
Dua hari selama tinggal di ibukota membuat Ariana bahagia. Setelah Mikael menyelesaikan pekerjaannya di siang hari malamnya dia pasti akan mengajak Ariana dan Dita makan malam di tempat spesial.
Seperti juga hari ketiga berada di tempat ini, Mikael mengajaknya berbelanja. Ariana yang terbiasa membeli barang diskonan menarik tangan Mikael untuk melihat barang itu.
"Ayo, Yang, kita ke sana." Ariana menarik tangan Mikael.
"Untuk apa? Lihat, kita harus berdesakan apa tidak kasihan pada Dita," bisik Mikael sembari menekuk wajahnya. Seumur hidupnya dia baru melakukan ini bersama Ariana. Bukan membedakan, hanya saja Sheila lebih suka berburu barang branded yang tidak perlu capek mengantri. Sedangkan Ariana sosok ibu rumah tangga jaman now yang rela berdesakan demi sebuah baju diskonan.
"Ini punya saya Mba," ucap seorang wanita muda pada Ariana.
"Yeah, aku yang sudah memegangnya terlebih dahulu."
"Saya sudah memilihnya hanya saja saya sampaikan di samping."
"Kalau sudah milih ya dipegang..." Mikael menyentuh bahu istrinya. "Eh Yang, ada apa sih!"
"Kita pergi dari sini."
"Nanti dulu aku mau itu," tolak Ariana. Hendak mengambil baju yang dia perebutkan dengan wanita di sebelahnya.
Mikael yang kesal lalu menarik tangan Ariana dari kerumunan emak itu.
"Ih, Mike, kamu ini kenapa. Baju kesukaanku jadi diambil wanita tadi kan?" rutuk Ariana kesal.
"Aku bisa membelikanku yang lebih bagus tanp harus berdesakan dan bertengkar dengan pengunjung yang lain."
"Aku nggak mau, aku mau baju itu," ujar Ariana.
"Sayang, untuk apa kita bertengkar dengan orang yang tidak dikenal hanya demi barang sepele."
"Tapi itu diskon 70 %, sayang jika harus dilewatkan."
Mikael gemas dengan istrinya sendiri.
__ADS_1
"Kau berebut diskon sampai lupa dengan suami dan anak. Ya sudah, sana ambil baju yang kau mau. Kita pergi dari sini saja, Dita." Mikael lalu menggandeng tangan Dita meninggalkan Ariana. Ariana lalu mengejar suaminya.
"Sayang, aku kan hanya ingin menghemat uang," ujar Ariana.
"Tapi tidak dengan meninggalkan Dita berbelanja dan sibuk dengan diri sendiri."
"Maaf! Aku kelupaan."
"Sekarang ada aku, jika kau pergi jalan berdua dengan Dita, kau malah akan mengabaikannya." Ariana tertegun sejenak.
"Lain kali aku tidak akan melakukannya. Ini pertama dan terakhir kali," ucap Ariana dengan penuh penyesalan.
Mikael mengusap lembut kepala istrinya.
"Aku tahu maksudmu tetapi keluarga lebih utama. Untuk apa kau berburu itu jika kau bisa beli yang lain. Berikan kesempatan pada mereka yang lebih membutuhkannya. Kau tidak harus melakukan itu. Bukan karena aku tidak suka dengan barang diskonan itu tetapi aku tidak suka kau bertengkar dengan orang lain hanya demi barang yang lebih murah."
"Dirimu terlalu berharga untukku, jadi jangan jatuhkan harga dirimu dengan melakukan hal buruk itu lagi."
Ariana menganggukkan kepala.
"Ayah tidak sedang memarahi Ibu, dia hanya sedang mengajari Ibu bagaimana caranya berhubungan baik dengan semua orang." Ariana mencium Dita.
"Sekarang kita cari ke tempat lain." Mikael mengajak keluarganya ke sebuah toko barang branded.
"Aku ada pertemuan dengan kawan relasi besok malam. Aku ingin kau membeli pakaian yang terbaik di butik ini."
"Kau tidak salah?" tanya Ariana bergidik ngeri ketika Mikael membawanya masuk. Bukan tanpa sebab dia melakukannya. Harga barang di sini setinggi langit. Harga kaos biasa saja lima juta lebih. Sebuah topi yang dipajang berharga tujuh jutaan. Bagaimana dengan gaun?
