Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Pengorbanan


__ADS_3

"Aku tidak mengenal ibunya jadi untuk apa aku membencinya. Anak ini lahir dari kesalahan orang tuanya dan dia juga punya beban yang sudah dirasakannya dari kecil haruskah aku menambahnya lagi dengan kebencian yang seharusnya kuberikan pada ayahnya karena telah menyakitiku dan semua orang yang berkaitan denganku?"


"Ibu benar, kau memang wanita yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan. Pantas saja kakek memilihmu untuk menjadi istri kakak. Aku rasa kakak akan beruntung memiliki istri seperti dirimu."


"Kalau begitu tanyalah padanya dia merasa beruntung memilikiku atau tidak?" canda Ariana.


"Kak, kau sedang tidak mempermainkan kami kan?"


"Untuk apa aku mempermainkan pernikahan, jika memang tidak cocok berpisah saja daripada bersandiwara bersama."


"Namun, di keluarga kami tidak pernah ada yang bercerai," kata Ameena.


"Kami baru berkomitmen untuk bersama, jadi tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku tidak bisa mengatakan jika kami saling mencintai, nyatanya kami baru bersama beberapa hari ini. Tidak bisa mengatakan jika kami benar-benar bersatu karena tidak tahu kami adalah pasangan yang cocok atau tidak? Tentang perceraian aku serahkan pada kakakmu, dia yang akan mengurusnya jika suatu hari kami tidak menemukan cinta dan kebahagiaan dalam hubungan ini."


"Jadi benar jika kalian baru bersama, aku sudah bisa menebaknya karena terakhir kali aku menelfonnya dia tidak merespon. Jika dia sudah bersamamu pasti dia akan langsung datang kemari," ujar Ameena.


"Kami sudah bersama selama enam bulan ini hanya saja butuh waktu untuk bisa menjalin hubungan lebih dekat. Waktu itu memang aku di sana dan butuh banyak keberanian untuk sampai di sini, kau tahu sendiri situasi keluarga kita tidak mendukung."


Mikael yang mendengar dari balik dinding tembok merasa lega dengan jawaban bijak Ariana. Wanita terlihat lebih dewasa dari umurnya.


"Kenapa kakak tidak mengatakan jika kalian sudah bersama selama beberapa bulan ini?"


"Sudah kubi... ."


"Kalian membicarakan apa?" tanya Mikael yang baru masuk ke dalam kamar itu.


"Aku bertanya jika kalian telah bersama selama enam bulan ini kenapa tidak mengatakannya pada kami. Jika ibu tahu dia pasti akan sangat merasa senang dan bahagia," ungkap Ameena.


"Tidak mudah untuk mendekatinya lagi dan membuatnya memaafkan semua kesalahanku Hingga dia mendengarnya kabar ibu dan bersedia untuk hidup bersamaku lagi," ujar Mikael menatap Ariana.

__ADS_1


"Baguslah Pak Profesor kau berakting dengan sangat bagus sekali."


"Jadi kau menyetujui kebersamaan ini hanya karena Ibu?" tanya Ameena.


"Ya, bukankah sudah kuterangkan tadi jika belum ada cinta pada kami berdua dan kami baru memulai hubungan ini."


"Ya, aku mengerti sekarang. Aku harap kalian tidak membohongi kami dengan kebersamaan kalian yang semu tapi kebersamaan ini adalah awal menuju awal hidup kalian selamanya."


"Doakan saja," ucap Mikael merangkul pundak Ariana. Mata Ariana melirik ke bahunya.


"Selalu, aku mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kalian selalu bersama dan bahagia." Ameena menatap keduanya seraya tersenyum.''Aku senang kalian kembali keluarga ini terutama kau, Kak." Ameena memeluk sepasang suami-istri yang baru bertemu ini.


Ameena setelah itu pergi keluar kamar membiarkan sepasang suami istri ini bersama. Ariana segera melepaskan diri dari pelukan Mikael.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" ujar Ariana kesal.


"Aku hanya ingin membuat mereka yakin." Mendengar jawaban itu membuat Ariana mendengus kesal. Dia sebal jika harus bersentuhan fisik dengan pria itu.


