
"Apa kali ini kita akan....?" Ariana memberikan isyarat dengan menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Akan apa... ?" Mikael pura-pura bodoh, tidak mengerti.
"Ish, kau itu menyebalkan." Ariana lalu berbaring membelakangi Mikael.
"Kau itu kenapa? Ku tanya malah marah dan kesal?" Mikael menahan tawanya setengah mati. "Ya, sudah kita tidur saja kalau begitu."
Lampu duduk dimatikan oleh pria itu. Dia lalu menarik selimutnya. Sedangkan Ariana bukannya tenang malah semakin gelisah. Berkali-kali Mikael mendengar hembusan nafas berat dari wanita itu.
Dia lalu membalikkan tubuh dan memeluk Ariana dari belakang.
"Kita memang tidur bersama tetapi aku sudah berjanji pada Bapak Makmur Sanjaya untuk tidak menyentuhmu sampai beliau mengijinkan." Dia membelai rambut wanita itu.
"Kau tahu seorang pria itu sangat berat untuk menahan birahinya tetapi seorang pria sejati tidak akan melanggar janjinya."
Mulai terdengar Isak tangis dari Ariana.
Mikael menyalakan lagi lampu duduk dan melongok ke depan untuk melihat wajah istrinya. Ariana menutup wajahnya diantar bantal-bantal.
"Hei, kau menangis."
"Pergilah jika kau hanya ingin mempermainkan aku! Bersamamu membuatku tersiksa." Tangisnya semakin keras seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
"Ya, sudah aku pergi," ledek Mikael mengambil bantal guling dan hendak turun dari tempat tidur.
Ariana lalu membalikkan tubuhnya dan memegang tangan pria itu.
"Kok pergi!" katanya dengan wajah memerah dan basah.
"Katanya suruh pergi," kata Mikael merenggangkan tangannya. Ariana lalu masuk dalam pelukannya.
__ADS_1
"Cup ... cup ... sudah jangan menangis lagi." Mikael menepuk kepala Ariana.
"Aku sangat rindu padamu," kata Ariana.
"Kita kan selalu bertemu," ujarnya menganggap Ariana sangat lucu ketika sedang merajuk. Sesuatu yang baru pernah Mikael lihat dari sosok wanita itu. Dia ternyata sangat manja di balik semua ketegarannya.
Ariana memukul pelan dada pria itu.
"Kau tahu, aku sangat takut menciummu, takut jika tidak bisa mengendalikan keinginanku yang lain." Ariana menengadahkan wajah menatap suaminya dengan penuh cinta.
Posisinya kini sedang duduk di atas paha Mikael sehingga bisa merasakan benda keras di balik kain katun yang sedang bergerak.
"Kau bisa merasakannya?" Ariana hanya tersenyum geli dan malu. Dia yang seperti wanita murahan yang mengejar seorang lelaki.
"Jadi keinginanku itu lebih besar dari pada keinginanmu karena itu aku hanya ingin bantuanmu untuk bisa meredakannya."
"Bagaimana? Apakah dengan mulut?" tanya Ariana dengan wajah polosnya dan mendapat sentilan di dahi. Dia mengusapnya pelan.
"Tidak, mana aku berani. Bukan ding mana aku mau dengan pria yang bukan suamiku. Aku hanya melihat itu di laptop... he... he... bersama teman-teman."
"Kau nakal!"
"Itukan pelajaran juga," ujar Ariana. "Sebelum bertarung di medan pertempuran sebenarnya."
Mikael tertawa keras. "Jadi kau sudah bersiap karena sudah dapat ilmunya."
"Ilmu itu akan hilang ketika pikiran telah dipenuhi oleh...." Ariana tersenyum nakal.
"Oleh apa?" tanya Mikael. Bukannya menjawab Ariana malah berbaring sembari menutup wajahnya.
"Anak nakal. Aku ingin tahu dan merasakan apa yang kau pelajari dari video itu," kata Mikael lagi.
__ADS_1
"Sudah jangan bahas ini lagi. Aku malu. Lagi pula kau itu profesornya tentu saja lebih tahu dan berpengalaman. Seharusnya kau yang mengajariku lebih..." kata Ariana tanpa membuka selimutnya.
"Baiklah, jika saatnya tiba aku akan mengajarimu tentang hal ini. Tetapi janjilah kau jangan melihat hal itu lagi," ujar Mikael. "Aku tidak ingin kau membayangkan pria lain ketika sedang bersamaku." Ariana membuka selimut yang menutup wajahnya
"Aku tidak membayangkan pria lain. Sungguh, kau lebih tampan dan seksi dibanding dengan model itu," jujur Ariana dengan serius.
"Oh, begitu. Mereka juga seksi dan tampan?" Ariana menggigit bibirnya karena kehilangan kata-kata. Dia seperti pencuri yang sedang ketahuan mencuri permen oleh Ayahnya.
"Tapi kau jauh lebih tampan... sudah ya sebaiknya kita tidur." Ariana lalu membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata.
"Aku tidak tahu jika dibalik muka polosmu itu ternyata...," kata-kata Mikael terhenti ketika Ariana mulai membuka dress-nya. Dia menelan air ludahnya dengan sulit dan menahan nafas.
"Jika kau tidak berhenti mengatakan hal itu aku akan membuka semua bajuku sekarang!" ancam wanita itu.
"Tidak... tidak," Mikael menurunkan baju itu dari kepala Ariana. "Kau pakai saja. Aku tidak akan bisa menahan diriku jika kau seperti itu."
"Apa sebaiknya aku pindah kamar saja. Ruangan sudah mulai terasa panas," gumam Mikael.
"Jika kau keluar dari kamar ini, maka aku akan tidur saja dengan Dita. Setelah itu aku tidak akan menemanimu tidur lagi!"
"Baiklah, aku tidak akan pergi. Kau tidur saja lagi. Ini ujian terberat dalam hidupku."
Mereka lalu berbaring dengan melihat ke arah langit-langit kamar. Berusaha meredam perasaan masing-masing yang tertahan oleh sebuah janji yang berat dan menyiksa.
"Sekarang tolong bantu aku untuk melalui semua ini dengan baik. Satu hal lagi, aku ingin kau jujur pada Ayahmu jika kau tidak sedang hamil karena aku seperti menanggung dosa dengan kebohonganmu itu."
"Kalau Ayah marah bagaimana?" Ariana memainkan jarinya.
***
Maaf Ya... dua hari kemarin othornya sedang sakit jadi g bisa up... sekarang udah baikan cuma masih belum maksimal. Tim penyemangat Mikael mana nih...
__ADS_1