Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Chemistry


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, persiapan pernikahan untuk Zahra sedang dilakukan. Mereka mulai memesan dekorasi dan baju yang akan mereka gunakan nanti. Tidak ada jasa WO semua ingin mereka lakukan sendiri secara gotong royong bersama anggota keluarga yang lain.


Acara lamaran akan dilaksanakan setelah Mikael datang dari Jakarta di perkirakan dua hari lagi. Dengan dada yang terasa sesak Elang mendengar semua persiapan yang dilakukan oleh keluarga Toha untuk pernikahan Zahra.


"Lalu apa rencana mereka besok?" tanya Elang.


"Foto prewedding," jawab Hanung sembari menyesap rokoknya.


"Di mana?" tanya Elang.


"Pulau Tegal Mas," ujar Hanung. "Fahri yang akan jadi fotografernya," ujar Hanung tersenyum nakal karena punya rencana gila.


"Aku tahu otak busukmu itu," ujar Elang. Mereka lalu tertawa.


"Biar aku urus calon mempelai prianya, kau urus calon istrimu saja."


Mereka lalu ber TOS ria dan tertawa.


***


Zahra sudah siap dengan riasannya dan menunggu kedatangan calon suaminya untuk melakukan foto prewedding. Dia memakai dress putih panjang dengan mahkota bunga. Mereka akan melakukan foto di perahu di tengah pantai pasir putih yang indah. Beberapa bangunan seperti gubuk berjejer nantinya juga akan menjadi latar foto pada sesi berikutnya.


Zahra sudah menunggu selama satu jam namun nampaknya sang mempelai pria belum juga datang. Selain itu, dia juga tidak memberi kabar.


Zahra sudah mengirim pesan dan mencoba untuk menghubungi melalui sambungan telephon namun rupanya handphone pria itu terlihat tidak aktif. Zahra khawatir.


Tiba-tiba matanya membelalak melihat Elang sedang mendekor kapal yang akan mereka gunakan. Pria itu sedang menata bunga-bunga di atas kapal itu dan mengamatinya. Lalu meletakkan satu tangannya di dagu nampak berpikir dan mengulangi lagi tatanan bunga di kapal itu.


Zahra tidak berani untuk menyapa atau mendekat. Dia tidak ingin membuat masalah dengan keluarganya. Dia cukup tahu diri, siapa dirinya. Terlihat dekat dengan Elang akan membuat rumor yang buruk untuk keluarga Toha.


"Uni, berapa lama lagi calon suaminya akan datang?" tanya Fahri fotografer yang bertugas.


"Tunggu setengah jam lagi, ya Kakak. Mungkin dia punya masalah di jalan. Jika setengah jam lagi kok belum ada kabar kita bisa membatalkannya."


"Ya, sudah," kata Fahri kembali lagi mengecek kamera dan semua hal yang akan mereka gunakan untuk melakukan pemotretan.


Satu jam sudah berlalu lagi, hingga akhirnya sebuah panggilan video datang ke handphone Zahra. Dia lalu menerima panggilan video itu yang datang dari tunangannya.

__ADS_1


"Hallo, Zahra," panggil Fahri dari balik handphone itu. Fahri seperti berada di lokasi pertambangan.


"Ya Kak."


"Aku minta maaf, tidak bisa datang ke acara prewedding pernikahan kita. Aku ada urusan pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan maafkan aku."


"Ya, sudah," balas Zahra lemas. Belum apa-apa pria itu sudah mendahulukan pekerjaannya dari pada dirinya. Andaikata tidak bisa mengapa tidak menghubunginya dari kemarin atau tadi sehingga tidak perlu menunggunya terlalu lama.


"Tadi aku sudah menghubungi fotografernya. Kau bisa melakukan pemotretan tanpaku. Nanti ada yang akan menggantikan diriku dan bisa di edit dengan wajahku," ujar Rifky.


"Kak... apa tidak apa-apa?" tanya Zahra. "Kita bisa menggantinya lain hari saja, Kak."


"Kasihan orang yang sudah bekerja untuk pemotretan ini. Kita harus menghargai mereka. Lagipula aku merasa tidak enak pada keluargamu kalau sampai tahu aku tidak bisa datang," bujuk Rifky.


"Berarti aku harus berfoto dengan pria lain?" tanya Zahra menegaskan perkataan Rifky. Dia menghela nafas panjang.


