Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Rasa Berbeda


__ADS_3

Akhirnya malam itu Ariana mengerjakan semua tugas dipandu oleh Mikael. Pria itu hanya menjelaskannya dan menerangkannya dengan sabar pada Ariana. Sedangkan wanita itu terus menguap sembari menganggukkan kepalanya dan mencoba konsentrasi dengan tugas itu.


Hingga akhirnya wanita itu tidak kuat membuka matanya lagi dan tertidur dengan tangan berada di atas laptopnya.


Mikael sendiri tidak tahu mengapa wanita ini masuk ke jurusan yang tidak dia mengerti. Banyak materi yang belum dia fahami dan pastinya akan sulit untuk memandunya menjadi mahasiswi yang lebih baik lagi karena keterbatasan IQ. Dia tahu jika selama ini Adam yang telah membantunya menyelesaikan semua tugas atau membantunya menjawab pertanyaan ujian. Hal itu, membuat pertanyaan tersendiri baginya tentang sedalam apakah hubungan mereka?


Pagi harinya.


"Akh!" teriak Ariana karena terbangun kesiangan disaat matahari sudah terbit. Dia lalu menoleh dan mendapati dirinya tidur dipeluk oleh Mikael.


" Prof, bangun. Apa yang terjadi semalam kenapa aku tidur di kamar ini?" tanya Ariana melepaskan pelukan pria itu


"Tidak terjadi apa-apa, aku hanya lelah merampungkan tugasmu dan enggan untuk membawamu ke kamar, jadi aku membawamu ke kamarku," ucap Mikael mengucek matanya yang masih pedas dan duduk.


"Kau sudah menyelesaikan tugasku?" Ariana tertegun sebentar lalu memeluk tubuh Mikael karena saking senangnya. "Terimakasih banyak."


Mikael memeluk balik wanita itu dan menariknya dalam pangkuan. Ariana terkejut dengan serangan mendadak yang Mikael lancarkan. Selama di rumah mertuanya, Mikael tidak pernah sekalipun menyentuhnya sehingga dia menyangka akan tetap aman berada di dekat dengan pria itu. Namun, pikirannya ternyata salah.


"Bolehkah aku meminta bayaran ku," ucap pria itu mencium bibir Ariana sebelum mendapat jawabannya. Sebuah sensasi yang tidak bisa Ariana ucapkan. Bibirnya dengan lembut dilumat oleh Mikael. Sedangkan punggungnya di usap pelan ke atas ke bawah. Alih-alih menolak Ariana yang polos malah terbuai. Tangannya mendorong tubuh Mikael tetapi bibirnya terbuka membuat celah bagi Mikael untuk menjelajah lebih dalam.


Dia pernah dicium oleh Adam tetapi tidak seperti ini rasanya, pikiran itu masuk ke dalam otak kecilnya. Dadanya berdegup dengan kesal dan sentuhan lidah Mikael di dalam mulutnya membuatnya mabuk. Satu tangan pria itu memegang tengkuknya untuk memperdalam ciuman.


Akhirnya tangan Ariana meremas kaos hitam pria itu erat hingga bunyi erangan tiba-tiba muncul tanpa dia sadari ketika bibir basah itu pindah menyesap lehernya kuat. Tubuhnya bergetar hebat. Merasa tidak cukup hanya sampai disitu saja seolah menuntut lebih.

__ADS_1


Mikael menghentikan gerakannya dan mengusap bekas merah yang dia ciptakan. Bibir Raina sedikit bengkak dan nafas wanita itu masih tersengal-sengal di berada di tangannya. Wajahnya memerah karena terbakar gairah. Pria itu tahu karena dia sudah berpengalaman. Hanya saja mengapa Ariana begitu mudah untuk menerimanya sesuatu yang membuatnya terkejut. Dia kira wanita itu akan melawan penuh kemarahan atau makian nyatanya tidak.


"Jangan lagi kau lakukan." Arina melepaskan diri dari pelukan Mikael sembari mengusap bibirnya kesal.


"Kau menikmatinya?"


"Aku sudah dewasa dan punya nafsu yang terkadang tidak bisa ku kendalikan. Apapun itu yang pasti bukan tentang perasaan, aku harap berpikir lebih." Ariana lalu bangkit dan berjalan keluar kamarnya.


