Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Pesan Ibu


__ADS_3

"Wa'alaikum salam," jawab Pak Sofyan. Mikael merasa lega mendengarnya.


"Ayo, cium tangan Kakek," ucap Ariana menyuruh Dita untuk menyalami kakeknya dan mencium tangannya. Dita mengulurkan tangan dan menatap Pak Sofyan dengan takut. Pak Sofyan lalu mengulurkan tangannya melihat Ariana yang nampak enjoy dengan anak gelap Mikael. Jika tidak dia tidak akan membalas sapaannya.


Dita lalu mencium tangan Sofyan. Semua tersenyum lega.


"Ayo Ariana katanya ingin menemui Ibu," ajak Pak Sofyan.


"Dita, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri disini."


Mereka terdiam.


"Biar Ayah yang menungguinya di sini kalian pergi temui Ibu," saran pria itu membuat sepasang suami istri yang sedang bersandiwara ini melonjak senang.


"Terima kasih, Ayah."


"Dita di sini dulu bersama Kakek ya," ujar Ariana menurunkan Dita. "Kakek baik kok, dia akan ajak Dita beli jajan atau es krim di kantin."


Pak Sofyan menelan Salivanya dengan sulit. Mikael menarik kedua alisnya keatas sedangkan Ariana hanya tersenyum.


"Biar dia tidak menangis, Yah. Lagipula sesekali ditraktir Kakeknya yang kaya kan enggak apa-apa," ujar Ariana.


Pak Sofyan mendengus. "Baiklah." Tangan Dita lalu diserahkan pada Pak Sofyan.


Mereka lalu pergi meninggalkan Dita dengan kakeknya. Sedangkan Mikael tiba-tiba menggandeng tangan Ariana. Membuat wanita itu terkejut.


"Agar Ayah percaya," dalihnya melirik ke belakang mereka. Ariana lalu membiarkan tangannya digenggam Mikael.


Sebenarnya bukan karena itu. Dia hanya ingin memastikan apakah dia akan nyaman dengan menggandeng tangan Ariana sampai akhir nanti. Seperti janjinya pada sang ayah.


Mereka lalu memasuki ruang ICU. Kondisi Ibu Siti tidak seperti yang Ariana lihat terakhir kali. Tubuhnya terlihat lebih kurus dengan kulit putih pucat, seperti mayat. Ada cekungan hitam di sekitar matanya dan rahangnya nampak menonjol. Bibirnya kering dan pecah.


Sementara itu berbagai selang masuk ke dalam tubuhnya. Kabel-kabel yang terhubung dengan mesin yang menyangga hidup tubuh paruh baya itu. Matanya tertutup rapat, hanya bunyi monitor yang memberi tahu jika wanita ini masih dalam keadaan hidup.


Dengan langkah gemetar Mikael mendekat ke arah ibunya. Menahan air mata yang hampir mengalir tetapi tetap saja lirih begitu saja. Rasa sesak memenuhi dadanya.

__ADS_1


Mikael memeluk tubuh dan mencium kening wanita yang telah melahirkannya. Setetes air mata sempat jatuh membasahi pipi ibunya.


Mikael mengambil nafas dalam. "Bu, aku datang." Akhirnya kalimat itu bisa juga keluar dari bibirnya. Mikael duduk di samping ibunya dan mengusap tangannya. Sesekali menyeka air mata yang keluar. Lama dia terdiam. Seperti sedang merangkai kata yang tepat untuk diucapkan atau mungkin menyesali apa yang telah terjadi Ariana tidak tahu.


"Aku sudah membawa menantu Ibu datang, jadi Ibu harus bangun untuk melihatnya. Aku bahkan tidak tahu siapa yang Ibu rindukan, aku atau dia."


"Bangun dan lihatlah, aku bersamanya. Bukankah itu yang Ibu inginkan." Mikael mencium tangan ibunya dan terisak.


"Tangan ini yang membesarkanku tetapi aku mengkhianatinya, kau boleh memukulku jika kau mau tetapi bangunlah hanya sekedar untuk melihatku dengan mata Ibu yang indah dan menenangkan. Aku rindu untuk melihatnya."


"Maafkan aku, Bu," ucapan Mikael penuh dengan penyesalan. Ariana seperti mendengar ketulusan dan kejujuran dari kata-katanya.


"Aku akan menebus dosaku dengan melakukan apapun yang Ibu inginkan tetapi kumohon. Bangunlah."


Kepala Mikael di letakkan perut ibunya. Tubuhnya terlihat bergetar. Tarikan nafasnya pun masih tersengal-sengal. Tiba-tiba jari tangan Ibu Siti mulai bergerak.


