Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Sinyal Baik


__ADS_3

"Tanganmu di letakkan di pipi Uni, Lang dan tataplah dengan penuh perasaan dan dalam." Elang mengikuti petunjuk Fahri menyentuh kulit lembut pipi Zahra.


Wajah Zahra nampak merona karena malu. Dia sangat dekat dengan Elang, bahkan sangat dekat karena tubuh mereka saling bersentuhan.


"Tanganmu diletakkan di pinggang Uni, kalau tidak maka terlihat kaku dan tidak alami," intruksi Fahri lagi. Dia hampir menahan tawanya melihat Elang yang begitu kaku dan tegang ketika bersama Zahra. Tidak seperti Elang yang nampak dingin ketika dengan wanita manapun.


"Maaf," kata Elang pelan. Dia memegang pinggang Zahra dengan satu tangannya. Satu tangannya yang lain memegang pipi wanita itu, Zahra sendiri melihat ke arah kamera. Nafas Elang terdengar memburu dan detak jantung mereka sama-sama berdegub dengan kencang.


"Apa kau memang merencanakan ini?" tanya Zahra.


"Sebagian ya, bagaimana aku bisa melihatmu dipeluk oleh pria lain seperti ini. Sumpah mati aku tidak akan rela. Walau harus berkorban nyawa, kau harus tetap menjadi milikku," ujar Elang. Zahra menatap Elang tidak percaya mendengarnya. Pria itu sangat berani melakukan semuanya. Dia tidak takut dengan keluarganya sama sekali.


"Elang, kita tidak mungkin akan," Elang membalikkan tubuh Zahra sehingga memunggunginya lalu memeluk dari belakang meletakkan dagunya di bahu Zahra.


"Bagaimana kalau pose begini, Ri?"


"Bagus, kau tahu bagaimana membuat foto yang indah."


Pose ini membuat tubuh Zahra menegang dan gemetar. Sebelumnya dia memang tidak pernah begitu dekat dengan pria. Apalagi hembusan nafas pria itu menerpa kulit belakang telinganya yang sensitif membuatnya meremang dan merinding.


"Tersenyumlah indah jadikan foto ini menjadi kenangan yang indah untuk awal hubungan kita."


"Hubungan apa? Sebentar lagi aku akan menikah?" ucap Zahra.


"Kau akan menikah denganku. Percayalah. Hanya aku, tidak akan ada pria lainnya."


"Apa kau juga akan menggagalkan pernikahanku?" tanya Zahra.


"Tidak gagal hanya ganti calon suami." Entah mengapa ucapan Elang malah membuat hati Zahra senang. Walau sedikit dia berharap apa yang dikatakan Elang bukan sekedar bualan belaka.


***


Hari berikutnya, Ariana kembali dari Jakarta. Dia membawa banyak sekali oleh-oleh untuk diberikan pada semua orang di rumah.


"Yah, Mike membelikan baju ini untuk Ayah," kata Ariana hati-hati takut Ayah tidak menerimanya. Sanjaya menerima baju itu dan meletakkannya di samping.


"Dia suamimu, Na, seharusnya kau lebih sopan memanggilnya. Dengan tambahan Bang, atau ayahnya Dita. Lagipula rentang usia kalian juga banyak. Apa kau tidak mengajarkan itu pada Ariana Mike?" tanya Sanjaya pada menantunya.


Mikael dan Ariana saling menatap. Apa itu artinya jika hubungan mereka telah direstui padahal dia belum selesai mengajukan proposal ekspor itu.

__ADS_1


"Maaf, Ayah, aku kira tadinya itu tidak masalah tetapi aku suka jika dipanggil Bang atau ayahnya anak." Mike mengatakan itu dengan hati lebar karena bahagia. Dia tersenyum tipis pada Ariana.


"Kak," panggil Ariana ketika Elang lewat.


"Kau sudah pulang, bagus itu," cetus Elang membuat Ariana terkejut.


"Bagus apanya?" Elang lupa hampir keceplosan soal Zahra. Dia senang Ariana akhirnya pulang. Sehingga rencananya akan segera dilakukan.


"Bagus karena akan ada yang memasakkanku," kata Elang.


"Ish, Kakak, aku kira apa." Ariana lalu mengambil satu kotak lain berisi kemeja untuk Elang.


"Ini untukmu, Kak. Dari Ayahnya Dita." Elang menatap ke arah Mikael yang sedang memandangnya penuh harap.


"Terimakasih," Elang mengambilnya.


"Aku harus pergi dulu, ada pekerjaan penting."


