
"Maksudku bukan aku tidak menyukai Dita hanya saja aku tidak ingin dia menjadi terbiasa dan tergantung padaku yang bukan apa-apanya." Raina menatap lekat Mikael.
"Kau istriku dan kau ibunya," jawab Mikael tetapi hanya dalam hati.
"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk melakukan apa yang kau mau. Semua yang kita lakukan tanpa paksaan walau awalnya aku memaksamu untuk mengantarku ke kampung."
Mikael mundur dan mengangkat kedua tangannya. "Maaf jika apa yang kulakukan membuatmu tidak nyaman. Namun, aku melakukannya dengan refleks saja. Jika itu menurutmu adalah hanya sebuah nafsu semata, ku jawab 'Ya', aku pria dan di depanku ada wanita cantik yang sudah halal. Tergoda tentu saja...." Mikael lalu berjalan santai meninggalkan Ariana.
Wanita itu hanya tertegun mendengarkan ucapan pria itu. Halal, tergoda. Ariana menggelengkan kepalanya.
"Tunggu kita belum selesai bicara."
"Aku sudah selesai. Jika kau mau pergi silahkan. Jika kau rindu ingin kembali, pulanglah," ucap Mikael pergi ke ruang makan mendekati Dita.
Ariana tidak ingin jawaban seperti itu. Dia ingin Mikael marah, membentaknya atau mengatakan menginginkannya. Sepertinya tidak mungkin. Pria itu terlalu angkuh dan dia tidak mau mengejar pria yang telah membuangnya dahulu.
"Ibu mau pergi?" tanya Dita ketika Ariana meletakkan tasnya di lantai.
"Aku harus kembali ke tempat tinggalku," ujar Ariana.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja?"
"Dia tidak ingin tinggal di sini dan tidak ingin dipanggil Ibu, Dita," celetuk Mikael. Raut wajah Dita langsung berubah. Matanya yang lebar dan terbiasa terlihat ceria berubah menjadi berembun. Anak itu tidak ingin mengatakan apapun tetapi hanya menunduk. Dia meletakkan sendoknya di meja lalu turun dari kursinya dan berjalan naik ke atas kamar. Raina mengamati setiap tingkah laku anak itu.
"Di-dia kenapa?" tanya Ariana cemas dan merasa bersalah.
"Kau yang inginkan itu kan. Jangan khawatir aku akan mengatasinya. Kau sebelumnya tidak ada diantara kami dan jika kau pergi seharusnya bukan masalah untuk kami. Pergilah!" Mikael lalu mengambil susu Dita dan berjalan naik ke atas mengikuti anak itu.
Dita sedang duduk sembari menutup wajahnya di bantal. Mikael masuk ke dalam kamarnya.
"Hai Cantik, kenapa kau menangis?'' tanya Mikael tidak tega melihat anaknya sedih. Dia menyentuh punggung Dita dan mengusapnya perlahan. Tubuh Dita bergetar terdengar Isak kecil yang tertahan bantal.
"Sayang, katakan pada Ayah apa yang kau rasakan. Jangan diam saja jika tidak Ayah ikut menangis."
__ADS_1
Dita lalu bangkit dan duduk menghadap Ayahnya. Anak itu mengusap air matanya.
"Ayah, apakah aku anak nakal?'' tanya Dita terisak.
"Tidak Sayang kau anak yang penurut." Mikael mengusap air mata anaknya.
"Apakah aku menyebalkan?'' cicit Dita dengan pupil bergetar layaknya seekor kelinci yang lemah.
"Kau anak yang lucu dan menyenangkan."
"Jika aku menyenangkan, mengapa semua orang tidak menyukaiku.''
"Siapa bilang?" tanya Mikael.
"Kemarin ke rumah Kakek dan Nenek hanya Kakek yang mengajakku bermain, itu juga sebentar. Nenek tidak memelukku, hanya Bibi Ameena yang menyayangiku," ungkap Dita. Membuat Mikael terkejut rupanya anak itu bisa merasakan perlakuan keluarganya.
