Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Rasa Cinta


__ADS_3

"Jika aku tidak mencintainya, untuk apa aku memutuskan untuk menikah dengannya?"


"Mungkin karena dia terpaksa, keluarga Toha suka menjodohkan anggota keluarganya dengan kawan relasinya." Bibir Zahra mengatup rapat ketika mendengarnya. "Seperti Mikael dan Ariana," lanjut Elang.


"Orang tua selalu memikirkan yang terbaik untuk anak mereka. Pada akhirnya anakpun akan menyadarinya," kata Zahra mengambang. Terlihat jelas bahwa kata-kata yang dia ucapkan untuk meyakinkan diri bahwa itu yang terbaik baginya.


"Apa kau mencintainya?" desak Elang lagi tidak puas dengan jawaban yang Zahra berikan.


"Pasti akan mencintainya jika dia menjadi suamiku," jawab Zahra yakin.


"Aku mengerti, kau akan mencintai suamimu siapapun dia, begitu kan?" tanya Elang.


"Harus," jawab Zahra seraya menghela nafas nampak ada beban berat yang menghimpit dadanya.


"Berarti masih ada kesempatan bagiku untuk menikah denganmu?" ujar Elang mulai menyalakan lagi mesin kendaraannya.


Dengan cepat Zahra menoleh ke arahnya. "Tunggu apa maksudmu, kau jangan macam-macam."


"Tidak macam-macam hanya berpikir bagaimana caranya agar kau menikah denganku," kata Elang tertawa kecil penuh kemenangan. Dia yakin jika Zahra tidak mencintai pria itu jadi dia tidak ragu untuk melakukan aksinya. Tentu sebagai pria terhormat bukan dengan cara yang ekstrim walau itu diperlukan jika memang keadaan mendesak.


"Aku tidak akan membiarkan kau melakukannya!" kata Zahra.


Elang terdiam. Wajahnya terlihat fokus ke depan mengendarai mobilnya.


"Aku tahu kau punya sebuah rasa untukku Zahra." Mata Zahra membulat. Bibirnya mengatup rapat.


"Buktinya kau tadi khawatir ketika aku terluka. Kau dengan cepat meninggalkan tunanganmu hanya untuk mengobatiku," lanjut Elang.

__ADS_1


"Itu karena... ," Zahra memikirkan jawaban apa yang tepat untuk ini. "Kemanusiaan, naluri sebagai perawat."


"Kau mungkin ingin berbohong dengan kata-katamu tetapi kau tidak bisa membohongi hatimu."


"Aku tidak ada perasaan apapun denganmu," cicit Zahra tetapi hatinya seperti ingin memberontak terhadap apa yang dikatakannya sendiri.


"Kenapa aku tidak yakin tetapi kita lihat saja nanti," ucap Elang yakin dengan dirinya sendiri.


"Aku Elang, aku melihat sasaranku dan aku harus bisa mendapatkannya." Zahra menatap Elang lekat sehingga tatapan mereka bertemu. Elang tersenyum dengan begitu menarik, membuat hatinya berdetak dengan kencang. Zahra langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Pria ini memang terlihat urakan dan arogan tetapi selama ini dia selalu berbuat sopan pada Zahra, tidak menyentuhnya hanya suka memaksa.


Dia terang-terangan menyatakan cinta layaknya pria sejati. Mengejarnya selama beberapa bulan hingga berhenti ketika tahu bahwa Zahra adalah anggota keluarga Toha.


Kala itu Zahra sempat menunggunya datang dan merasa kehilangan. Darimana itu pikiran itu datang dan dia tidak bisa mengendalikan hatinya. Dia menyakinkan dirinya jika dia harus mencintai calon suaminya tetapi bayangan Elang yang selalu muncul dalam benaknya. Namun, seorang Elang tidak mungkin dia dapatkan. Dia tahu siapa dirinya. Bukan wanita kelas atas yang layak bersanding dengan pria itu. Dia hanya anak yang tidak diakui oleh keluarganya.


Calon suaminya memang mapan tetapi dia hanyalah seorang karyawan keluarga Toha dan Zahra juga tidak yakin jika dia melakukan pernikahan ini dengan tulus. Dia pasti melakukannya untuk kenaikan jabatan atau apalah itu. Di daerah ini siapa yang tidak mau menjadi bagian dari keluarga Toha. Pemilik perusahan tambang di daerah ini dan juga pemilik kebun kelapa sawit serta karet yang sangat luas.


