
Sore harinya keluarga Toha datang ke rumah Sanjaya setelah mendengar kabar sakit besan mereka. Selain itu, mereka ingin memperbaiki hubungan yang telah lama putus.
Kunjungan mereka yang tiba-tiba membuat seluruh rumah terkejut tetapi tidak menimbulkan permasalahan.
"Kakek, Ayah, Ibu," panggil Ariana ketika melihat mertuanya datang. Dia langsung memeluk mertuanya dan mencium punggung tangan mereka.
"Lho perutmu masih datar?" tanya Ibu Siti memegang perut Ariana. Ariana menatap ke arah Mikael.
"Dia tidak jadi hamil, Bu," terang Mikael.
"Kenapa? Memang kau tidak bisa membuatnya cepat hamil?" tanya Ibu Siti.
"Bukan tidak mau hanya belum saatnya," ucap Mikael tenang.
"Ehem...," deheman Sanjaya dibelakang mereka. Membuat Mikael terkejut. Dia menundukkan wajahnya karena malu kebohongan mereka terungkap oleh Ayah mertua.
Suasana tegang mulai terasa. Semua takut jika Sanjaya tidak akan menerima kedatangan rombongan keluarga Toha.
"Selamat siang Sanjaya. Maaf jika kami mengganggu waktumu. Aku dengar kau sakit jadi kami kemari untuk mengunjungimu," ujar Kakek Toha maju ke depan dan mengulurkan tangan pada Sanjaya.
Sanjaya membalas uluran tangan itu membuat semua orang yang berada di sana bernafas lega. Mereka tersenyum saling berpandangan.
"Aku hanya sedikit pusing dan Ariana memperbesarnya."
"Kau memang harus banyak istirahat, kau selalu bekerja terlalu keras."
"Tidak juga. Mari silahkan masuk."
"Kakek, Nenek," sambut Dita. Ibu Siti lalu memeluk dan menggendongnya.
"Kau terlihat lebih gendutan di sini," ucap Ibu Siti. Dita tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi putihnya.
Sanjaya lalu menyambut kedatangan mereka semua. Dia duduk di kursi kebesarannya di ujung sofa sedangkan yang lain berada di sofa panjang yang saling berhadapan. Mikael duduk di dekat Ameena.
"Na, kenapa berdiri saja. Ambilkan mertuamu minuman dan makanan kecil," perintah Sanjaya.
__ADS_1
Ariana meringis dan tersenyum canggung lalu pergi ke belakang.
"Ariana bawa sekalian semua ini ke belakang," ucap Ibu Siti. Keluarga itu membawa banyak bingkisan kemari. Ariana lalu membawa masuk dibantu oleh Zahra dan beberapa pelayannya.
"Kenapa harus repot-repot," kata Sanjaya.
"Tidak, ini memang sudah seharusnya." Ibu Siti menghela nafasnya berat.
"Seharusnya kami sudah melakukan ini sedari dulu tapi karena kesalahan Mike ..., kami tidak bisa melakukan apa yang seharusnya jadi kewajiban kami sebagai besan dan sebagai mertua Ariana. Semua terdiam. Mikael lebih banyak menunduk. Dia cukup tahu diri untuk tidak mengatakan apapun.
"Untuk itu kami kemari. Sebenarnya sudah lama ingin kami lakukan hanya saja semuanya tidak bisa terjadi jika Mikael sendiri tidak minta maaf pada kalian. Saya sangat merasa bahagia sekaligus lega mendengar kalian mau menerima Mike di rumah ini setelah apa yang anak kami perbuat pada Ariana." Sofyan menatap Mikael dengan perasaan hati yang masih kesal jika mengingat hal itu.
"Kami juga cukup tahu diri dan malu dengan perbuatan Mike. Untuk itu kami tidak bisa membawa wajah ke hadapanmu."
"Atas semua kesalahan Mikael dan kesalahan keluarga kami. Dengan rendah diri kami ucapakan permintaan maaf." Haji Toha menganggukkan kepalanya.
"Aku juga berharap kita bisa menjalin hubungan kekeluargaan lebih dekat lagi." Lanjut Haji Toha.
"Awalnya aku masih marah dan tidak terima dengan apa yang putra kalian lakukan. Aku sangat ingin membunuhnya kala itu namun perkataan Ariana yang memberitahu jika dia sedang hamil membuat langkahku terhenti."
Semua arah pandang mata tertuju padanya. Dia tersenyum canggung lalu membawa minuman itu ke meja.
