Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Terpesona


__ADS_3

Akhirnya, Ariana mengambil Dita dari pangkuan Mikael. Mata anak itu yang tadinya mengantuk menatap ke arahnya, dengan sedikit rasa takut karena wanita itu tidak menampakkan sebuah senyuman sama sekali.


"Aku mau dengan Ayah saja," kata Dita.


"Kau lihat, ayahmu sedang menyetir. Dia akan kesulitan jika memangkumu, kita tidak akan sampai cepat. Lebih baik dipangku aku saja, ya." Suara Ariana yang lembut membuat Dita menurut. Sesekali anak itu terlihat melirik ke arah Dita.


"Kau ingin minum atau makan apa?" tanya Ariana.


"Aku haus, mau minum susu," ucap Dita.


"Oh, itu di tas hitam ada susu di dalamnya. Tadi aku sudah menyuruh Mbaknya membawakan yang telah di seduh, ada juga air panas di belakang tapi nanti saja jika itu sudah habis." Tunjuk Mikael pada sebuah tas diatas dashboard.


Ariana mengambilnya dan memberikan pada Dita.


"Oh, kau masih menggunakan ini?" tanya Ariana pada dot besar ditangannya. Dita menganggukkan kepalanya.


"Ya, sudah. Sini duduk seperti ini biar kau nyaman sembari meminumnya." Ariana mendudukkan Dita seperti seorang bayi kecil yang akan menyusu. Anak itu lalu minum susunya sembari menatap Ariana. Hingga lama-lama tertidur lelap.


"Kau bisa meletakkannya di belakang," ucap Mikael.


"Tidak biarkan saja," kata Ariana meletakkan botol kosong itu ke atas dashboard. Tangannya yang satu ke belakang kursi mencari sebuah bantal. Mikael menghentikan laju kendaraannya dan mengambilkan Ariana bantal. Ariana menggunakan bantal itu untuk menyangga kepalanya. Dia mencari posisi yang nyaman untuknya duduk sembari memangku Dita. Setelah itu, dia mulai memejamkan matanya karena mengantuk.


Lama kelamaan Ariana tertidur pulas. Kakinya untung dia tekuk dan naikkan sedikit sehingga tubuh Dita berada dalam apitan nya dan tidak terjatuh. Kepalanya saja yang bergerak terkadang hendak membentur kaca, membuat Mikael membenarkan posisinya.


Mikael menatap keduanya. Dita nampak sangat nyaman tidur dalam dekapan Ariana wanita yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu. Ariana sendiri mendekap tubuh Dita erat walau tertidur lelap. Seperti layaknya ibu dan anak.


Rasa sesak kembali menghantam dirinya. Seharusnya Sheila yang kini berada di posisi Ariana bukan wanita itu. Namun nyatanya, takdir mempermainkan mereka. Dia yang telah mencampakkan wanita itu malah datang untuk meminta pertolongan dan kini wanita itu yang ada di sini bersamanya.


Mereka akhirnya sampai di pelabuhan. Mobil lalu masuk ke dalam kapal. Sesampainya memarkirkan mobil, Mikael membangunkan Ariana. Dia menyentuh bahu wanita pelan.

__ADS_1


"Ariana bangun kita sudah berada di pelabuhan," ucap Mikael menepuk bahu wanita itu. Ariana membuka matanya dan melihat ke arah sekitar.


Tangan Ariana terasa kebas karena terlalu lama dia gunakan untuk menahan kepala Dita. Anak itu sembari memeluk dirinya kepalanya berada nyaman dalam perutnya.


"Kita sudah ada di kapal. Turun dulu dan naik ke geladak."


"Tanganku kebas dan kram," ungkap Ariana. Mikeal lalu mengambil bantal di dekat jendela membuat tubuh pria itu condong ke arah Ariana. Jantung Ariana mulai berdebar keras, wajahnya berubah pias. Dia bisa mencium aroma parfum Mikael secara dekat.


"Waras Ariana, waras," batin wanita itu. Mikeal lalu meletakkan bantal itu menggantikan tangan Ariana.


Ariana memegang tangannya. Pria lantas memegangnya membuat Ariana terkejut. Ada aliran listrik menjalar ke tubuhnya ketika kulit mereka saling bersentuhan. Apakah dia saja yang merasakannya ataukah pria itu ikut merasakannya juga.


