
Ariana langsung ke dapur untuk membuatkan kopi untuk seluruh anggota keluarga dan sarapan sederhana untuk mereka. Kali ini dia akan membuat nasi goreng saja yang cepat. Satu porsi besar yang terasa pedas untuk semua orang dan satu porsi lagi khusus untuk Dita.
Ternyata menjadi seorang istri dan ibu sedikit sulit. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan. Jika di rumah Mikael semua sudah tersedia jadi dia tidak pernah bersusah payah untuk melakukan semuanya dan di rumah mertuanya dia bagaikan seorang ratu tidak diperbolehkan melakukan apapun.
Di sini jika dia tidak menyiapkan keperluan Mikael dia takut pria itu tidak akan terurus. Dita juga tidak ada yang mengurusnya. Walhasil semua pekerjaan itu dia yang menghandle karena tidak ada satu orang pun yang dia minta bantuannya. Tidak enak alias takut dengan Ayahnya. Mikael benar. Sudah diberi kesempatan saja, sudah bersyukur.
Ariana melihat Dita di kamarnya memastikan anak itu masih tertidur lelap. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk mulai memasak. Dia telah memberikan kopi untuk semua orang hanya untuk Mikael dia belum menyerahkannya, menunggu nasi goreng yang mulai dimasaknya matang.
Dia memasak satu wajan penuh sekalian untuk para pekerja yang ada di rumah ini. Mak Ijah istri dari Pak Paryo membantunya meracik bahan yang akan dicampurkan.
"Kenapa tidak membuat untuk keluarga Uni saja?" tanya Mak Ijah.
"Tidak Mak, aku ingin membuat banyak sekalian."
"Yang buat Dita sosisnya ditambah Mak, dia suka itu. Tidak usah pakai suwiran ayam."
Pagi-pagi peluh sudah membasahi tubuh Ariana karena pekerjaan ringan tetapi membutuhkan tenaga lebih untuknya yang tidak terbiasa dengan hal ini. Dia suka memasak tetapi hanya dengan porsi kecil bukan banyak. Mak Ijah untung membantunya memberikan penilaian dan menambahkan bumbu yang bisa membuat masakannya terasa lezat.
Ariana lalu meletakkan nasi goreng itu di meja makan. Mencari Kakaknya. Biasanya dia bangun pagi dan meminum kopinya mengapa tidak ada. Dia lalu melihat ayahnya sedang berbicara dengan tamu di luar sambil meminum kopi buatannya.
Kini tinggal membawakan nasi goreng ini untuk Mikael. Ariana lalu menata nasi itu di sebuah piring dibentuk berikan garnis agar terlihat menarik.
"Wah, cantik sekali, Uni."
Ariana tersenyum. Dia mengangkat nampan berisi nasi goreng spesial untuk suaminya dan juga kopi serta acar timun untuk menemani nasi goreng itu.
"Mak, bisa titip Dita tidak? Aku takut dia tidak tahu kalau aku ada di kamar suamiku. Kalau mendengar Dita bangun atau menangis panggil aku atau antar ke kamar Mike."
"Siap, Uni."
"Semangat melayani suami di hari pertama dia di sini."
__ADS_1
Ariana menganggukkan kepalanya. Berjalan menuju kamar Mikael.
Sedangkan Mikael sedari tadi berbicara dengan Pak Paryo. Dia mulai mengamati sekitarnya. Pak Paryo bercerita jika sebenarnya dia dari Jawa tetapi ikut istrinya tinggal di sini. Kebetulan Tuan Sanjaya merekutnya untuk mengurus kebunnya yang berhektar-hektar lebarnya. Dia setuju akhirnya tinggal di sini. Dia memanggil Mikael 'Den' karena di Jawa majikan biasa dipanggil seperti itu.
Mereka lalu membicarakan tentang kehidupan Pak Paryo dan keluarganya. Anak pertama Pak Paryo, harus putus sekolah untuk membantunya bekerja di ladang sedangkan anak perempuannya dia titipkan di pondok daerah Jawa setelah lulus Sekolah Dasar.
