Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Prasangka


__ADS_3

"Ariana hamil?" pekik Siti girang.


"Namun, ada masalah lain. Sepertinya akan sulit untuk membujuk keluarga Sanjaya agar menerima Mikael. Tadi dia dipukuli hingga babak belur." Sadewa lalu menceritakan kejadian itu sedangkan Ameena membawa Dita ke kamarnya agar tidak mendengar perkataan Sadewa.


Keluarga itu menutup mulutnya setelah mendengar cerita Sadewa.


"Lalu bagaimana keadaan Mikael sekarang?" tanya Ibu Siti khawatir.


"Babak belur, tapi tidak apa-apa dia masih berdiri tegap."


"Apakah Mikael akan kembali pulang malam ini?''


"Dari cerita anak buah yang kusuruh untuk mematai keadaan sekitar, katanya Mikael belum akan pulang sebelum bisa membawa Ariana dengan cara baik-baik."


"Nah itu baru gentleman," ujar Pak Sofyan. "Harus mengakui kesalahannya dan menerima konsekwensinya. Biarkan dia membujuk keluarga Sanjaya agar mau menerimanya."


Semua orang menganggukkan kepalanya.


"Jika benar Ariana hamil kita harus merayakannya setelah mereka pulang kembali kemari."


***


Mikael berusaha untuk membaringkan tubuhnya di dalam mobil. Tubuhnya terasa remuk dan perutnya lapar. Air mineral di botolnya pun tinggal separuh. Mikael melihat ke arah pohon mangga yang tadi menjadi tempatnya berteduh.


Buah mangga terlihat masak di pohon itu membuatnya menelan air ludah. Dia lalu mencari makanan di mobil. Siapa tahu ada biskuit atau roti yang masih tersimpan. Akhirnya setelah melihat setiap sudut mobil dia menemukan biskuit milik Dita terselip di antara kursi mobil.


Beberapa nyamuk dengan setia menemaninya tidur. Sehingga dia kerap terganggu oleh suara dan gigitannya. Sepertinya hanya mereka yang mau mendekatinya saat ini. Nasib, nasib.


Dia mulai mengunyahnya sembari menatap ke arah kamar Ariana yang masih terang. Dia menatapnya hingga matanya terpejam karena lelah yang mendera.


Sanjaya sendiri melihat hal itu dari balik jendela di dalam rumah. Terlalu dini untuk memperlihatkan keseriusan Mikael untuk menjalin kembali hubungan dengan Ariana.


Dini hari suasana rumah Sanjaya ramai. Para pekerja sedang memuat hasil bumi ke dalam truk-truk besar dan sebagian lainnya mengecek barang.


Mikael yang baru terpejam beberapa jam terbangun kembali. Menatap jam di tangannya. Baru pukul dua pagi. Dia keluar dari mobil untuk melihat orang-orang itu bekerja.

__ADS_1


Mikael melihat seorang kuli angkut terlihat kewalahan membawa barang di punggungnya. Dengan sigap dia membantu mengangkatnya.


"Sudah, Bang, biarkan saja," kata tukang panggul itu tidak enak. Dia tahu siapa Mikael.


Maikel tetap memegangi keranjang besar berisi semangka di bahu pria tadi. Dalam hatinya dia miris melihat orang bawahan bekerja keras di malam hari demi memberi makan anak dan istri. Padahal tubuhnya kurus dan terlihat sedang tidak sehat karena terbatuk sedari tadi.


Dia kembali melihat ke arah jendela Ariana. Teringat jika dia belum pernah sekalipun memberikan kewajibannya sebagai suami untuk menafkahi wanita itu. Padahal dia punya uang lebih. Dia lebih terlarut dengan ego, untuk tidak menyapa wanita itu seolah mereka tidak pernah saling mengenal.


"Apakah aku bisa bekerja di sini?" tanya Mikael pada mandor di sana. Mandor itu lalu melihat ke arah Sanjaya yang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Sanjaya menganggukkan kepalanya sedikit.


"Baiklah, hanya saja upahnya sedikit." Mikael menyanggupi. Dia mulai mencoba mengangkat beban di punggungnya. Kakinya masih terasa sakit, namun dia tetap bertahan. Hingga akhirnya proses muat barang itu selesai. Mandor mulai membagikan uangnya.


"Ini upahmu, kau lelet dalam membawa barang itu ke truk dan membawa sedikit saja jadi cuma ini uang yang kau peroleh."