Tatapan mata mereka bertemu di pantulan cermin dan Mikael memutuskannya.


"Kau tidak membersihkan diri dulu sebelum tidur?" tanya Ariana.


"Aku menunggumu selesai." Mikael lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


"Tunggu dulu, apakah kita harus tidur satu tempat tidur?" tanya Ariana ragu. Di kamar ini tidak ada kursi sofa atau kasur lantai.


"Tempat tidurnya cukup besar dan Dita berada di antara kita berdua. Kau akan merasa aman. Kalau tidak mau, kau mau tidur dilantai juga boleh!" ujar Mikael santai tanpa melihat ke arah wanita itu.


Ariana sedang gelisah ketika berbaring di sisi kanan Dita. Di saat itu, Mikael keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai celana kolor selutut. Tubuhnya yang kekar dan berotot terlihat jelas di depan mata Ariana membuat wanita itu terkesiap. Dia seperti melihat model pria tampan yang berjalan ke arahnya. Ariana lalu malu sendiri menurunkan pandangannya ke bantal dan memainkan ujung kain bantal.

__ADS_1


"Di sini ada gadis dan kau mengekspos tubuhmu, kasihan mataku yang masih polos ini kau mengotorinya," bahasa yang Ariana gunakan membuat geli Mikael.


"Aku lupa jika ada gadis. Aku akan memakai kaos walau itu terasa tidak nyaman ketika digunakan ketika tidur."


"Kita lakukan sandiwara ini kurang dari seminggu kan?" tanya Ariana ragu.


"Hmmm, kenapa?"


"Aku takut tertarik padamu." batin Ariana. Dia sadar jika Mikael itu tampan dan menarik. Jantungnya pun berdegub kencang jika dekat-dekat dengannya hingga dia harus memegang dadanya sendiri takut organ penting tubuhnya itu meloncat keluar tiba-tiba.


"Aku masih banyak tugas yang belum ku kerjakan. Kau harus ingat semakin lama kita disini akan membuat masalah semakin pelik."


"Aku tahu. Sekarang tidurlah, ini sudah jam satu pagi."


"Dan keluarga ini bangun jam empat pagi."


"Kau benar." Sejenak mereka terdiam berusaha untuk memejamkan matanya.


"Kau tahu, aku hidup di sini sampai berbulan-bulan hingga keluargaku sadar jika kau telah pergi meninggalkan aku."


Jakun di leher Mikael bergerak naik-turun.


"Mengapa kau bertahan di sini?" akhirnya Mikael memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.


"Aku tidak ingin melihat keluargamu di salahkan akibat perbuatanmu dan aku tidak mau aib keluarga ini terendus keluar rumah."


Ariana padahal saat itu bisa langsung pulang dan mengadukan semuanya tetapi tidak. Dia malah berada di sini menenangkan ibu mertuanya walau hatinya merasa sakit. Bukan sakit karena patah hati tetapi karena harga dirinya diinjak-injak oleh Mikael. Dia menyembunyikannya dengan apik di sudut hatinya yang terdalam. Oleh karena itu, keluarga ini sangat menyayangi serta merasa dekat dengannya.


Hening. Kata-kata Ariana seperti sebuah pukulan besar bagi diri Mikael. Di saat itu dia tidak memikirkan akibat dari perbuatannya. Dia hanya ingin hidup bebas dan bahagia bersama Sheila tanpa tekanan apapun. Dia pergi begitu saja tanpa ada rasa bersalah.

__ADS_1


Sedangkan Ariana, wanita yang dia sakiti malah mengorbankan dirinya untuk menanggung semua akibat yang dilakukan oleh Mikael.


Orang tua memang benar, selalu memikirkan yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja anak nya sering kali tidak mengerti maksud dan tujuan orang tua. Andai waktu bisa diputar kembali. Dia ingin apa? Apakah melanjutkan pernikahannya dengan Ariana? Pertanyaan itu membuatnya ragu sendiri terhadap jalan hidup apa yang akan dia tempuh nantinya ke depan.


__ADS_2