"Jadi dia putus sekolah?" tunjuk Mikael pada Andi yang terlihat sedang memberi makan kambingnya.
"Ya, membantu ayahnya di kebun."
"Apa tidak sayang, Pak?" tanya Mikael antusias. Di saat dia pergi keluar negeri untuk belajar banyak ternyata anak daerah sini malah ada yang sekolah sampai SMP saja atau malah tidak lulus SMP sama sekali. Hal yang miris adalah melihat anak-anak perempuan menikah dibawah umur 18 tahun, seperti Ariana dulu. Ini jaman milenial mengapa masih seperti itu? Pikirnya.
"Saya dengar Den Mike itu mengajar di Jakarta?" tanya Pak Paryo. Mikael menganggukkan kepalanya.
"Sudah tidak lagi. Saya ingin mengejar mimpi di sini. Ingin mengabdikan diri di daerah ini," cetus Mike. Dia merasa ini saatnya dia maju untuk memajukan pendidikan di sini. Andai dia tidak pulang kembali maka dia tidak tahu jika kampungnya ada beberapa orang yang menganggap sepele pendidikan.
"Wah itu bagus," kata Pak Paryo. Mereka lalu melihat Ariana yang berjalan ke arah kamar Mikael.
"Mereka kelihatan serasi, ya?" kata Dodi yang ikut ngobrol bersama mereka.
"Iya, mungkin dulu mereka berpisah karena dijodohkan sehingga belum ada rasa cinta. Lagipula waktu itu Uni Na masih kecil, belum cukup umur masih sekolah sedangkan Den Mike sudah dewasa, mungkin punya calon sendiri namun tidak direstui"
Dodi menganggukkan kepalanya. "Bukan hanya mungkin, itu anak bawaan Tuan Mike buktinya."
"Untung Uni Na, orangnya sabar mau menerimanya dan menganggap anak itu seperti anaknya sendiri."
Sedangkan Mike tersenyum cerah ketika mendekat ke arah Ariana.
"Kebetulan sekali, aku rindu kopi buatanmu," kata Mikael. Membuka pintu kamar, mengajak Ariana masuk ke dalam.
"Aku membawakan sarapan untukmu. Aku khawatir kau belum makan sedari semalam."
__ADS_1
"Ya, benar. Aku tidak bisa makan jika tidak melihat wajahmu yang cantik."
"Gombal," ujar Ariana dengan pipi yang merona merah karena senang.
"Apa kau sudah makan?" tanya Mikael mulai memakan nasi itu. Ariana menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kita makan bersama saja," kata Mikael.
"Aku bersama Ayah saja. Kak Elang tidak ada di rumah. Ayah akan makan sendiri nanti," tolak Ariana. Mikael mengambil satu sendok lalu mulai menyuapi Ariana.
"Temani aku walau beberapa sendok saja." Ariana lalu menerimanya dan mengunyah dengan pelan. Dia merasa malu melakukannya dengan Mikael walau mereka sudah melakukan lebih dari ini.
"Nanti temani aku belanja ya," pinta Mikael.
"Boleh," ujar Ariana.
"Biasanya perempuan paling pandai berbelanja barang sedangkan aku tidak tahu apa yang harus aku beli untuk kamarku ini."
"Sebenarnya kamar ini view-nya bagus. Pemandangan ke belakang rumah yang hijau. Lagi pula di sini ramai karena banyak pekerja yang berkumpul. Tidak seperti di rumah utama yang sepi," ujar Ariana melihat orang-orang hilir mudik di belakang.
"Kau ingin membeli apa saja?" tanya Ariana.
"Menurutmu?" tanya Mikael. Ariana melihat ke sekeliling ruangan itu.
"Tempat tidur berukuran single, lemari beberapa kursi, televisi, kabel untuk mengecas handphone. Lampunya juga harus diganti."
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Ariana. "Uni ... Uni ... ," panggil Sani.
Ariana yang terkejut langsung membuka pintunya.
"Bapak Jaya memarahi anaknya Pak Mike." Ariana gedung terkejut sedangkan Mikael bangkit dengan segera
__ADS_1