Neraka Dosen Pemikat

Neraka Dosen Pemikat
Calon Istri Idaman


__ADS_3

Acara pertunangan Zahra akhirnya dilangsungkan. Ariana sekeluarga pergi dengan mengendarai dua mobil. Satu mobil berisi Arina, suaminya dan Dita sedangkan mobil lain membawa Elang dan Pak Sanjaya.


Setelah sampai di depan rumah mereka di sambut dengan baik oleh keluarga Toha. Banyak orang yang terkejut melihat pemandangan ini karena sepengetahuan mereka keluarga ini telah bermusuhan lama.


Namun, melihat kebersamaan Mikael dan Ariana yang harmonis membuat mereka terdiam. Kini mereka tahu dari mana hubungan baik itu berasal.


"Ariana," panggil Ibu Siti ketika mereka bertemu Wanita itu langsung memeluk menantunya dengan bangga dan membawa masuk ke dalam ruang acara. Dia lalu memperkenalkan Ariana kepada semua orang.


Sedangkan, Pak Sanjaya berbicara dengan Pak Toha serta Mikael. Elang sendiri terdiam sembari netranya menatap ke seluruh ruangan yang ada di sana. Di mana Zahra. Dia belum terlihat sama sekali.


Akhirnya yang ditunggu keluar juga. Zahra masuk ke tempat acara. Wanita itu nampak anggun dengan kain kebaya berwarna pink yang sederhana namun terlihat cantik. Sepasang anting berlian berkilauan terpasang di kedua telinganya. Anting yang Elang berikan kemarin malam. Dia memaksa Zahra memakainya jika ingin agar buku diary miliknya dikembalikan.


Elang menatap Zahra dari jauh, sebuah senyum jahil yang menggoda dia perlihatkan ketika tatapan mereka bertemu.


"Wah, kau cantik sekali Zahra," puji Bu Siti. Ibu Siti melihat anting Zahra dan mengerutkan dahi tetapi itu hanya sejenak. Dia kembali lagi bersikap biasa.


"Iya, kau cantik sekali hari ini aku sampai pangling," kata Ariana memeluk bahu Zahra.


"Di mana Dita, Kak?" tanya Zahra.


"Itu bersama dengan ayahnya," tunjuk Ariana ke arah rombongan keluarganya.


"Kita temui mereka, yuk."


"Tapi dia harus bertemu dengan keluarga dari calon suaminya terlebih dahulu," bisik Ibu Siti.

__ADS_1


"Biar mereka ikut bergabung, Bu."


"Ya, sudahlah jika kau memaksa."


Tangan Ariana membawa Zahra ke kumpulan keluarganya.


"Kau pasti gugup ya, tanganmu dingin dan basah."


Zahra menganggukkan kepalanya.


"Tenang saja semua pasti akan berjalan dengan lancar."


"Bagaimana bisa tenang, Kak kalau Elang selalu membayangiku." Batin Zahra bermonolog.


"Ini dia calon pengantin wanitanya. Cantik kan?" seru Zahra pada semuanya.


Haji Toha dan Sofyan tersenyum. Sedangkan Mikael menepuk kepala Zahra dengan pelan.


"Kau nampak cantik. Semoga kebahagiaan menyertaimu."


Sedangkan Elang menatap Zahra dari balik punggung Mikael.


"Aku juga berharap Kak Elang dapat gadis yang kalem dan baik seperti Zahra. Jangan seperti gadis-gadis yang mengejar Kakak selama ini. Mereka seperti tidak tahu malu," celetuk Ariana pada Elang.


"Tenang saja aku pasti akan mendapatkan gadis seperti dirinya besok." Semua orang menatap Elang.

__ADS_1


"Zahra memang paket komplit, semua pria pasti ingin mendapatkan dirinya," Elang tersenyum membuat Zahra membelalakkan mata karena terkejut dengan sikap berani Elang.


Sedangkan Haji Toha hanya menarik nafas panjang. Instingnya yang sudah berpengalaman hidup selama tujuh puluh tahun lebih mencium hal yang tidak beres dari hubungan Zahra dan Elang. Lebih tepatnya anak dari Sanjaya itu nampak sangat menyukai Zahra namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sebentar lagi Zahra akan menikah dengan Rifki.


Bukan dia tidak suka dengan Elang tetapi trak recordnya yang sudah menghajar Mikael membuat minus dirinya di depan mata Haji Toha. Dia menganggap Elang adalah anak yang sedikit nakal dan kurang sopan karena hal itu.


Rifky dan keluarganya mulai mendekat ke arah Zahra.


"Hai," sapa Rifky pada Zahra dengan kaku. Mereka memang bertemu beberapa kali sehingga sulit bagi keduanya untuk terlihat biasa didepan semua orang.


"Hai juga Kak Rifky," balas Zahra.


"Ih, kok gitu sih sama calon suami, harusnya kalian lebih bagaimana gitu," celetuk Ariana


"Kau dulu juga malu-malu kucing ...," ujar Elang. Ariana lalu meringis menatap ke arah Mikael.


"Bapak dan Ibu sekalian sebaiknya acara lamaran ini kita mulai," ucap Haji Toha. "Ayo, Nak Rifky, gandeng Zahranya ke sana."


Rifky mengangguk lalu meminta tangan Zahra. Untuk sesaat Zahra menatap uliran tangan Rifky lalu menyambut dan tersenyum. Dia menghela nafas berat setelahnya. Menahan dadanya yang terasa sesak dan matanya yang panas.


Kedatangan Elang seperti menyiksa batinnya. Bagaimana pun rasa cinta mulai bersemi di hati Zahra tapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk mempertahankannya. Untuk apa, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan pria lain. Sedangkan, Elang nampak tidak peduli dengan semua yang terjadi.


Buruknya dia telah membaca buku Diary-nya yang mencurahkan semua isi hatinya selama ini. Elang pasti sudah tahu kalau dia juga mencintainya. Masalah pasti akan bertambah berat kali ini.


Zahra mencuri pandang pada Elang sekilas. Pria itu hanya tersenyum getir, ada kesedihan di dalamnya. Namun, anggukannya menyiratkan jika semua akan baik-baik saja. Elang bukan orang bodoh. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Namun, apa itu?

__ADS_1


__ADS_2