Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Menjemput Dita


__ADS_3

Mikael berpikir sejenak. Sedangkan Ariana meringis menatap suaminya. Elang ingin tertawa keras tetapi ditahannya. Ayahnya memang luar biasa hebat. Syarat ini membuat mereka tahu niat Mikael bersama dengan Ariana itu apa.


Ariana mereka sangat berharga dan tidak akan dilepas begitu saja. Mikael kira dia bisa mendapatkan adiknya kembali dengan mudah. Jangan harap!


"Saya setuju dengan syarat dari, Paman. Namun, aku pun punya permintaan. Walau aku tinggal di sini, ijinkan saya juga ikut membiayai pengeluaran rumah. Saya tahu Paman lebih dari mampu untuk melakukannya tetapi itu sebagai bentuk kewajiban saya terhadap istri dan anak," pinta Mikael.


"Berikan saja uangnya pada Ariana biar dia yang memegang pengeluaran rumah ini sekalian untuk belajar ketika nanti berumah tangga."


"Sekarang sudah berumah tangga, Paman," sela Mikael tetapi menelan kembali ucapannya.


Sanjaya menatap tajam kepada Mikael.


"Aku belum mengakuinya. Aku belum percaya padamu sebelum kau bisa membuktikan padaku niat baikmu untuk kembali bersama Ariana!" Sanjaya bangkit dan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Elang yang bersiul sembari meletakkan kedua tangannya ke saku celana.


"Apakah ini baik untuk kita?" tanya Ariana ragu.


"Setidaknya aku diberi kesempatan untuk dekat denganmu dan membuktikan diri jika aku layak bersanding denganmu."


"Kalau Ayah tahu jika," Ariana menunduk menatap ke arah perutnya.


"Kita lihat saja, apakah satu malam itu bisa membuat perkataan mu menjadi nyata jika tidak hadapi semuanya."


"Kalau begitu aku akan mengambil Dita kemari dan membawa perlengkapannya."


Mikael bangkit dan hendak berjalan keluar tetapi langkahnya terhalang dengan pertanyaan dari Ariana.


"Mike, kau tadi kemana?" tanya Ariana ragu. Bukannya menjawab Mike malah tersenyum. Dia senang dengan perhatian Ariana.


"Mike?" tanya Ariana lagi.


"Aku tadi keluar sebentar untuk mencari makanan," kata Mikael berbohong.


"Kok lama sekali, aku takut kau tidak akan kembali?"


"Bertemu dengan saudara, kami bersama cukup lama lalu pulang kemari. Ya, pulang." Mikael tersenyum menyebut kata pulang.


"Aku pergi dulu," kata Mikael menuruni tangga depan rumah. Ariana mengambil tangan Mikael lalu mencium punggung tangannya membuat Mikael terhenyak untuk sesaat. Rasa hangat masuk ke dalam dadanya. Dia lalu mencium dahi Ariana. Membuat wanita itu membeku di tempat seketika.


"Mencium bolehkan?" tanya Mikael setelahnya. Ariana lalu menoleh ke kanan dan kiri orang yang tadi melihat kebersamaan mereka lalu meneruskan kembali kegiatannya.

__ADS_1


"Aku akan datang nanti, setelah semuanya siap. Kau tunggu di sini, ya," kata Mikael lembut. Ariana menganggukkan kepala.


Dia lalu pergi dari rumah itu membawa mobilnya kembali ke rumah keluarga Toha untuk memberitahu berita bagus ini.


Mikael pulang kembali dengan perasaan bahagia. Sebuah senyum lebar terlihat di wajahnya walau syarat Ayah Ariana terasa berat namun dia berharap bisa melakukannya dengan baik.


"Ayah," teriak Dita ketika berjalan menyongsong Ayahnya kembali pulang.


Mikael memeluk anaknya dan mencium penuh cinta.


"Aku begitu merindukanmu," ujar pria itu.


"Aku juga rindu Ayah, ayah lama sekali tidak pulang. Untung Nenek menemaniku tidur," tutur Dita memperlihatkan ekspresi keberatannya. Tangannya akan bergerak kesana kemari ketika berbicara.


"Maaf, Ayah tidak pulang agar bisa membawa Ibumu pulang juga." Adry lalu menggendongnya ke masuk ke dalam rumah. Keluarganya langsung menyambut ketika tahu Mikael kembali ke rumah. Nampak, kecemasan terpancar dari wajah semua orang terutama ibunya.


"Wajahmu," kata Ibu Siti membawa anaknya duduk ke sofa.