"Sayang," suara Ariana terdengar gelisah dan keberatan. Dia memang dari keluarga mampu tetapi orang tuanya paling hanya membeli baju di swalayan dengan harga standar. Tidak pernah mengajarinya untuk menghamburkan uang.
Almarhum ibunya pernah mengajari untuk berhemat. Katanya, 'Orang dihargai karena sikap atau perilakunya bukan dari apa yang dikenakannya. Jika karena itu maka tidak akan raja atau ratu yang dibenci oleh rakyatnya karena hidup berfoya-foya sedangkan kaum bawah hidup dengan kekurangan.'
'Kita di sini menjadi contoh untuk masyarakat bawah. Mengayomi mereka. Jika kita membuang uang yang banyak hanya demi harga diri lalu apa yang orang kecil ini pikirkan tentang kita? Semua yang kita dapatkan adalah karena hasil jerih payah para tenaga kerja Ayah dan petani, yang rela mencucurkan keringat dan darah. Walau mereka sudah dapat bayaran yang pantas tetapi ingat! Kita tidak bisa begini jika tanpa kerja keras mereka.''
__ADS_1
Oleh karena itu, keluarga Ariana selalu berpakaian sederhana saja. Tidak terlihat berlebihan sekali walau mereka dikenal sebagai orang berada.
"Ini ... ," Ariana melihat harga yang tertera di sebuah gaun yang Mikael sodorkan untuknya.
"Kau jangan pikirkan harganya. Aku lebih dari mampu untuk membelikanmu gaun ini."
"Tiga puluh juta," bisik Ariana. Itu bahkan hampir sama dengan sebuah motor matic.
Mikael merasa gemas dengan istrinya sendiri. Jika dulu dengan Sheila dia akan merasa pusing ketika melihat banyaknya barang yang wanita itu beli tanpa melihat harganya. Sekarang dengan istrinya ini malah kebalikannya. Ariana terlihat khawatir dengan harganya seperti takut jika dia akan bangkrut ketika membeli baju itu.
"Itu sepadan dengan dirimu, Sayang. Biarkan aku membelikan apa yang terbaik untukmu dan bukankah ini pakaian pertama yang kubelikan untukmu jadi jangan menolaknya." ucap Mikael terdengar tulus. Ariana terpana dengan kata-katanya.
"Cobalah, baju mana yang kau suka. Namun, aku lihat baju ini sangat indah, aku membayangkan betapa cantiknya dirimu jika mengenakannya," ujar Mikeal
"Baju itu akan lebih bagus jika aku yang mengenakannya. Dia mana tahu dengan selera wanita kelas atas." Ariana menoleh ke samping untuk melihat asal suara.
"Mom...," panggil Dita memeluk Ibunya
"Mom juga ada di sini?" tanya Dita.
"Iya, Sayang, kebetulan Mom sedang mencari gaun dan sepatu. Mom sangat merindukanmu," Sheila memeluk Dita dengan erat.
"Aku juga rindu, Mom."
"Mike...," sapa Sheila. Mike terdiam hanya mengedipkan mata saja.
"Kau di sini. Aku ke rumahmu berkali-kali untuk mencari kalian. Tetapi kalian tidak ada dan katanya pulang ke kampung. Aku merindukan kalian," ujar Sheila.
"Ya. Kami memang memutuskan untuk tinggal di sana. Kau bisa menghubungi Dita lewat sambungan telepon."
"Namun, Mike, aku ibunya dan aku berhak bersamanya. Lagi pula aku juga mencintaimu." Mikael terdiam tidak ingin membuat masalah di depan umum.
"Aku ingin pulang bersama keluarga besarku dan hidup tenang bersama istri dan anakku di kampung. Sesuatu yang tidak ingin kau lakukan dulu, jadi jangan ganggu kami lagi!" kata Mikael dengan suara lirih setengah berbisik.
__ADS_1
"Maaf, jika dulu aku egois, tetapi aku ingin kembali padamu lagi dan aku akan melakukan yang kau mau. Kita bisa merajut keluarga yang bahagia bersama demi Dita," ucap Sheila terisak. Mengatakan semua itu tanpa malu-malu di depan semua orang. Sehingga mereka yang melihat pasti mengira jika Ariana adalah seorang pelakor.