"Kakakmu sudah mulai nyaman di sana," kata Elang. Dia menelan Salivanya dalam-dalam. Semenjak dia tahu, Zahra adalah adik Mikael. Elang tidak pernah semena-mena terhadap Mikael walau dia juga belum sepenuhnya menerimanya di sana.


Namun, dia melihat keseriusan dalam diri Mikael untuk bisa kembali bersama dengan Ariana. Dia banyak belajar dari sana jika cinta itu harus dibuktikan dengan tindakan bukan kata-kata. Mendapat hati keluarga istri juga poin penting agar kehidupan mereka bahagia.


Mendapatkan hati keluarga Zahra? Bagaimana bisa setelah mereka melihat bagaimana tingkah arogan dirinya yang hampir membunuh putra mereka. Kenapa dia dulu menyesali apa yang dia lakukan? Sekarang hal ini berbalik padanya.


"Oh, syukurlah. Aku kira kau masih bertindak kejam padanya. Ingat karma lho!" ungkap Zahra. Kata itu terlihat berefek pada diri Elang wajah pria itu terlihat tidak nyaman.


Wanita itu melihat ke arah jam ditangannya.

__ADS_1


"Ini sudah hampir asar sebaiknya aku pulang. Apakah ada yang masih ada yang ingin dibicarakan lagi?"


"Banyak sekali tetapi aku tidak ingin membuat masalah denganmu atau keluargamu. Aku hanya ingin menegaskan jika aku akan berjuang hingga kau jadi milikku sah!"


"Jangan membuat masalah, aku tidak suka kau membuat keributan ataupun kekerasan lagi."


"Tidak, jika ingin mendapatkan wanita baik harus dengan cara yang baik walau harus dengan sedikit muslihat," Elang tersenyum licik. Zahra manyun tetapi senang dengan perkataan Elang yang blak-blakan.


"Aku harap kau mendoakan aku agar apa yang aku lakukan berhasil."


Zahra menatap Elang.


"Apakah diammu itu menandakan jika kau setuju dengan apa yang akan kulakukan?"


"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Zahra menyandarkan kepalanya di kaca pintu mobil.


"Aku tidak yakin apakah suamiku melakukan ini karena terpaksa juga ataukah dia melakukan ini karena mencintaiku. Aku meyakinkan diriku bahwa apa yang orang tua inginkan itu yang terbaik untukku," ucapnya sedih mengutarakan perasaannya. Hal yang tidak pernah dia lakukan pada siapapun karena dia tidak pernah punya seseorang untuk tempatnya berbagi.


"Sedangkan aku ingin menikah dengan cinta. Pasti menyakitkan menjadi Ariana ketika tahu suaminya ternyata mencintai wanita lain walau dia adalah kakakku tetapi aku tidak membenarkan apa yang dia lakukan. Namun, dia pasti merasa bahagia ketika suaminya memperjuangkannya dengan berbagai cara."


"Kau ingin aku memperjuangkanmu," tanya Elang.


"Jika kau mencintaiku kau harus membuktikannya. Jika tidak siap mundur saja, karena aku tidak suka dengan pria pengecut yang hanya bicara masalah cinta tetapi tidak tahu bagaimana caranya mencintai dan menjaga cintanya." Ada rasa sakit yang terasa ketika Zahra mengatakan hal itu, pandangannya nampak kosong ke depan seperti sedang mengingat sesuatu. Rasa sakit yang Zahra pendam tetapi apa itu Elang pasti akan menyelidikinya. Apakah Zahra pernah mencintai seseorang tetapi dicampakkan atau kah ada hal lain? Hal itu membuat Elang semakin. penasaran


Elang terkejut dengan perkataan Zahra yang seperti mendukung apa yang dia lakukan. Wanita ini perlu pembuktian cintanya.


"Kau tunggu saja apa yang akan kulakukan."

__ADS_1


"Asal kau tahu jika aku hanya anak yang diambil dari panti asuhan dan dipungut menjadi anak angkat keluarga Toha tetapi statusku berbeda dengan anggota keluarga lainnya. Jadi kau jangan berpikir jika aku sama dengan mereka."


"Aku tidak peduli dengan asal usulmu, aku mencintai Zahra yang menyelamatkanku dari kematian, merawatku dengan penuh perhatian dan kesabaran hingga aku sembuh. Kau bisa melakukan itu dengan baik tanpa rasa cinta, apalagi jika kau mencintaiku kau pasti akan melakukan lebih untukku. Kau akan menjadi istri dan ibu yang sempurna untuk anak-anakku kelak."


__ADS_2