Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Naluri Pria


__ADS_3

Ariana membuka pintu kamar mandi dengan pelan melihat apakah Mikael masih ada di sana atau tidak. Setelah memastikan tidak ada pria itu di dalam sana dia langsung masuk ke dalam kamar. Posisi ranjang yang tidak terlihat dari pintu kamar mandi membuat dia tidak bisa menebak keberadaan Mikael.


Pria itu masih di tempat tidur dengan piyama yang tidak dia ikat terkejut melihat Ariana berjalan menuju ke arahnya.


"Sudah kukatakan jika aku akan membantumu berjalan. Apakah masih sakit?'' tanya Mikael khawatir meletakkan handphone di ranjang.


Pria itu memang bermain sangat lembut dan takut melukai Ariana, mungkin itu yang membuat Ariana tidak merasakan rasa sakit yang sangat. Hanya sesuatu terasa mengganjal di bawah sana.


"Aku baik-baik saja dan masih bisa melakukan semuanya."


"Bisakah kau keluar kamar, aku mau memakai baju," pinta Ariana.


"Kau malu?" tanya Mikael tersenyum menggoda. Pria itu lalu turun dari tempat tidur dan mendekati Ariana.


"Jika ini hari libur, ingin rasanya aku menghabiskan waktu denganmu seharian penuh.


Mikael menarik pinggang Ariana mendekat ke arahnya. Wanita itu terlihat seperti sekuntum mawar yang mulai mekar di pagi hari. Merekah, basah dan harum. Membuat naluri lelakinya bangkit lagi.


Pria itu ingin mencium Ariana namun wanita itu memundurkan wajahnya.


"Tidak, ini sudah jam tujuh siang, kita bisa terlambat untuk ke kampus. Dita... dia juga harus ke sekolah," tolak Ariana terengah-engah karena Mikael tidak mendengarkan kata-kata Ariana, malah mencium leher jenjangnya.

__ADS_1


"Oh, sudah," suara Ariana mulai berubah merasakan gairahnya mulai bangkit karena perlakuan Mikael. Pria itu melepaskan bibirnya dari dada wanita itu lalu mengecup bibir Ariana.


"Kita teruskan nanti," kata Mikael lalu pergi ke kamar mandi.


Ariana lalu menarik nafas lega setelah melihat pria itu masuk ke kamar mandi. Tidak menyangka jika semudah ini mereka bersama. Sebulan kemarin terasa menyesakkan melihat suaminya ada di hadapan tetapi tidak bisa berbicara bahkan menyapa. Kini semua berubah seratus delapan puluh derajat.


Dia milik Mikael dan Mikael memilikinya. Itu indah seperti mimpinya menjadi kenyataan. Apakah dianya yang terlalu polos mudah tertipu oleh sikap pria itu yang lembut atau dianya yang tidak bisa menahan diri jika menerima sentuhan pria itu? Ariana tidak tahu itu.


Ariana lalu memilih pakaian baru yang Mikael belikan untuknya. Sebuah dress dengan motif bunga-bunga besar sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang putih bersih.


Namun, sayang lehernya penuh dengan bercak kemerahan. Sepertinya, dia butuh membeli banyak concelar untuk menutupi hasil tindakan Mikael.


Ariana sedang menyisir rambutnya ketika Mikael masuk ke kamar dengan hanya memakai handuk kecil. Ariana melihatnya melalui pantulan kaca dan menelan ludah ketika melihat Mikael tanpa merasa malu melepaskan handuknya dan memakai baju begitu saja.


"Kau bisa melihatnya kapan pun kau inginkan tidak perlu malu-malu kucing seperti itu."


Ariana tersenyum malu sendiri lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar. Di ruang keluarga dia melihat Dita sedang menekuk wajahnya.


"Kau kenapa?" tanya Ariana mendekat ke arah Dita.


"Aku menunggu Ayah untuk berangkat ke sekolah tetapi Ayah belum siap juga dan dia tadi melarangku untuk masuk ke kamar karena ada Ibu."

__ADS_1


Ariana membuka mulutnya. "Itu... ehm ... kau boleh masuk hanya saja ketuk dahulu pintunya."


"Apa kau sudah makan?" tanya Ariana. Dita menganggukkan kepala. Ini sudah jam tujuh lebih pantas jika anak itu sudah makan. Ariana melihat tas dan perlengkapan Dita sudah siap di sebelahnya.


"Ibu, apakah Ibu akan memukulku seperti cerita di dongeng?'' tanya Dita tiba-tiba. Ariana memicingkan matanya.


"Apakah aku pernah marah atau memukulmu?" tanya Ariana. Dita menggelengkan kepalanya.


"Itu hanya sebuah cerita dan aku tidak akan pernah melakukannya. Apalagi jika anak itu adalah dirimu." Ariana mencubit pipi Dita gemas. Anak itu tertawa.


"Berarti Ibu akan menyayangiku seperti ibu lainnya?" tanya Dita.


"Jika kau janji untuk jadi anak baik," kata Ariana.


"Aku akan jadi anak baik," ulang Dita dengan mantap. Ariana lantas memeluk Dita.


"Aku juga akan jadi ayah dan suami baik." Mikael ternyata sudah berdiri di dekat Ariana. "Apakah kau tidak memelukku?'' tanya Mikael.


"Kita akan terlambat jika tidak segera berangkat," ujar Ariana menggendong Dita. Anak itu mengeluarkan lidah pada ayahnya.


"Kalau begitu biar Ayah cium putri Ayah." Mikael maju ingin mencium Dita namun anak itu malah menolak dengan menyembunyikan wajahnya hingga akhirnya Mikael mengecup bibir Ariana. Ariana menabok keras lengan Mikael. Pria itu tertawa keras. Sesuatu yang tidak pernah Ariana lihat selama ini.

__ADS_1


Berikan kekasihmu kepuasan dan mereka akan jadi pria yang hangat, kalimat itu nampaknya terbukti. Mikael yang sering memarahinya di kampus dan dingin ketika berhadapan dengannya kini menjadi penuh kehangatan. Sangat berbeda. Ariana menyukainya.


__ADS_2