"Zahra, tolong ambil kota P3K," seru Ibu Siti. Zahra yang mendengar Ibu Siti memanggilnya langsung mengambil kotak itu.


"Apa yang terjadi kenapa kau pulang tanpa membawa Ariana?" tanya Ayah Sofyan tidak sabar. Di berdiri di sebelah Ibu Siti. Semua orang pun menanti jawaban Mikael. Dita lalu di berikan kepada Ameena.


"Berat untuk membuat keluarga itu percaya padaku. Mereka tidak serta merta memberi kesempatan padaku untuk membawa pulang Ariana."


"Aku kemari untuk membawa Dita pergi ke rumah Ariana?" Semua orang membuka mulutnya.


"Untuk apa, bukannya dapat restu kau malah dapat pukulan lagi dari mereka?" cetus Ayah Sofyan kesal.


"Aku akan tinggal di sana bersama Dita."


"Lha katamu tadi tidak dapat ijin untuk membawa Ariana pulang?"


"Pak Sanjaya tadi mengatakan mengijinkanku tinggal di sana selama satu tahun untuk membuktikan kesungguhan dari ucapanku. Mereka belum bisa seratus persen percaya bahkan belum percaya sama sekali. Hanya saja memberi kesempatan padaku untuk mendekati Ariana."


"Memang tidak mudah mengambil anak gadis orang yang sudah kau lukai. Cukup banyak pertimbangan untuk keluarga Sanjaya memberikan keperawanannya lagi padamu." Semua orang menganggukkan kepala menyetujui perkataan Ibu Siti.


"Kali ini lakukan yang terbaik, jangan kecewakan mereka, jangan permalukan keluarga ini karena tingkahmu dan jangan pernah melukai Ariana lagi."


Mikael mengatupkan bibir dan mengangguk dengan tegas.

__ADS_1


"InsyaAllah, Kek," kata Mikael.


Ibu Siti lalu mengambil kotak obat yang dibawa oleh Zahra. Dia mulai mengobati luka Mikael dan melihat wanita itu meringis kesakitan.


"Sakit?" tanya Ibunya.


"Apa di tubuhmu juga ada luka," tanya wanita itu khawatir. Dia lalu menarik kaos yang menutup tubuh anaknya.


"Ya, Tuhan. Siapa yang memukulmu seperti ini," ujar Ibu Siti kesal.


"Dia pantas mendapatkannya," balas Ayah Sofyan.


"Namun, sudah berkali-kali lho, Yah, Mike mendapatkan perlakuan buruk seperti ini."


"Untung saja dia tidak dibunuh di sana," debat Ayah Sofyan.


"Ayah, kok nggak ada rasa apa gitu ma anak sendiri," omel Ibu Siti.


"Kok, jadi Ayah yang jadi sasaran seharusnya anakmu itu lho. Tadinya Ayah pikir kau akan tidak akan langsung pulang tetapi masuk ke rumah sakit terlebih dahulu."


"Hush! Berharap untuk anak kok yang jelek2," Ibu Siti mengelus dadanya. "Astaghfirullah hal ngadzim."


Mikael menghela nafasnya. Dita terlihat ngeri dengan luka ayahnya. Dia mendekat dan memegang bekas biru dan gelap di tubuh ayahnya.


"Sakit, Ayah?" tanya Dita.


"Sedikit, tapi tidak apa-apa," jawab Maikel menepuk kepala anaknya dengan penuh sayang.


"Ini kenapa Ayah?" tanya Dita penasaran menusuk bekas luka ayahnya.


"Ayah digigit nyamuk kejam sehingga biru dan merah seperti ini."


"Nyamuk?!" Dita mengernyitkan dahi dan menyatukan kedua alis. Semua yang ada di ruangan itu menahan tawanya.


"Memang nyamuknya di rumah Ibu sebesar apa? Apa sebesar kambing atau gajah? Kok merahnya besar seperti ini?


"Sebesar Ayah," jawab Paman Sadewa masuk ke dalam ruangan itu.


"Bagaimana kau bisa lepas dari mereka, Nak?" lanjut pria itu.

__ADS_1


"Aku ditolong oleh Ariana sehingga mereka melepaskanmu selama semalam."


"Oh, ya, katanya Ariana sedang hamil?" tanya Ibu Siti merasa senang tapi membuat Mikael menepuk dahinya. Haruskah dia jujur yang akan membuat keluarganya kecewa kembali kepadanya.


__ADS_2