Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Pintu Maaf yang telah Tertutup


__ADS_3

"Biasa Pak kalau di dalam rumah tangga ada adu pendapat. Sebaiknya kami membicarakan ini di rumah saja," ucap Ariana mendahului ucapan Elang dan Mikael.


"Nah itu yang seharusnya dilakukan bukannya membuat keributan di lingkungan kampus. Ini peringatan awal untukmu Profesor."


"Saya mengerti, Pak." Mikael tidak ingin membela diri walau dari awal dia sudah mencegah pertikaian ini terjadi."


"Kalau begitu sebaiknya kami undur diri untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin." Lanjut Mikael lagi. Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan itu.


Sontak setelah kejadian itu semua orang melihat ke arah ketiganya. Ariana sendiri berdiri di sebelah Elang dan Mikael berjalan di belakang mereka.


Beberapa orang mulai berbisik tentang hubungan Ariana dan Mikeal. Mereka menduga jika Mikael telah berbuat tidak senonoh dengan Ariana yang membuat kakaknya marah.


Ariana sendiri hanya berjalan menunduk dalam dekapan Elang. Dia enggan untuk melihat tatapan menuduh dan curiga yang dilayangkan padanya. Bayangan kejadian enam tahun lalu kembali memenuhi benak pikiran wanita itu. Di saat semua orang mulai mengguncingkannya. Setiap keluar rumah dia mendengar orang berbisik mengatakan pikiran mereka dan dia tidak tahan mendengar orang tuanya yang menjadi korban ulah Mikael.


Adam hanya menatap nanar ketiganya ketika lewat di depannya. Ariana tidak mengatakan sesuatu tetapi dia memberi isyarat pada Adam untuk tidak mengatakan apapun pada saat ini.


"Ariana sebaiknya kau kembali lagi saja bersamaku!" ucap Elang mendorong tubuh Ariana masuk ke dalam mobil.


"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu," ungkap Ariana.


"Mengatakan apa?" bentak Elang lalu tertahan ketika melihat semua mata di sekitar tempat itu menatap pada mereka.


"Kak, aku mohon sebaiknya kita bicarakan ini ditempat yang lebih tertutup," pinta Mikael baik-baik.


"Kau," Elang menunjuk ke arah Mikael tetapi tertahan ketika


Akhirnya, mereka berbicara di sebuah ruang tertutup di salah satu rumah makan. Elang dengan gaya malas duduk di salah satu sudut ruangan yang berjauhan dari Mikael. Mereka makan di rumah makan Jepang jadi konsepnya duduk di lantai.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Mikael ketika pelayan restoran masuk ke dalam ruangan itu.


Elang terdiam matanya fokus memutar hape miliknya.

__ADS_1


"Pesan makanan yang kau suka saja. Aku suka semua masakan Jepang di sini," jawab Ariana tersenyum. Dia tahu kakaknya menahan kebenciannya pada Mikael saat ini. Mikael lalu memesan beberapa makanan untuk mereka dan pelayan itu kembali pergi.


"Cepat katakan apa yang ingin kau ucapkan Ariana. Aku tidak suka bertele-tele apalagi aku harus makan dengan melihat wajahnya, mual dan muntah yang ada." Mikael menelan Salivanya dalam-dalam mendengar ucapan Elang yang selalu tidak mengenakkan hati. Dia cukup tahu diri bagaimana harus bersikap.


"Kak, jangan seperti itu!"


"Kenapa kau jadi membelanya atau... jangan-jangan kau terperdaya oleh pria ba.... jingan ini? Ariana sadarlah dia hanya seorang pria yang tidak layak diperjuangkan olehmu apalagi menerima kebaikanmu."


"Kak... ," Ariana memanggil dengan nada memelas.


"Berarti benar tebakanku. Kau benar-benar sudah termakan tipu dayanya." Elang menatap Ariana lekat, "dia hanya memanfaatkan mu Raina. Sadarlah!" lirih Elang diakhir kalimat.


"Kak, beri kesempatan padaku untuk tetap bisa bersama Ariana?"


"Apa yang kau tawarkan padanya sehingga dia bisa menuruti keinginanmu atau kau mengguna-guna adikku?" geram Elang.


