengeratkan pelukannya pada Ariana. Mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut.
Ariana memasukkan jarinya ke dalam hati Mikael dan mengepalkannya.
"Aku kira, mimpiku itu hanya mimpi tidak pernah akan jadi kenyataan."
"Mimpi apa?" tanya Mikael.
"Mimpi untuk bisa bersamamu seperti ini," ucapnya mencium tangan Mikael lalu menengadah menatap wajah pria itu.
"Kenapa kau masih berharap sedangkan aku telah mengecewakanmu dari awal?" tanya Mikael sembari menyatukan kedua alisnya.
"Menurutmu kapan pertama kali kita bertemu?"
"Semenjak kau kutemukan di kebun kelapa sawit," ucap pria itu.
"Kau tahu semenjak itu aku tidak bisa melupakannya. Pikiranku selalu teringat padamu dan aku selalu menantikan kau datang dari kota lalu aku bisa melihatmu."
Mikael menegakkan tubuhnya dan memegang kedua bahu istrinya untuk melihat wajahnya.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan itu benar? Padahal waktu itu kau masih sangat belia," ucapnya.
Ariana menganggukkan kepalanya.
"Berarti kau memang menyetujui perjodohan itu bukan karena sebuah keterpaksaan?" Ariana menggelengkan kepalanya lagi.
Tiba-tiba Mikael memeluk tubuh Ariana erat.
"Kau pasti sangat sakit ketika aku meninggalkanmu," ujar pria itu lagi. Mengingat apa yang telah dia lakukan dulu pada wanita itu.
"Aku lebih sakit ketika bertemu denganmu lagi di kampus dan kau pura-pura tidak mengenaliku padahal aku sudah mencoba meyakinkan diriku untuk selalu membencimu dan melupakan semua yang terjadi. Namun, tetap saja tidak bisa. Melihatmu adalah siksaan terberatku." Ariana memegang kaos di dada Mikael dengan erat.
"Maaf.. maaf... . Aku kira kau tidak ingin bertemu denganku atau mengenaliku setelah apa yang kulakukan padamu," ungkap Mikael.
"Kau sangat tega padaku," Ariana ingin meluapkan emosi di hatinya. Dia menangis dalam pelukan Mikael.
"Apa salahku hingga kau berbuat seperti itu. Belum lagi kau selalu membentakku di kelas seperti menyatakan jika aku mahasiswa terburuk," ungkap Ariana.
"Aku heran mengapa kau mempunyai cita-cita yang sangat sederhana," kata Mikael.
"Aku hanya ingin membuktikan jika aku punya kemampuan bukan terlihat seperti wanita yang lemah yang hanya akan meminta uang pada pria lalu ditindas dengan semena-mena." Ariana mengucapkannya dengan berapi-api.
"Apakah kau sedang menyindirku?"
"Ya, aku tidak ingin mempunyai suami yang melakukan seperti yang pernah kau lakukan padaku. Aku begitu trauma dengan apa yang pernah kau lakukan."
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, percayalah."
__ADS_1
"Aku hanya ingin bukti bukan kata-kata," kata Ariana.
"Apakah setelah ini kau masih akan terus mengejar cita-citamu itu? Aku punya uang lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu."
"Aku hanya ingin melanjutkan studyku hingga lulus. Sayang tinggal dua semester lagi."
"Kalau begitu setelah masalah kita dengan Ayahmu selesai kita kembali lagi kemari untuk meneruskan sekolahmu hingga lulus."
"Apakah kau tidak keberatan?" tanya Ariana.
"Untuk apa? Pendidikan itu penting."
"Apakah setelah itu kau akan memperbolehkan ku bekerja?" tanya Ariana memastikan sesuatu.
"Sebetulnya aku hanya ingin kau ada di rumah, biar aku saja yang mencari uang. Namun, aku tidak ingin egois. Semua keputusan ada di tanganmu. Jika kau menginginkannya aku tidak akan melarang."
"Sungguh?" tanya Ariana.
"Tentu saja," ucap Mikael lesu, raut wajah Mikael nampak tidak terlalu senang dengan keinginan Ariana.
"Tetapi aku lebih suka jika aku menuruti apa perkataan mu asal kau bisa membelikanku skincare, tas, memberikanku uang belanja lebih dan tidak membentakku lagi. Aku sangat benci dibentak." Ariana tahu betapa Mikael sangat tidak setuju jika dia mengejar karir. Dia takut Ariana akan melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu yang baik untuk anaknya karena alasan pekerjaan atau tugas.
"Aku tidak mengira jika kau itu juga matre," goda Mikael.
"Wanita dikatakan matre jika suami tidak bisa memberikan kebutuhan istrinya."
"Aku tahu itu kewajibanku maka dari itu semua ATM dan tabungan milikku akan kuserahkan padamu. Kau bisa mengatur semuanya dengan baik. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Pintaku cuma satu jadilah istri yang taat pada suaminya."
__ADS_1
"Aku akan taat jika kau jadi imam yang baik untukku tapi jangan pernah bawa makmum lain dalam keluarga kita. Jika kau lakukan kau tidak akan pernah melihatku masuk ke dalam hidupmu lagi.''
"Untuk itu aku serahkan semua yang kumiliki untukmu agar kau tahu jika aku ini hanya milikmu sampai kapan pun."