"Maaf, Paman, aku juga tidak tahu mengapa Ariana mengatakan hal itu. Aku sudah ingin jujur hanya saja, aku terlalu pengecut untuk mengatakan kebenarannya."
"Bukan seperti itu Ayah. Waktu itu aku memang takut jika aku hamil karena kami telah ... Ayah tahu bagaimana hubungan suami istri itu. Jadi spontan saja aku mengatakannya. Bagaimana jika anakku lahir tanpa ada seorang Ayah di sisinya. Aku tidak mau."
"Jadi kau sebenarnya hamil atau tidak?'' Ameena tadi sudah mendengar Ariana mengatakan tidak hamil tetapi dia ingin Ariana menceritakan semuanya."
"Bagaimana aku bisa hamil, ayah melarang Mikael menyentuhku selama dia belum dapat restu," rutuk Ariana terus terang membuat semua orang menutup mulutnya. Mikael sendiri menunduk, menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin menguji sampai dimana kejujuran Mikael," kata Sanjaya.
"Dia itu sangat memegang janjinya sampai ... aku kesal dengan janjinya itu," kata Ariana. "Aku kesal juga pada Ayah mengapa tidak segera memberi restu padahal dia sudah membuktikan diri jika niatnya ingin kembali itu benar-benar dari hatinya," omel Ariana mengeluarkan isi hatinya.
"Ckkk, Rupanya anakku sendiri yang tidak sabar," decak Sanjaya. Haji Toha dan Pak Sofyan tertawa mendengar rajukan Ariana.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu nanti malam kalian bisa satu kamar," kata Sanjaya.
"Sungguh Ayah," kata Ariana melonjak bahagia memeluk Sanjaya. "Terima kasih."
"Kau itu sudah dewasa tetapi seperti anak-anak saja," gerutu Sanjaya.
"Tidak apa-apa, bagi Ayah aku tetap putri kecilmu yang manja." Ariana mencium pipi Ayahnya lalu mengerlingkan mata pada Mikael.
Semua yang melihat serempak tertawa keras.
Sanjaya merasa salut pada Mikael. Dia benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak menyentuh Ariana. Padahal dia kira setelah kebersamaan mereka yang sering dikamar belakang dan pergi berdua membuat mereka leluasa untuk melakukan hal itu. Nyatanya, malah anaknya sendiri yang mengeluh dan marah padanya. Sedangkan menantunya malah menerima semua yang dia perintahkan tanpa mengeluh sedikitpun.
"Aku pikir setelah apa yang terjadi tidak akan bisa membuat keluarga kita kembali rukun. Aku sudah sangat berkecil hati," ujar Haji Toha dengan suara bergetar.
"Aku malu pada almarhum Ayahmu jika apa yang dilakukan cucuku itu malah memecah hubungan yang sudah terjalin lama. Namun, setelah ini aku bisa pergi dengan tenang jika Tuhan ingin memanggilku kembali karena keluarga kita telah bisa bersatu lagi."
"Terima kasih karena kau telah memaafkan kesalahan kami semua," Haji Toha menyeka air mata yang sedikit keluar. Dalam hatinya memang sangat merasa malu dengan skandal ini.
"Kita lupakan saja semuanya dan merajut kembali hubungan yang lama putus ini," lanjut Sanjaya.
Semua orang menganggukkan kepalanya.
"Kalau sudah begini, kalian harus membuat adik baru buat Dita. Lagian Dita juga sudah besar," sela Ibu Siti.
"Adik bayi yang seperti boneka?Aku mau," kata Dita bertepuk tangan.
"Bukan seperti boneka tetapi memang tubuhnya masih kecil dan menggemaskan," terang Ibu Siti.
"Oh, ya. Dimana Nak Elang?" tanya Haji Toha.
"Entahlah, anak itu beberapa hari ini terlihat sangat sibuk dengan urusannya."
"Benarkah? Tetapi sudah tiga kali ini Elang mengantarkan Zahra pulang," tutur Haji Toha.
"Pertama waktu mobil tunangan Zahra rusak, lalu dia mengantar setelah Zahra melakukan foto prewedding dan ketiga tadi setelah Zahra datang ke tempat percetakan kartu undangan pernikahan. Setelah aku tanya, dia mengatakan punya usaha mengurus pernikahan dengan teman-temannya. Kami secara tidak langsung jadi kliennya. Mungkin itu yang membuat anak itu sibuk.''
__ADS_1
"Elang mengantarkan Zahra pulang?" balik Mikael.