
Ariana seperti ingin lari dari tempat itu secepatnya tetapi dia tidak punya daya untuk melakukannya. Yang bisa dilakukannya hanya menunduk dan menampilkan muka bersalah walau dia merasa apa yang dia lakukan ya benar.
"Jika kau merasa tersinggung dengan tulisan di catatan itu aku minta maaf," ucap Ariana menunggu kalimat pedas apalagi yang akan dilontarkan oleh dosen ini.
"Namun, jika kau baca lagi, kau bisa mengambil kebenaran dari kata-kata itu."
Mikael mencondongkan tubuhnya ke depan serta menumpu kedua tangan di meja. Kepalanya di miringkan ke samping kanan.
"Maksudmu?"
"Kembalilah pulang, ibumu membutuhkanmu ada di sisinya," ucap Ariana memberanikan diri.
Brak!
Mikael menggebrak meja kayu dengan kedua tangannya dan tubuhnya di sandarkan ke kursi kebesaran. Kursi itu dia gerakkan ke samping kanan dan samping kiri.
"Aku tahu, aku jauh lebih muda darimu dan belum berpengalaman pula. Namun, aku tahu bagaimana sedihnya seorang ibu jika terpisah jauh dari anaknya. Apalagi itu kau, yang merupakan anak kebanggaannya dan anak kesayangannya," lanjut Ariana.
"Matilah aku, habis ini tamat riwayatku di universitas ini," celoteh Ariana dalam hati.
Sebetulnya dia tidak ingin ikut campur dengan masalah ini hanya saja hal ini berkaitan langsung dengannya.
"Masih ada lagi?" tanya Mikael dengan wajah menahan amarah.
"Jika kau pulang, aku bisa mengurus surat pernikahan dengan mudah. Aku ingin memiliki kehidupan baru yang lebih baik dari kemarin tanpa namamu lagi yang berkaitan denganku!" tegas Ariana.
Wanita itu tidak menyangka jika dia bisa mengatakan hal itu dengan baik dan berani. Menyingkirkan semua ketakutan yang ada dalam benak.
"Kau belum mengajukan surat perceraian?" tanya Mikael tidak percaya.
"Kau jangan berpikir salah. Aku belum melakukannya karena itu sangat merepotkan dan aku belum punya pria yang tepat yang akan mendampingi hidupku ke depannya. Namun, saat ini aku sudah punya pria yang bertanggung jawab serta mencintaiku. Aku ingin mengurus perceraian ku karena ingin menjalin hubungan serius dengannya yaitu dengan menikahinya."
__ADS_1
"Aku mengerti, aku hanya tidak menyangka hubungan kita masih seperti dulu," ujar Mikael.
"Hubungan yang mana? Kita tidak pernah punya hubungan sebelumnya. Kau tidak mengakui pernikahanmu kau bahkan... , akh sudahlah. Hal itu membuat luka lama terbuka kembali." Ariana melipat tangan di dada seperti ingin melindungi dirinya.
Mereka lalu terdiam sejenak.
"Jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi, sebaiknya aku pergi sekarang." Ariana mulai bangkit.
"Tunggu, aku punya satu tawaran untukmu!" ucap Adry. Membuat wajah cantik itu menyatukan kedua alisnya sehingga terlihat garis-garis halus diantaranya.
"Tawaran?"
"Duduklah dulu lagi!" kata Mikael berdiri merapikan bajunya. Dia lalu memutar meja dan duduk di pinggir meja sebelah kursi Ariana.
"Tawaran yang akan mempermudah langkahmu disini." Ariana memicingkan matanya menangkap ada sesuatu yang janggal disini. Dia pikir Profesor ini sedang merencanakan sesuatu yang akan membawanya dalam masalah. Dia meyakini hal itu karena selama mengenalnya dia telah membawa masalah berat untuknya selama ini.
Sebuah senyum tipis dan nyaris tidak terlihat tersemat di bibir tebal pria itu.
"Tidak, aku hanya ingin memudahkan dirimu untuk mendapatkan nilai bagus di universitas ini hingga kau lulus."
"Ha... ha... ha ... kau baik sekali, tetapi itu semua tidak gratis kan?" tanya Ariana.
"Kau sangat pandai," ujar sang profesor menyatukan kedua tangannya di depan. Pria itu menghela nafasnya.
"Aku akan mempermudah proses perceraian kita dan memberikanmu nilai yang bagus serta merekomendasikan hal itu ke dosen lain tetapi dengan satu syarat."
"Apa itu?" tanya Ariana.
"Kau harus membawaku kembali ke keluargaku. Aku hanya ingin menemui ibuku, dia sedang sakit parah. Sayangnya, aku tidak bisa menemani atau sekedar menengoknya walau untuk sesaat. Aku ingin meminta maaf padanya karena telah mengecewakannya."
"Kenapa kau harus menyeretku dalam masalah ini?"
__ADS_1
"Karena hanya kau kunci untuk bisa masuk kembali dalam keluargaku. Ku mohon, jika itu kau lakukan kau bisa meminta apapun dariku," pinta Mikael dengan memelas.
"Pergi kembali ke rumah itu sama saja membawa masalah itu kembali ke dalam hidupku," ujar Ariana.
"Aku tahu karena itu aku akan melakukan apapun untuk hal itu."
"Apapun?" ulang Ariana menatap manik mata cokelat terang milik Mikael mencari sebuah ketulusan dan kejujuran dari kata-katanya.
"Apapun, namun bila kau tidak mau maka aku akan menyulitkan hidupmu," balik Mikael membuat rasa simpatik Ariana menguap seketika.
"Kau belum berubah!" ucapnya bangkit.
"Pikirkan lagi jika kau tidak ingin keluar dari kampus ini dalam waktu singkat!" ancam Mikael.
"Namamu saja seperti malaikat tetapi kata-katamu seperti penghuni neraka!" seru Ariana tertahan.
"Jika aku penghuni neraka maka aku akan membawamu masuk ke sana bersama-sama."
"Aku bukan wanita berumur tujuh belas tahun yang masih bisa kau tindas atau kau bodohi."
"Bagiku kau masih saja gadis kecil yang penuh dengan emosi," ucap Mikael tidak mau kalah.
"Sampai kapan pun aku tidak mau melakukannya!"
"Pikirkan dulu sebelum bertindak, aku adalah dekan di fakultas ini apa yang tidak bisa kulakukan pada mahasiswa seperti dirimu yang sudah lancang memberi quotes sindiran serta hanya duduk melamun di kelas saja!"
"Kau menyebalkan!" ujar Ariana berjalan pergi.
"Waktumu hanya sampai besok untuk mengambil keputusan," seru Mikael sebelum Ariana membuka pintu.
"Baiklah Tuan Sempurna," jawab Ariana kesal. Dia tidak takut lagi dengan Mikael walau tidak ingin jika nilainya turun hanya karena masalah pribadi.
__ADS_1