Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Melamar


__ADS_3

Mikael duduk di bawah pohon rindang itu dengan pelan dan hati-hati. Tulang tubuhnya seperti telah remuk semua, sendi-sendi terasa nyeri dan beberapa luka memar dan memerah terasa perih dan sakit. Dia membiarkan semua rasa itu, menikmatinya walau terkadang menyeringai dan meringis ketika terasa pegal dan nyeri.


Dia lalu melihat sekitar rumah itu. Tidak ada yang berubah. Melihat ke arah kamar Raina dan menatap wanita itu dari kejauhan. Jendela kamar tertutup rapat, mungkin Ayah Ariana yang menyuruh orangnya untuk menutup rapat jendelanya terbukti ada suara kayu yang beradu dengan palu dari arah sana.


Mikael menyandarkan tubuhnya di pohon Mangga yang tengah berbuah. Semilir angin membuat kelopak mata Mikael berat, dia menahannya tetapi lama-kelamaan dia memejamkan matanya dan tertidur.


Dia terbangun ketika mendengar suara mobil masuk ke pelataran rumah. Elang turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Mikael.


"Bapak Dosen, sedang duduk seperti pengemis di depan rumah ini. Untuk apa? Untuk mendulang simpati? Tidak akan pernah. Keluarga kami tidak akan membiarkanmu masuk menjadi bagian keluarga kami," ujar Elang bermaksud mengejek Mikael. Namun, lawan bicaranya terlihat santai saja seperti tidak mendengarkan ucapan pria itu.


"Aku senang kau tetap berada di sini sehingga bisa menyaksikan jik Ariana akan dilamar seorang pria besok. Nikmati harimu dan aku juga akan menikmati saat itu. Aku bahagia telah melakukan hal benar pada adikku untuk memisahkan kau dengan dia karena kau terlalu buruk untuknya! Entahlah sejauh mungkin dari sini karena kau tidak akan pernah punya kesempatan di rumah ini."


"Apakah Ariana akan menyutujuinya?" tanya Mikael.


"Setuju atau tidak setuju, dia tetap akan menikah dengannya. Lagi pula pria ini pilihannya sendiri," kata Elang, membuat Mikael menengadah untuk bisa melihat apakah pria ini serius dengan perkataannya. Elang lalu berjalan memutari tubuh Mikael.


"Kau mengenalnya ... .'' Mikael mulai menebak. "Kekasih sekaligus temannya selama ini, Adam." Mikael menghela nafas lega. Bukan pria yang pantas untuk bersaing dengannya.


"Kak, kau boleh mengatakan atau melakukan apapun. Aku tidak akan menceraikan Ariana sampai kapan pun."


"Surat cerai sedang diurus oleh pengacara kami."


"Jika memang kami berjodoh walau seluruh gunung berguncang dan ombak lautan menghantam untuk memisahkan, kami pasti akan tetap bersama."


"Kau!" tunjuk Elang kesal.


"Kau belum mengenal cinta, jika iya sudah ada di hati dua insan manusia, mereka akan selalu bertahan dengan cinta itu walau nyawa jadi taruhannya."


"Pertanyaannya adalah apakah kau benar-benar mencintai adikku?" ejek Elang.


"Cinta pria tidak perlu ucapkan karena mereka akan melakukan pembuktian bukan hanya kata-kata."

__ADS_1


"Kalau begitu buktikan agar aku yakin kau memang mencintainya bukan mempermainkannya!" tegas Elang memasukkan dua tangan ke dalam saku celana.


Mikael menghela nafas melihat kepergian Elang. Panasnya udara di tengah terik matahari membuat Mikael gerah.


Ting... Ting ... Ting ... pedagang es cau keliling lewat di depan rumah Sanjaya. Rasa haus mulai melanda pria itu, dia lalu memanggil tukang cincau itu dan memesan es. Namun, dua orang penjaga rumah mendekat ke arah mereka.


Penjaga itu membuang sebungkus Es yang akan diberikan kepada Elang.


"Eh, kau dilarang menjual es itu pada pria ini. Cepat pergi dari tempat ini sebelum gerobakanmu kami tendang hingga daganganmu tumpah semua," usir pedagang itu memukul gerobak dagangan pedagang es cincau.


"Jangan seperti itu pada pedagang kecil. Jika kalian memang melarang aku membeli makanan dan minuman di sini, aku tidak akan melakukannya. Namun, jangan bawa orang lain dalam masalah ini." Mikael mengatakannya dengan halus. Namun, salah satu dari mereka malah mendorong tubuh Mikael.