Dia memang bukan wanita suci yang tidak pernah melakukan itu. Adam mungkin adalah pria pertama yang mendapatkan ciuman pertamanya tetapi baru pertama kali ini dia merasakan hasrat lain yang menggebu ingin keluar dari dalam dirinya.


Berdosakah? Tentu saja tidak, dia tahu itu. Mereka masih menikah dan Mikael berhak untuk itu. Namun, mereka sendiri melakukan itu bukan karena cinta atau karena hubungan ini, hanya karena keinginan semata dan hal ini yang membuat Ariana marah. Jika Mikael meminta haknya itu berarti dia mengakui jika Ariana adalah istrinya, nyatanya tidak.


Ariana curiga dia hanya ingin melampiaskan nafsu saja pada dirinya tanpa perasaan apapun. Dia pria matang yang telah mengenal hubungan badan dan lama tidak melakukannya tentu saja akan terpancing ulahnya yang tiba-tiba memeluk pria itu. Ini juga salahnya seharusnya dia pergi langsung tadi.


Ariana memegang bibirnya. Rasa panas dan bekas bibir Mikael masih terasa di bibirnya. Jika pria itu tidak menyudahinya dia pasti akan terbuai dan jatuh lebih dalam lagi. Mengapa begitu lemah pertahanannya seharusnya dia membentengi diri dari pria itu. Ariana malah kesal dengan dirinya sendiri.


Setelah itu, dia keluar dari kamar. Suara ketawa Dita terdengar keras, Ariana mendekat, melihat ayah dan anak bercanda. Sangat indah pikirannya.


"Ibu tolong... Ayah nakal," teriak Dita melihat Ariana di pintu. Mikael menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Ariana. Dita lantas keluar dari pelukan ayahnya dan berlari di belakang Ariana.


Mikael melihat tas ransel milik Ariana dibelakang punggungnya. Tas itu terlihat penuh.


"Kau mau pergi dari sini?" tanya Mikael datar menutupi perasaan.

__ADS_1


"Kukira kau sudah sehat dan tidak baik bagi diriku tinggal di sini lebih lama."


"Dita pergi dulu bersama dengan Mba-nya ke bawah untuk sarapan. Ayah ingin berbicara dengan Ibu mu ini."


"Yah, Ayah. Nanti Ibu juga akan mengantarku ke sekolah kan?'' tanya Dita. Ariana hanya tersenyum kecut.


Setelah Dita, pergi Mikael mendekati Ariana. Memegang tas yang berada di punggung wanita itu.


"Apa ini?" tanyanya.


"Kau sudah baik karena itu sebaiknya aku pergi," jawab Ariana.


"Apa karena kejadian tadi pagi?'' tanya Mikael maju membuat Ariana mundur.


"Itu hanya kesalahan semata dan aku tidak ingin mengulanginya. Lebih baik aku menjauh darimu," ungkap jujur Ariana. Kini tubuhnya tersudut di tembok.


"Kau takut jika tertarik padaku? jawab Ariana?"


Ya, dia takut. Batinnya. Ariana menolak kontak mata dengan pria itu. Dia menundukkan wajahnya dengan mengatupkan bibirnya rapat.


"Ku mohon mengertilah, kita bukan layaknya suami istri yang memadu kasih. Cerita kita telah hancur sebelum dimulai dan aku tidak ingin membangun cerita yang sama. Andaikata iya, kau tahu jika keluargaku tidak akan menyetujui hal ini sampai kapanpun. Aku juga punya seorang kekasih."


"Aku hanya bertanya apakah kau takut tertarik padaku?"

__ADS_1


"Aku wanita normal, jika kita terus bersama mungkin rasa tertarik itu muncul dari diriku. Oleh karena itu aku tidak ingin memupuknya. Aku lebih baik menjauhimu sebelum perasaan itu tumbuh menjadi hal lain."


"Satu lagi, jangan suruh Dita memanggilku Ibu karena aku bukan ibunya. Dia akan terluka maka jangan buat mimpi baru untuknya." Ariana faham ini, maka dari itu dia membatasi diri untuk dekat dengan anak Mikael walau anak itu selalu ingin bersikap manja dengan dirinya.


__ADS_2