Mikael ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan ketika tiga orang masuk ke ruangan VVIP yang mereka pesan dan membawa masuk pesanan lalu menatanya di meja.


"Jika ada yang bisa kami bantu lagi? Jika tidak selamat menikmati," ucap salah seorang pelayan itu.


"Kak, beri kesempatan padaku untuk membuktikan diri," pinta Mikael.


"Membuktikan menyakiti adikku lagi, jangan harap. Asal kau tahu, semua pintu maaf sudah tertutup bagimu!"


Mikael menutup mata dan menarik nafas panjang. Menetralisir hatinya yang tidak karuan. Dia menatap ke arah Ariana yang nampak sangat cemas dan ketakutan namun wanita itu menahan diri untuk tidak membuat masalah semakin bertambah rumit.


"Kak, aku ingin membina hubungan rumahtangga yang baik dengan langkah baru lagi dengan Ariana," ungkap Mikael.


Brak!


Seketika bergetar meja di depan mereka. Makanan sebagian tumpah. Wajah Elang terlihat menggelap dengan mata yang memerah.

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu masuk ke dalam hidup adikku lagi!" teriak pria itu tegas. Ariana mengusap lengan kakaknya. Sebenarnya Elang tipikal pria yang sabar hanya saja jika orang kesayangannya terluka dia orang yang paling tidak terima.


"Kak, kumohon, mengertilah?" pinta Mikael dengan memelas.


"Adikku mungkin akan terbuai oleh ucapan serta janji manismu, tetapi aku tidak! Aku tidak ingin melihat dia terluka lagi untuk kedua kalinya. Dia itu bunga di rumah kami dan kau menjadikannya layu sebelum sempat mekar."


"Aku janji akan menjaganya dengan baik."


"Untuk menjaga satu hari saja kau tidak bisa, apalagi untuk menjaganya seumur hidup!" Murka Elang penuh emosi.


Mata Ariana mulai membasah dia memalingkan wajahnya ke samping. Mengingat masa dulu membuat hatinya terluka. Dia punya mimpi tinggi untuk bisa hidup bersama dengan Mikael namun dihempaskan begitu saja dengan cara yang sangat menyakitkan.


"Ariana ayo pergi, lebih baik kau tidak usah meneruskan kuliahmu daripada bertemu pria ini dan bersamanya lagi." Elang memegang tangan Ariana dan menariknya pergi.


Ariana masih duduk menunggu ucapan Mikael tentang perasaannya pada Ariana. Dia berharap penuh pria itu untuk menghalangi kakaknya membawa pergi Ariana.


Sedangkan Mikael menatap Ariana menanyakan kesanggupannya untuk bersama dengannya.


"Ariana tetaplah bersamaku," pinta pria itu.


"Adakah alasan yang tepat agar aku tetap bersamamu?" tanya Ariana balik.


"Aku dan Dita membutuhkanmu?" ucap Mikael.


"Butuh, hanya itu?" Ariana menyeka air matanya. Mikael terdiam, dia tidak tahu tentang perasaannya sendiri namun hanya itu yang bisa dia katakan.


"Sudah kukatakan percuma kau bersamanya hanya akan menyakiti hati saja lagipula Ayah tidak akan pernah menerima dia sebagai menantu," sela Elang menarik tangan Ariana. Dengan langkah berat Ariana berjalan melewati Mikael namun pria itu memegangnya.


"Ariana, kumohon," pintanya lagi.


"Kau tanya dulu pada hatimu seberapa besar kau membutuhkan aku. Jika kau memang pria sejati, kau akan datang untuk menemui ayahku dan memintaku kembali... karena bagaimanapun kau dulu pernah membuangku dan," Ariana menyeka air matanya dan menatap keatas. "Hanya keluargaku yang membuat aku hidup dan bangkit lagi. Jika tidak, saat ini aku gila setelah apa yang kau perbuat padaku."

__ADS_1


Ariana lalu mengikuti langkah kaki Elang. Dengan berat hati Mikael melepaskan tangan Ariana dari genggamannya. Ini lebih berat dan sakit daripada kehilangan Sheila.


"Ariana... ," gumam lirih Mikael menatap nanar kepergian wanita itu hingga hilang dibalik tembok.


__ADS_2