
Ariana melepaskan genggaman tangan Adam dengan cepat. Namun, wajahnya nampak terlihat santai bahkan menyeringai kecil.
"Kami tidak sedang berpegangan tangan, dia hanya sedang memberikanku obat penghilang nyeri. Maaf, jika itu membuat kesalahan pahaman," jawab Ariana tersenyum cerah.
"Nyeri apa, Na?" seloroh salah satu mahasiswa.
"Nyeri hati, maksudku aku menderita sakit di hati sudah bertahun-tahun," sindir Ariana membuat Mikael mendengus.
"Ya, sudah kalau begitu kau coba terangkan tentang materi ini," perintah Mikael membuat Ariana menurunkan bahunya. Otaknya yang kecil tidak bisa untuk memahami materi. Dia pun tidak tahu mengapa masih bertahan di jurusan ini.
"Sepertinya saya kurang faham, Prof. Profesor kan tahu jika saya tidak mengikuti kuliah selama satu Minggu ini karena ada kepentingan yang sangat mendesak. Jadi saya belum mempelajari materi hari ini, sejujurnya saya belum mengerti walau Profesor sudah terangkan."
Wajah Profesor mulai mengkerut, lalu berubah menjadi dingin di saat yang bersamaan.
"Karena otakmu kecil dan sulit untuk memahami pelajaran sekarang kau duduk di kursi ku. Setelah itu dengar dan lihat apa yang aku terangkan rekam dalam otakmu agar faham!"
Beberapa mahasiswa menahan tawanya bahkan sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Mikael. Adam sendiri menekuk wajahnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Ariana dari keganasan ucapan Mikael.
"Kau dengar ucapanku, Nona A RI A Na. Silahkan duduk di depan dengan baik dan pahami materi hari ini!" seru Profesor Mikael.
Ariana bangkit dengan kesal, dia mengambil barang-barangnya dan berjalan ke depan kelas lalu dengan canggung duduk di kursi Mikael.
"Sepertinya kalian semua akan takut pada Ariana karena dia akan mengawasi kalian semua," celetuk Profesor Mikael membuat tawa keras seluruh mahasiswa yang ada.
Hari itu menjadi hari yang buruk bagi wanita itu dan dia berjanji akan membuat perhitungan dengan Mikael karena telah mempermalukan dia didepan banyak orang.
Mikael sendiri mulai menerangkan materi yang ada. Satu hari ini diisi penuh dengan jamnya dan ini membuat Ariana bertambah jengkel.
"Materi hari ini telah selesai jadi kita akhiri kelasnya. Kalian jangan lupa dengan tugas yang akan di kumpulkan tiga hari lagi. Khusus untuk Ariana tugas dari Bu Endang di mejaku besok jika tidak ingin nilai IP mu turun."
"Baik Pak," jawab Ariana lemah.
__ADS_1
Mikael lalu membereskan barang-barang miliknya di atas meja sementara itu para mahasiswa sudah mulai keluar.
"Aku sepertinya akan pulang terlambat karena ada janji dengan Adam," lirih Ariana lalu berjalan cepat meninggalkan Profesor itu dan berjalan bersama Adam.
***
Setelah kuliah Adam mengajak Ariana untuk makan dan nonton film terbaru. Mereka terlihat bahagia dan tertawa senang. Tidak ada beban di hati Ariana karena merasa bebas dari Mikael.
Dia sendiri tidak tahu mengapa sulit untuk keluar dari rumah itu, padahal disana dia merasa tertekan. Bukan karena sikap Mikael tetapi tertekan oleh perasaannya sendiri.
Dia tidak bisa memaafkan pria itu begitu saja tetapi juga tidak bisa mengabaikannya. Dia ingin membenci Dosen itu tetapi rasa cintanya membuat dia lemah.
Di satu sisi dia menunggu pria itu mengurus perceraian. Di sisi lainnya bertanya apakah dia sanggup? Tidak tahu. Enam tahun tanpanya saja dia tetap mempertahankan pernikahan ini apalagi jika mereka bersama?
Mengharapkan cinta pria itu adalah hal yang mustahil. Dia sudah lelah menunggu dan kini dia lebih memilih untuk mundur. Keluarganya pun tidak mungkin akan merestuinya. Bisa-bisa dia dibunuh oleh ayah dan kakaknya jika tahu saat ini dia hidup bersama Mikael.
