
"Ariana!" panggil Sanjaya yang keluar kembali setelah mendengar berita kehamilan Ariana dari anak buah. Wajahnya merah padam.
"Masuk!" perintahnya lagi.
"Tapi Ayah," ada nada keraguan dari diri Ariana.
"Jika kau tidak ingin aku membunuhnya sebaiknya kau masuk ke dalam rumah," ucap Sanjaya bersungguh-sungguh. Ariana memandang ke arah Mikael, pria itu memejamkan matanya agar Ariana menuruti ucapan kedua orang tuanya.
"Aku," Ariana lalu bangkit dan berjalan menunduk.
"Apa benar yang dikatakan Ariana jika dia hamil anakmu!" tanya Sanjaya. Dia sangat merasa kesal setelah apa yang dilakukan pemuda ini padanya kenapa Ariana begitu mudah menerimanya.
"Mungkin benar setelah kebersamaan kami selama ini," ucap Mikael bermain kata-kata.
Sanjaya menatap tajam pada Mikael.
"Maafkan aku Paman, aku sangat menyesali tindakanku pada Ariana. Kesalahanku tidak pantas untuk dimaafkan tetapi aku ingin membuktikan diriku jika aku akan menjadi pria dan suami yang baik bagi Ariana ke depannya."
__ADS_1
"Semenjak kapan kalian telah bersama?" tanya Sanjaya penasaran.
"Enam bulan kami berada di lingkungan yang sama dan satu bulan ini kami hidup satu atap," ungkap Mikael.
"Pulanglah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi," kata Sanjaya.
"Aku tidak ingin tanpa Ariana."
"Kalau begitu keluarlah dari rumahku, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di rumah ini. Aku tidak peduli kau pulang atau tidak hanya saja aku tidak ingin kau ada di rumahku!"
Mikael mendekati Sanjaya dan bersimpuh memegang kakinya.
Sanjaya mendorong keras tubuh Mikael sehingga pegangannya lepas dan terdorong ke belakang dan wajahnya mencium lantai marmer berwarna cream.
"Aku tidak akan menyerahkan putriku pada pria yang tidak menghargainya. Ariana terlalu baik dan lugu sehingga begitu mudah kau perdata tapi tidak denganku. Pergilah dari rumah ini atau orangku akan melempar kau keluar dari sini," seru Sanjaya menyeka bekas tangannya dengan sapu tangan setelah menyentuh Mikael dan membuang sapu tangan itu asal.
"Aku tidak ingin pergi, Paman, walau aku harus mati di sini," kata Mikael bersikukuh mencoba mengumpulkan kembali tenaganya di balik rasa sakit yang dia tahan, untuk bisa bangkit dan berdiri.
__ADS_1
"Kucluk... Dodi .. Kris ... kalian lempar dia dari rumah ini," perintah Sanjaya, tiga pria yang sedari berdiri di sekitar mereka lalu maju dan memegang dua tangan Mikael. Pria itu lalu memberontak, dia membuat tubuh ketiga orang itu ke tanah dengan sekali gerakan.
"Paman, sesuai dengan kataku. Aku tidak akan pergi dari rumah ini sebelum aku akan membawa Ariana dengan baik-baik dari sini."
"Kalian melawan satu orang saja tidak bisa, payah," ujar Sanjaya pria itu lalu membalikkan tubuhnya.
"Kita lihat seberapa bertahan kau tinggal di luar sini. Aku tidak akan pernah membiarkan Ariana untuk menemuimu lagi. Masalah hamil, aku masih bisa mengurus anaknya tanpa dirimu! Surat perceraian akan dibuat dan kita akan bertemu lagi di pengadilan."
"Aku tidak akan menceraikan, Ariana, Paman."
"Tidak menceraikan, kita lihat apa yang kau akan bertahan dengan apa yang kau ucapkan! Pria sejati tidak pernah menarik kata-katanya. Kau sudah membuktikan seberapa pengecut sifat dan perangaimu sebagai seorang pria."
Mikael menghela nafasnya. Pantas saja jika Ayah Ariana meragukan ucapannya.
"Jangan pernah kau injakkan kakimu di rumah ini walau satu langkahpun!" Sanjaya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya
"Terimakasih untuk mengijinkanku tinggal di sini," seru Mikael. Dia lalu berjalan menuju pohon besar di halaman luas rumah itu dengan kaki diseret.
__ADS_1
"Satu langkah lagi, aku masuk ke dalam rumah itu jadi tidak akan kubiarkan kesempatan itu lari begitu saja."