
Ariana memegang tangan kedua tangan kakaknya.
"Kita harus bicara," ujarnya.
"Katakan saja di sini!"
"Tidak, ini masalah kita," ungkap Ariana penuh keyakinan. Elang terdiam. Ariana membawa Elang ke sebuah tempat yang sepi.
"Kak, ini tidak seperti yang kau lihat," ujar Ariana.
"Apa maksudmu?"
"Kami memang telah berbaikan tetapi hanya sebagai sahabat saja tidak lebih," ungkap wanita itu membuat Elang tercengang.
"Aku tidak mengerti," ujar Elang.
"Mana ponselmu," pinta Ariana. Kakaknya langsung menyerahkan ponsel yang tadi ada si saku belakang celananya.
Ariana memencet sebuah nomer. Dia lalu menghubunginya dan akhirnya setelah tiga kali panggilan, sambungan itu berhasil.
"Ini nomer calon suamiku, namanya Adam," ujar Ariana.
"Hallo Adam."
"Hai Na, aku sedang ada di perusahaan ayah untuk mulai bekerja seperti keinginan mu, ada apa kau memanggilku."
"Kakak ingin berkenalan denganmu. Dia tidak percaya jika kau adalah calon suamiku," ucap Ariana menatap kakaknya intens. Wajah Elang terlihat kebingungan.
"Kita pakai sambungan video saja," ujar Adam. "Wow aku gugup," sambungan itu lalu berubah ke panggilan video.
"Assalamualaikum Kak. Perkenalkan namaku adalah Adam Prayoga, masih berstatus sebagai mahasiswa dan jika diijinkan aku ingin menikah dengan adikmu," kata Adam cepat dan gugup.
Elang menahan nafasnya, merasa lega melihat pria yang bersama dengan Ariana adalah pria lain bukan Mikael yang terkutuk itu.
"Itu lebih baik dari pada bajingan tengik itu. Jika kau ingin menikahi adikku kau harus langsung datang ke rumah untuk melamarnya. Jika kau ingin bermain-main cepatlah pergi dari hadapan adikku jika tidak ingin kepalamu putus dari tubuh," ancam Elang lalu menutup telephon nya.
"Kau menakutkan," ujar Ariana.
__ADS_1
"Harus, jika dia pria sejati tidak akan takut dengan tantangan ku. Cukup Mikael yang sudah mempermainkanmu tidak akan ada lagi pria lain yang berbuat seperti itu padamu.'
Ariana terdiam. "Adam pria yang baik, Kak.''
"Lalu bagaimana kau bisa bersama pria itu lagi?"
"Ini hanya sandiwara dan kebohongan semata agar Mikael bisa bertemu lagi dengan ibunya yang kemarin sempat koma karena terlalu memikirkannya. Sekarang Ibu Siti sudah baik dan pulang dari rumah sakit jadi aku juga berniat akan kembali besok ke kota. Aku hanya membantunya dan keluarga yang telah menyayangiku ini Kak tidak lebih.'
"Menyayangi apa, mereka itu serigala berbulu domba hati-hati saja. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Jika anaknya saja seperti itu orang tuanya pun akan sama."
"Terserah padamu, hanya saja aku harap kau tahu jika semua ini hanyalah sebuah kebohongan. Aku masih ingat rasa luka yang dia ciptakan, bodoh jika aku memaafkan semuanya dan kembali padanya begitu saja."
"Itu baru adikku. Ya, sudah selesaikan semua masalah ini dan segera urus perceraianmu agar aku tenang. Jangan pernah berhubungan dengannya lagi atau keluarga ini karena akan melukai hati keluarga kita."
"Iya Kak aku tahu itu, hanya saja rahasiakan ini dari semua orang di rumah kita."
"Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia," ujar Elang lalu mengusap lembut rambut Ariana dan berjalan pergi.
Mikael sendiri menunggu mereka dari kejauhan. Elang berjalan melewatinya begitu saja.
"Kak, maafkan aku. Aku hanya ingin memperbaiki segalanya," ucap Mikael membuat langkah Elang terhenti.
"Aku akan mengingat itu, aku akan menceraikannya bila dia menginginkan hal itu."