Ariana ingin menjerit memberi tahu Mikael namun tertahan ketika tangan itu bergerak naik mengusap kepala pria itu. Sesaat tubuh Mikael tertegun, dia lalu menoleh dan melihat perlahan mata ibunya bergerak.


"Ibu ... ," panggil Mikael tidak percaya. "Panggil Dokter Ariana," pinta Mikael.


"A... ri ... ana," panggil lemah Ibu Siti. Ariana lantas berbalik dan mendekat.


"Ada apa, Bu." Tangan Ibu Siti dilambaikan agar Ariana mendekat. Arina lalu memegang tangan Ibu Siti.


"Ibu ingin apa?" tanya Ariana. Ibu Siti tidak mengatakan apapun hanya menyatukan tangan Ariana dan Mikael.


"Jangan berpisah," ucapnya tanpa suara. Pasangan suami istri itu hanya saling menatap.


"Aku akan selalu menjaganya, Bu dan tidak akan meninggalkannya," janji Mikael. Ibu Siti tersenyum. Sedangkan Ariana tertegun mendengar ucapan Mikael untuk sesaat dan selanjutnya dia pikir itu hanya kata-kata untuk menenangkan ibunya saja.


"Aku akan memanggil, Dokter dan ayah," Ariana lantas melepaskan pegangan tangan itu dan pergi cepat keluar dari ruangan itu. Dia memegang dadanya yang berdegub dengan kencang. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Namun, dia tidak akan menjadi gadis bodoh yang akan menerima Mikael kembali lagi walau semua keluarga Toha memintanya.


Ariana memanggil Dokter yang berjaga dan mengatakan jika mertuanya sudah sadar dari komanya. Dia lalu berjalan keluar rumah sakit untuk mencari ayah mertua. Dia menemukan pria itu sedang duduk di kursi panjang bersama dengan Dita. Mereka duduk diam.


Ariana tersenyum lalu berjalan ke arah mereka. Pak Sofyan yang melihat Ariana terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sudah?" tanya pria itu.


"Ibu!" Dita lalu turun dari kursi besi dan berlari memeluk Ariana.


"Aku ingin memberi tahu jika Ibu sudah sadar dari komanya," ungkap Ariana senang. Ayahnya membuka mulut dan menutupnya.


"Sungguh? Alkhmadulillah Ya Allah. Dia memang menunggu kedatangan kalian sudah lama. Mikael datang dan dia langsung sadar," cetus pria itu bahagia. Dia bangkit dan memeluk Ariana.


"Terima kasih, Nak. Kau memang membawa keberuntungan buat keluarga kami. Sekarang bagaimana keadaannya?"


"Ibu sedang diperiksa oleh Dokter. Ayah bisa menemuinya, biar aku bersama dengan Dita saja."


"Aku akan menelfon keluarga yang lain dan mengabarkan kabar ini."


Ariana menganggukkan kepalanya. Dia ikut bahagia melihat semua orang tersenyum kembali. Mungkin jika sudah membaik rencana mereka yang akan kembali empat hari lagi bisa terealisasi. Dia bisa kembali lagi bersama Adam.


Sore harinya mereka pulang ke rumah. Wajah Mikael terlihat lebih sumringah dari terakhir kali dia melihatnya di universitas. Wajahnya kini penuh senyum ketika bertemu dengan semua orang termasuk dengan warga sekitar yang ditemuinya ketika melakukan solat jamaah di masjid sewaktu Maghrib.


Dita yang tidak pernah bergaul dengan orang luar terlihat malu tidak seperti biasanya.


"Anak mba Ariana ini? Cantik sekali," tanya orang-orang. Raina hanya tersenyum atau menganggukkan kepalanya. Anak itu juga menuruti semua yang Ariana katakan.


Malam harinya karena sangat mengantuk dan lelah Dita tidur lebih cepat, seusai makan dia langsung menutup matanya. Mikael yang baru naik ke atas heran melihat Dita yang bisa tidur tanpanya.


"Dia tidak bisa tidur tanpaku dan kini dia sudah mulai tergantung padamu padahal kalian baru bertemu kemarin."


"Wanita dan pria berbeda dalam mengasuh anak." Ariana menyelimuti Dita setelah itu dia melihat layar handphonenya menyala.


Ariana sedang chatting dengan Adam. Sesekali tawanya terdengar membuat Mikael yang sedang mengambil baju untuk tidur menatap ke arahnya.


"Siapa?"


"Adam. Tunggu dulu, aku keluar dia akan menelfonku," Ariana lalu turun dari tempat tidur dan keluar kamar.


Mikael menatapnya nanar. Dia tidak yakin apakah dia bisa mengambil hati Ariana kembali atau tidak. Kali ini, dia tidak ingin egois. Dia akan membiarkan Ariana menentukan pilihan hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2