Memilih Adam pun bukan solusi yang tepat karena dia belum tahu tentang keluarganya. Apakah mereka akan menerimanya dengan baik. Secara, dia itu janda bukan gadis lagi. Hal itu akan membuat aib bagi keluarga Adam. Dia cukup tahu diri. Lalu apa yang dia lakukan? Mencoba untuk menikmati hidup dan menjalani ketetapan Tuhan yang masih menjadi misteri baginya hingga saat ini.
"Punyaku masih ada," Adam menyerahkan botol itu pada Ariana.
Mereka sedang berada di gedung bioskop melihat film action romantis yang sedang booming. Di depan mereka nampak adegan pria yang sedang merayu pasangannya membuat Adam melirik ke arah Ariana.
Tangannya mulai meremas tangan wanita itu lembut. Wajah Adam mulai mendekat dan bibirnya mulai menyentuh bibir Ariana. Awalnya Ariana terdiam namun bayangan dirinya yang dicium oleh Mikael membuat dia melepaskan tautan bibir itu. Adam terkejut. Tidak biasanya Ariana menolak.
"Maaf!" ucap Ariana merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," kata Adam tetapi menyimpan kekecewaan dalam hati. Mereka lalu meneruskan tontonan itu hingga selesai. Setelah itu Adam mengantarkan Ariana pulang hingga ke depan pintu gerbang.
"Kau tidak mengatakan jika pindah kemari."
"Ehm aku lupa, namun kau sudah tahu bukan."
__ADS_1
"Ini rumahmu?" tanya Adam.
"Bukan rumah kerabat dekat, dia ingin aku menemaninya." Ariana berbohong pada Adam.
"Oh, baguslah, aku lebih tenang jika kau tinggal bersama dengan orang yang mengenalmu. Ini sudah malam sebaiknya aku pulang dulu."
Ariana menganggukkan kepalanya. Adam lalu menunjuk ke arah pipinya. Ariana tersenyum dan mengecup pipi itu berharap Mikael melihatnya. Dia ingin melihat reaksi pria itu akan seperti apa? Marahkah atau cuek saja.
Adam yang dicium di pipi malah menggerakkan wajahnya ke samping sehingga bibir mereka bertemu. Ariana terkejut dan segera memundurkan wajahnya.
"Kau ... ," ucapnya manja.
"Agar bisa kubawa sampai ke mimpi," ujarnya. Adam lalu mulai menancapkan gasnya dan pergi dari tempat itu.
Ariana lalu masuk ke dalam rumah. Ariana merasa lega ketika tidak menemukan seseorang di bawah. Dia mulai menaiki tangga dengan dada yang berdegub kencang. Dia sudah berusaha menenangkan diri tetapi rasa bersalah tetap ada dalam dada. Pergi bersama pria lain dan kembali ke rumah suami. Apa ini? Kenapa hidupnya jadi kacau seperti ini.
"Ibu sudah pulang?" kata Dita melihat Ariana di anak tangga teratas.
"Iya," jawab Ariana melirik ke arah Mikael yang sedang mengetik di komputer. Wajah pria itu terlihat datar saja.
Dita yang sedang bermain lalu berjalan mendekat ke arah Ariana memegang tangannya.
"Kami tadi menunggu Ibu untuk makan namun Ibu tidak pulang-pulang. Jadi aku makan duluan," cerita Dita. Ariana mengangkat satu alisnya ke atas. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan Dita dan merapikan rambut anak itu.
"Maaf, Ibu tadi makan diluar tidak memberitahu kamu. Pasti tadi kamu lapar menungguku pulang."
"Iya tapi sekarang sudah kenyang. Ayah yang belum makan." Ariana menoleh ke arah Mikael yang berhenti mengetik.
"Nanti aku akan ajak Ayah makan. Aku mau membersihkan tubuh dulu." Dita menganggukkan kepalanya.
"Ibu nanti menemaniku tidur kan?" tanya Dita lagi. Ariana tersenyum dan mengangguk. Dita lalu memeluk tubuh Ariana erat.
__ADS_1
"Aku sayang Ibu," katanya. Ariana menelan Salivanya dengan sulit. Ingin dia mengatakan jika dia bukan ibunya dan jangan berharap banyak tetapi sekali lagi. Dia tidak tega untuk mengatakan hal itu. Ariana hanya mengusap kepala Dita lalu melepaskan pelukan itu dan pergi ke kamarnya.