Mikael diberi uang dua puluh ribuan satu lembar sepuluh ribuan selembar dan lima ribuan dua lembar. Uangnya pun terlihat lecek dan warnanya pudar. Dia tidak pernah memegang uang yang seperti itu. Miris bekerja di malam hari sampai subuh, hanya diberi uang segitu.


Mikael melihat pria yang ditolongnya tadi beranjak pergi. Dengan sigap dia berlari mendekatinya.


"Pak tunggu," panggil Mikael. Orang itu menoleh dan menunjuk ke dirinya. Mikael mendekat. Dia mengambil tangan pria itu dan memberikan uang itu.


"Tetapi ini uang Anda, Bang," kata pria itu


"Sudah ambil saja, uang ini lebih berguna di tangan Abang." Mata pria itu merebak. Dia terharu. Anaknya saat ini sedang demam di rumah dan dia tidak punya biaya untuk pergi berobat. Uang ini bisa untuk berobat ke bidan desa.


"Terima kasih, Bang Mike," kata pria itu. Mikael tersenyum ternyata pria itu mengenalnya.


"Sudah adzan saya harus ke musholla," kata Mikael. Dia lalu mengambil pakaian bersih dan pergi menuju ke musholla. Setelah itu dia kembali lagi dalam keadaan segar.


Kini giliran para wanita yang sedang sibuk di kediaman Sanjaya. Mereka membersihkan rumah itu. Ada yang menyapu halaman dan ada yang hilir mudik melakukan sesuatu. Mikael duduk di mobil dan mengambil sebotol air mineral yang tadi dia isi dengan air keran musholla. Pantang baginya untuk meminta bantuan pada keluarganya.


Perutnya mulai keroncongan. Dia ingin membeli makanan hanya saja tidak tahu harus membeli dimana. Pintu mobilnya mulai di ketuk perlahan. Mikael yang mulai memejamkan mata membuka kembali mata dan melihat wajah pria yang tadi dia beri uang sedang melongok melalui kaca jendela. Mikael menurunkan kaca jendelanya.


"Bang Mike," pria itu memperlihatkan rantang nasi ditangannya.


"Tidak usah repot-repot. Buat Abang saja," kata Mikael.

__ADS_1


"Ini istri saya yang sudah membuatkan katanya sebagai bentuk ucapan terimakasih. Walau seadanya, saya berharap Abang mau menerimanya."


Mikael merasa terharu dengan niat baik pria itu yang dia tahu namanya adalah Slamet setelah berkenalan. Dia lalu mempersilahkan pria itu masuk ke mobil lewat pintu satunya.


Dia lalu membuka isi rantang itu. Sayur tempe dan ikan goreng. Makanan sederhana namun terlihat menggiurkan di tengah rasa lapar yang mendera. Mungkin ini cara Tuhan memberinya rejeki dari orang yang sama sekali tidak dia kenal. Seharusnya dia yang memberi bukan pria itu.


Mereka lalu mengobrol sambil makan berkisar tentang pekerjaan pria itu. Jika malam hari dia bekerja di sini jika pagi dia pergi ke ladang. Mikael merasa salut dengan perjuangan Slamet yang harus menafkahi istri dan empat orang anaknya yang masih kecil dan butuh banyak biaya.


Mikael menyantap makanan itu tanpa bersisa, pria itu terlihat berbinar-binar melihatnya. Dia lalu mengemasi rantang itu lagi. Mikael mengambil kopi hangat dari botol plastik bekas minuman kemasan yang diberikan Slamet.


Dia bersendawa setelahnya sembari menepuk perutnya yang kekenyangan.


"Saya mau pamit pergi dulu Bang Mike," kata Slamet.


"Mau ke ladang?"


"Tidak, mau mengantarkan istri dan anak ke tempat bidan."


"Sakit?"


"Iya, dari kemarin badannya panas tinggi tadi malam kata istri saya, si Bagus sampai mengeratkan gigi."


"Harus dibawa ke rumah sakit," kata Mikael.


"Jauh lagipula tidak ada biaya," jawab pria itu hendak keluar mobil tapi tangannya dipegang oleh Mikael.


"Kita bawa ke rumah sakit. Soal biaya jangan khawatir," kata Mikael.


"Tapi Bang... ," kata pria itu keberatan.


"Nyawa anak Bang Slamet itu lebih penting."


Mikael lalu menyalakan mesin mobil. Di saat itu Ariana berdiri melihat mobil Mikael berjalan keluar rumah. Dia memegang jendela.


"Mikael mau pergi kemana? Apakah dia menyerah dan pulang kembali ke rumahnya." Hati Ariana menjadi sedih seketika.

__ADS_1


__ADS_2