"Jika kau memang tidak ingin melibatkan orang lain dalam urusan ini maka pergilah sehingga hidup kami kembali damai. Kau datang hanya membuat masalah saja, entah dulu dan sekarang. Selalu saja merugikan keluarga ini."


Mikael hanya bisa menghela nafas dan tersenyum. Dengan langkah di seret dia kembali masuk ke dalam mobil yang dia parkir di depan rumah. Mengambil sebotol air mineral dan membersihkan serta mengobati luka dengan obat. Dia lalu merebahkan diri di mobil.


Dia diam, di tempat itu untuk beberapa jam hingga terdengar suara adzan Ashar. Mikael mengikuti arah suara adzan itu. Dia tadi melewatkan sholat Dzuhur dan niat akan menggantinya.


Ariana yang mendengar dari balik tembok, merasa sedih tetapi sedikit lega karena Mikael bisa mendapatkan perawatan setelah dipukul oleh kakaknya. Luka dari Kak Elang saja belum hilang kini tambah Kak Bayu. Dia menghela nafas.


Namun, jika dia pergi apakah hanya sebesar itu pengorbanannya? Pertanyaan yang lain mulai muncul membuat pikirannya kacau.


"Apa mobilnya masih ada?" tanya Sanjaya.


"Ada Tuan," jawab penjaga itu cepat.


"Bodoh!" Sanjaya lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.


Dua penjaga itu saling berpandangan.


"Aku bilang apa? Dia pasti hanya akan keluar sebentar," debat keduanya.

__ADS_1


"Aku kira sudah akan menyerah."


Ariana yang mendengar menghela nafas lega. Dia lalu kembali melihat keluar jendela melalui celah. Jendelanya sudah ditutup oleh papan kayu membentuk menyilang.


Dia menunggu Mikael kembali lagi. Lama dia duduk namun pria itu tidak kunjung kembali. Hingga dia merasa putus asa, takut yang dikatakan penjaga itu benar.


Dadanya kembali berdegup kencang ketika melihat langkah Mikael yang setengah diseret masuk ke halaman rumah itu. Ariana masih bisa melihat jelas wajah Mikael yang babak belur dari lantai dua kamarnya. Sebuah senyuman menghampiri ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Mikael yang sedang melihat ke arah kamarnya. Pria itu tersenyum padanya seolah mengatakan "Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir. ''


Ariana meletakkan satu tangannya di kaca, ingin sekali dia menyentuh pria itu. Baru saja berpisah dua malam tetapi serasa berpisah lebih dari enam tahun yang dia lalui sendiri tanpa pria itu.


Pria itu akan pergi ketika masa sholat dan kembali setelahnya. Ariana berdiri saja di dekat jendela hingga Kak Elang masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa? Kau khawatir padanya?" tanya Elang.


"Dia suamiku, bagaimana aku tidak khawatir?"


"Aku geli dengan kata 'Suamiku'. Dari mana kau sebut dia suami? Dia bahkan tidak menafkahiku lahir batin dari awal kalian menikah. Jika sekarang iya karena kebodohanmu."


"Kak, kau tidak mengerti apa itu cinta. Asal kakak tahu, aku mencintainya jauh sebelum dari kami menikah. Walau dia tidak akan hal itu. Aku mencoba menyingkirkannya dari pikiran dan hidupku selama ini tetapi tidak bisa. Dia tetap memenuhi mimpi dan hatiku."


"Cinta apa yang sedang kau bicarakan itu Ariana. Itu hanya cinta monyet yang bisa hilang kapan saja." Elang memang dekat dengan Ariana jadi dia yang paling tahu tentang perasaan adiknya itu.


"Kau bisa saja mengejek pikiranku tapi jangan cintaku karena itu murni dari dalam hatiku sendiri. Aku bahkan tidak bisa membunuhnya walau dia menyakitiku dengan begitu sangat. Apalagi merubah hal itu menjadi suatu kebencian."


"Aku tidak tahu jalan pikiranmu, Dek. Yang aku tahu besok Adam dan keluarganya akan datang kemari. Dia sudah menelfon Kakak tadi memberi kabar baik ini."


"Untuk apa?"


"Untuk melamarmu, masa untuk mampir dan sekedar bermain."


"Melamar wanita yang sudah menikah?"

__ADS_1


"Aku juga lupa mengatakan jika berkas ceraimu sudah jadi, tinggal kau tandatangani."


__ADS_2