"Biar aku bantu agar tidak terasa sakit lagi."


"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh," Ariana menarik tangannya tetapi Mikael malah memegangnya erat dan menatap tajam Ariana membuat wanita itu terdiam.


"Aww...." Mikael mengurut kulit Ariana yang halus dan putih.


"Mereka adalah orang yang paling pandai menyembunyikan perasaannya."


"Aku tidak percaya, aku selalu bisa menebak suasana hati wanita." Manik mata coklat itu menatap Ariana sehingga pandangan mereka bertemu. Jari-jarinya ditarik oleh Mikael. Ariana meringis.


"Sudah tidak sakit," ungkap Ariana. Mikael melepaskan pegangan tangan itu. Dia lalu keluar dari kapal dan membuka pintu samping Ariana.


Tubuh Dita diambilnya dari pangkuan Ariana. Wanita itu lantas keluar dari mobil dan mengikuti jalan Mikael.


Dita mulai terbangun. Dia melihat ke arah sekitar. "Kita dimana, Yah."


"Di atas kapal, kau lihat itu, lautan," tunjuk Mikael sewaktu mereka sudah berada di geladak kapal. Mereka berdiri di tepi kapal melihat ke arah langit dan laut lepas. Kapal mulai menjauh dari pelabuhan.

__ADS_1


"Kau lihat itu," tunjuk Mikael pada langit yang sudah memerah karena penampakan matahari yang akan tenggelam.


"Wah, indah sekali," seru Dita bertepuk tangan.


Ariana menarik ikat rambutnya karena tatanannya yang berantakan ketika dia tidur tadi. Rambut panjangnya yang lurus dan tebal tergerai indah terkena sapuan angin laut. Wanita itu telah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik. Memang dari dulu cantik hanya saja dulu masih terlihat masih sangat kecil ketika mereka menikah. Pikir Mikael.


Wanita itu menggelung rambutnya asal. Matanya tidak lepas menatap ke arah lautan lepas.


"Lihat, ada ikan terbangnya," tunjuk Ariana di kejauhan. Dia tersenyum indah. Untuk pertama kali pria itu melihat Ariana tersenyum dengan wajah ceria. Selama ini dia melihat wanita itu selalu menekuk wajah bila melihat dirinya.


"Kau cantik jika tersenyum," celetuk Mikael tiba-tiba. Membuat Ariana terkejut.


"Aku memang cantik, sewaktu SMU aku ikut lomba kecantikan di daerah dan aku pemenangnya," ungkap Ariana percaya diri.


"Aku baru tahu," Mikael menatap ke arah laut.


"Bagaimana kau tahu bila dipikiran mu itu hanya wanita lain pada saat itu." Mereka lalu saling menatap. Pria itu bisa melihat rasa sakit di tatapan Ariana.


"Aku belum siap menikah saat itu," ucap Mikael.


"Bukan itu yang kau katakan padaku. Tapi akh, sudahlah, terlalu sakit bila mengenang itu."


Ariana lalu berjalan meninggalkan Mikeal dan anaknya. Dia butuh waktu untuk sendiri. Wanita itu lalu duduk di salah satu kursi penumpang dan memainkan handphonenya. Mengirim pesan pada Adam. Sayang tidak ada sinyal di kapal ini.


Mikael datang dengan beberapa bungkus kacang rebus hangat ditangan. Dia membelinya dari pedagang. Dita nampak berjalan disamping ayahnya. Mereka lalu duduk di sebelah Ariana. Wanita itu memperlihatkan ketidaksukaannya namun Mikael cuek saja.


Pria itu menawari Ariana kacang dan wanita itu menerimanya. Beberapa wanita muda terlihat memperhatikan Mikael. Pria itu melemparkan senyum nya membuat mereka tersenyum dan tertawa senang.


"Apakah kau selalu tebar pesona pada semua wanita?" tanya Ariana sembari membuka kulit kacang. Dia melihat Dita kesulitan membuka kacang ditangannya. Ariana memberikan kacang yang dia kupas pada anak itu. Seperti biasa Dita menatap Ariana terlebih dahulu baru memakannya.

__ADS_1


"Aku tidak perlu tebar pesona mereka yang akan mendekat sendiri. Jika kau terus memandangiku, kau juga akan ikut terpesona, hati-hati, kasihan Adam." Pria tersenyum jahil membuat wajah Ariana pias seketika.


__ADS_2