"Pekerjaan apa Lang, perasaan dari beberapa hari ini kau selalu keluar dan terlihat sibuk sampai tidak membantu Ayah mengurus pekerjaan ini. Ayah sudah tua dan lelah butuh orang yang akan menggantikan."


"Aku benar-benar sedang ada pekerjaan penting Yah, ini berkaitan dengan masa depanku. Aku akan mengurusnya ketika masalahku selesai. Ayah minta tolong saja pada menantu ayah, dia sudah pulang kan?" kata Elang.


"Sorry, aku harus pergi dulu," kata Elang meninggalkan mereka. "Oh, ya tolong bajunya kau letakkan di kamarku. Hanung sudah menunggu dari tadi diluar."


"Apakah ini berkaitan dengan calon kakak ipar?" tanya Ariana meringis. Elang terdiam melihat ke arah Ayahnya.


"Anggap saja demikian. Doakan, semoga semuanya dimudahkan." Elang lalu berjalan keluar rumah.


"Semoga berhasil, Kak," ucap Ariana melambaikan tangannya.


Ariana membalikkan tubuhnya dan melihat Ayahnya memijat kepala. Dia mendekati sang Ayah.


"Ayah sakit?" tanya Ariana.


"Tidak, hanya sedikit pusing." Ariana memegang dahi ayahnya.


"Mungkin tekanan darah Ayah naik lagi. Sebaiknya kita panggil Dokter." Ariana nampak khawatir melihat wajah pucat Sanjaya.


"Tidak perlu Ayah harus memeriksa buku keuangan penjualan kemarin," kata Sanjaya mencoba berdiri tetapi kepalanya berputar dan akhirnya dia duduk lagi.

__ADS_1


"Ayah!" seru Ariana cemas.


Mikael yang sedang duduk lantas membantu mertuanya itu untuk duduk dengan benar.


"Sebaiknya Paman turuti saran Ariana. Paman ke kamar untuk istirahat dan kita panggil Dokter ke rumah. Urusan penjualan nanti biar aku cek dan akan ku urus."


"Tidak usah kau baru sampai ke rumah," kata Sanjaya.


"Aku baik-baik saja. Paman yang tidak baik-baik saja. Mari saya bantu Paman ke kamar."


Mikael lalu membantu mertuanya ke kamar dan meminta Ariana menelfon Dokter. Dia juga meminta pada pelayan untuk membawakan air putih bagi Sanjaya. Dia memberi obat yang Sanjaya biasa konsumsi untuk mengatasi sakitnya.


"Paman tenang saja semua akan ku urus sebisaku. Paman beristirahat dulu dengan baik."


Tidak lama kemudian, Dokter datang dan memeriksa keadaan Sanjaya.


"Kau cuma butuh istirahat total, tidak boleh berpikir keras."


"Bagaimana tidak berpikir keras. Aku menderita kerugian sebanyak tiga ratus juta karena barang yang dikirim busuk di jalan." Sanjaya memijat kepalanya.


"Kita itu sudah tua. Bekerja boleh tetapi tetap ingat kondisi. Harus banyak istirahat dan tidak boleh tegang."


"Apa yang dikatakan Pak Dokter benar, Yah."


"Lagian punya menantu pintar sesekali harus diandalkan. Elang juga mana? Biasanya dia yang mengurus pekerjaanmu?"


"Dia sedang sibuk dengan urusannya sendiri." Sanjaya memijat kepalanya


"Kalau begitu biar keturunan Toha ini yang akan mengerjakan semuanya. Kau bisa kan?" Pak Dokter itu menepuk pundak Mikael. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.


"InsyaAllah."


"Bagus... bagus ... sekarang percayakan semuanya padanya untuk sementara. Menantu juga seperti anak sendiri, Ya," kata Pak Dokter.


Sanjaya menganggukkan kepala. "Ayah percayakan semua padamu. Sekarang biarkan Ayah istirahat dan usir dokter ini keluar," canda Sanjaya. Dia dan Dokter Te' sudah berteman lama semenjak remaja.


"Kau mengusirku? Seharusnya aku menyuruhmu tinggal di rumah sakit saja, biar aku bisa mengerjaimu," ujar Dokter Te'. Sanjaya paling benci dengan rumah sakit dan baunya.


"Tidak, aku lebih baik di rumah saja. Kau cepatlah pergi, jika tidak ocehanmu membuat kepalaku tambah pening saja."

__ADS_1


"Nampaknya jika Ayahmu itu diberi istri baru, dia akan sehat lagi," ledek Dokter Te'.


__ADS_2