Mikael memeluknya. "Ibu ku pergi, jarang datang. Lalu datang ibu baru dan dia juga pergi lagi, aku tidak boleh memanggilnya Ibu." Tangis Dita dalam pelukan Ayahnya. Mikael hanya bisa terdiam tidak mengatakan apapun.
"Ada ayah yang akan selalu berada di sisimu," ungkap Mikael.
Dia memeluk Dita dengan erat.
"Maafkan Ayah, Sayang. Semua ini terjadi karena Ayah yang melakukan perbuatan tidak benar dan kau yang harus menanggung akibatnya."
Ariana menguping pembicaraan Ayah dan anak itu dari balik tembok. Dia hanya bisa mengusap titik air mata yang sempat keluar. Hatinya mulai goyah dan dilema dengan semua yang terjadi.
Setelah membujuk lama Dita akhirnya anak itu mau pergi ke sekolahnya. Mikael lalu menggendongnya ke mobil. Dia terkejut menatap, Ariana yang sedang duduk di meja sembari menenteng tasnya yang kecil. Kemana tas besarnya?
Melihat Ariana Dita malah menyembunyikan wajahnya di leher Mikael dan mengeratkan pelukannya. Ariana bangkit.
"Aku sudah menunggu kalian sangat lama, kuliahku akan terlambat nanti dan Pak Profesor akan mengusirku dari kelasnya. Ariana menyampirkan tas di bahunya dan memegang map berisi tugas yang diselesaikan oleh Mikael. Pria itu yang memberi tugas, dia pula yang merampungkannya.
Mereka lalu berjalan ke bagasi mobil. Masuk ke dalam mobil sedan hitam.
__ADS_1
"Kau ikut aku saja biar, Ayahmu mengemudi," ucap Ariana.
Dita terlihat ragu, dia menatap wajah ayahnya terlebih dahulu. Mikael menganggukkan kepalanya. Tangan Dita lalu terulur pada Ariana dan wanita itu lantas memeluknya dan masuk ke dalam kursi depan penumpang.
"I.. Tan.. tidak marah?" tanya Dita memberanikan diri ketika mobil mulai berjalan meninggalkan rumah.
"Kenapa aku harus marah pada anak semanis dirimu," ujar Ariana.
"Ehm, Tan-te jadi mau pergi," ujar Dita sedikit takut.
"Aku memang akan pergi. Ke kampus bersama dengan Ayahmu," jawab Ariana menatap mata kecil yang nampak terkejut tetapi nampak lega.
"Ibu ... eh Tante nanti akan pulang ke rumah lagi?" tanya Dita. Ariana terdiam menatap mata polos milik Dita. Dia seperti melihat dirinya yang ketakutan karena kehilangan almarhum ibunya dulu.
"Kau ingin aku tinggal atau pergi?'' balik Ariana.
"Aku ingin I ... Tante ada di rumah bersamaku," Dita memeluk leher Ariana erat. Ada perasaan hangat ketika Dita memeluknya. Merasakan jika anak itu sangat membutuhkan dirinya.
"Kalau begitu aku akan tinggal sementara waktu," ucap Ariana.
"Kenapa tidak selamanya?"
"Karena aku akan menikah dengan seorang pria?"
"Seorang pangeran?" imajinasi Dita mulai bergerak.
"Ya, pangeran tampan."
"Bukannya kalau ibu dan ayah itu adalah putri dan pangeran yang sudah menikah dan punya anak, seperti dalam cerita dongeng yang ayah bacakan?" tanya Dita membuat Ariana terdiam. Anak ini memang menuruni otak ayahnya yang cerdas.
"Pernikahan itu hanya ada dalam cerita saja atau dongeng pada kenyatannya sang putri hidup sendiri dan butuh seorang pangeran yang menemaninya." Mikael melirik ke arah Ariana. Sedikit banyak dia merasa lega Ariana mengurungkan niat untuk pergi sekarang.
"Kenapa Sang Putri tidak pergi saja ke rumah Raja dan tinggal bersama anaknya?'' celetuk Mikael membuat dua wanita itu menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, putri itu akan punya teman dan jadi ratu yang cantik," lanjut Dita membuat Ariana terjebak dalam jawabannya sendiri.