"Aku tidak keberatan jika itu yang kau pikirkan. Asalkan posenya tidak terlalu dekat. Aku bisa cemburu nanti."


"Oh, begitu. Kalau begitu ya sudah jika kau ingin demikian."


"Apa kau marah?"


"Zahra maaf, bukannya aku menyepelekan hal ini tetapi ada masalah di perusahaan yang butuh penanganan langsung."


"Ya, sudah tidak apa-apa. Pekerjaan itu juga penting. Jika kau tidak bisa mengatasinya, kau akan malu di depan Kakek." Namun, ada sebersit rasa kecewa yang dalam di hati Zahra. Begitu mudah pria itu menyuruhnya berfoto dengan pria lain. Dia seperti tidak dihargai oleh Rifky.


"Ya, aku sebagai karyawannya harus memperlihatkan keseriusanku dalam bekerja."


"Aku mengerti."


"Ya, sudah kalau begitu."


"Jangan marah, nanti aku tidak bisa bekerja dengan tenang. Tersenyumlah untuk membuat hariku lebih indah."


Zahra lalu tersenyum dengan penuh paksaan.


"Walau kita baru saling mengenal tetapi yakinlah jika aku mencintaimu."

__ADS_1


Zahra menganggukkan kepalanya.


Dia menutup sambungan telepon itu setelahnya. Dia mengangkat wajah dan hampir menjatuhkan handphone tatkala melihat Elang sedang menatapnya dengan intens.


"Hati-hati, Uni," kata Fahri meraih handphone yang hampir jatuh dan menyerahkan pada Zahra.


"Terima kasih."


"Uni, tadi Bang Rifky mengabariku jika dia tidak bisa datang karena ada masalah dengan pekerjaannya."


"Ya, aku baru saja diberitahu olehnya."


"Daripada foto prewedding ini dibatalkan lebih baik kita mengganti model prianya, kita bisa mengedit wajahnya nanti."


"Siapa modelnya?" Zahra sudah merasa ada bau-bau campur tangan Elang di sini.


"Bagaimana kalau temanku ini, Uni. Dia itu tampan dan tubuhnya cukup apik tidak jauh beda dengan calon suami Uni," saran Rifky.


Betulkan apa yang dipikirkan Zahra. Kedatangan Elang akan membuat masalah.


"Lebih ganteng dan lebih bagus tubuhku," ujar Elang menaikkan kerah bajunya.


"Betul tidak Zahra?" tanya Elang.


"Oh, kalian sudah saling mengenal?" Fahri pura-pura tidak kenal dan tidak tahu jika semua itu Elang yang merencanakan.


"Betul, dia ini teman ku," ujar Elang mendekat ke arah Zahra. "Teman hidup," bisiknya lirih pada Zahra. Membuat wanita itu menoleh karena terkejut.


"Maaf Uni temanku ini memang rada-rada, tetapi baru kali ini dia mau merayu wanita lho, Uni. Biasanya dirayu wanita."


"Bagus sekali kalau kalian memang sudah mengenal, biar nanti chemistrinya dapat."


"Siap, aku akan jadi calon suaminya kini," ujar Elang.


"Kalau begitu sana... ganti bajumu!" usir Fahri pada Elang agar mengganti bajunya dengan jas lengkap.


Setengah jam kemudian Elang datang dengan stelan jasnya. Dia nampak tampan dan berwibawa dengan baju itu. Sejenak Zahra terpana melihatnya.

__ADS_1


Mereka lalu menuju perahu yang telah mereka sewa dan dihias oleh Elang sendiri. Zahra nampak sulit dengan pakaiannya ketika akan melompat ke perahu. Elang lalu mengulurkan tangannya. Zahra menatap tangan Elang sebentar lalu meraihnya tetapi pijakan yang salah hampir saja membuat Zahra terjatuh ke air tetapi Elang dengan sigap memegang pinggang wanita itu dan mengangkatnya naik ke tengah perahu.


Di saat itu terjadi, Fahri memotret momen tadi yang natural. Tatapan mereka terlihat sangat alami dan penuh cinta. Itu yang Fahri tangkap. Dia tidak menyangka jika Elang yang cuek dan dingin pada wanita bisa jatuh cinta seperti itu hingga melakukan semuanya demi memperoleh gadis itu.


__ADS_2