"Tentu saja, apa yang dia harapkan dari pria pecundang sepertimu. Ariana terlalu baik untuk hidup denganmu!" Elang lalu pergi sebelum emosinya naik lagi dan matanya buta olah amarah.
"Karena terlalu baik hingga membuatku berubah pikiran," ulang Mikael menatap kepergian Elang.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran," kata Ariana tiba-tiba dibelakang Mikael.
"Takdir, aku ingin merubahnya," ucap Mikael berjalan pergi.
"Takdir?" Ariana nampak berpikir. "Apa maksudmu dengan takdir?" tanya Ariana mengejar Mikael dan memegang bahu pria itu.
"Aww, sakit," keluh Mikael. Ariana lantas melepaskan sentuhannya di pegangan Mikael.
"Maaf, aku lupa," ujar Ariana. "Biar aku obati," ungkapnya.
__ADS_1
Mereka lalu menuju ke kamar. Di sana ada Dita yang sedang menangis ditemani oleh Ameena.
"Ayah, aku takut, orang itu memukul Ayah," anak itu merentangkan tangannya.
"Ayah baik-baik saja. Kau lihat ayah masih berdiri tegap."
"Namun, ayah terluka," ucap anak itu melihat luka di wajah tampan sang profesor.
"Ini hanya luka kecil, ibumu akan mengobatinya. Kau jangan khawatir," ujar Mikael.
"Itu sangat menakutkan. Aku sampai gemetaran tadi dah membawa masuk Dita takut dia trauma." Ameena bercerita kejadian tadi.
"Terima kasih Ameena. Bisakah kau membawanya ke bawah untuk makan. Aku ingin membersihkan diri dulu," pinta Mikael menyerahkan Dita kembali pada Ameena.
"Baiklah, dia anak yang menyenangkan dan lucu," ujar Ameena. Tadinya dia tidak respek karena itu adalah anak dari wanita yang membuat keluarganya hancur. Namun, melihat Ariana menyayangi Dita, dia jadi ikut mendekatinya.
"Kau memang adikku yang paling pengertian."
"Dan paling cantik. Kalau aku masih sendiri aku akan meminta hadiah padamu," kata Ameena.
"Kau mau minta apa biar aku belikan," ujar Mikael.
"Aku ingin kau membelikanku tas merk C dan C tapi takut kakak ipar marah karena dia juga pakai tas biasa," ledek Ameena ingin melihat reaksi Ariana.
"Aku tidak suka barang begituan tetapi jika kakakmu ingin membelikanmu, itu bukan urusanku karena itu adalah kewajibannya untuk membuat bahagia adiknya juga. Lagipula kemarin ketika kau menikah Mikael tidak datang kan? Mungkin bisa jadi hadiah ulang tahun."
"Wah, kau tidak marah? Kalau begitu Kakak harus membelikan tas itu," ujar Ameena bersemangat. Padahal dia tadi bercanda ternyata Ariana malah mendukungnya dan itu sebuah kesempatan langka.
"Kau pilih saja dan nanti aku akan mentransfer uang untuk membelinya," ungkap Mikael. Ameena lantas pergi dari kamar itu meninggalkan Ariana dan Mikael berdua.
"Buka bajumu biar aku bersihkan dan obati," kata Ariana yang merasa bersalah karena Mikael terluka sebab dipukuli kakaknya.
Mikael membuka bajunya. Ariana mendekat dan meletakkan baskom berisi air hangat dan handuk di sebelah mereka. Serta salep untuk luka itu.
Ariana gugup karena ini pertama kalinya mereka dalam keadaan sangat dekat dan berdua. Sebelum ini selalu ada Dita jadi dua tidak begitu canggung. Lagipula Mikael tidak pernah memancing sesuatu yang mengarah pada hubungan intim.
Mikael mulai melepas kancing bajunya satu persatu membuat nafas Ariana terhenti karena memandangi tubuh indah pria itu dari dekat. Handuk basah di tangannya dia pegang erat. Dengan tangan gemetar Ariana menempelkan handuk itu di luka Mikael.
__ADS_1
Pria itu menatapnya dengan intens membuat Ariana makin gugup. Tiba-tiba cup bibir Mikael menyentuh kulitnya.