
Keluarga itu lalu mulai berbincang seperti tidak ada masalah yang ada. Dari arah pintu utama nampak Elang berjalan menuju ke ruang utama. Dia menghentikan langkahnya tatkala melihat keluarga Toha ada di rumahnya. Menelan Salivanya yang tercekat.
"Assalamualaikum," sapa Elang.
"Wa'alaikum salam." Semua orang yang ada di rumah itu menjawab serentak.
Dia lalu bersalaman terhadap semua orang.
"Baru pulang, Nak?" tanya Haji Toha. Wajah Elang terlihat memerah.
"Iya, tadi sempat bertemu dengan teman di jalan lalu ngobrol." Elang merasa canggung karena mendapat tatapan tajam keluarganya.
"Kami tadi baru saja membicarakanmu. Kau begitu sigap mengurus usaha jasa untuk pernikahan."
"Aku hanya membantu teman-teman saja tidak lebih, sekalian untuk menambah wawasan serta memperluas circle usaha. Kebetulan di daerah ini jasa WO itu sangat jarang jadi aku berpikir untuk membuatnya dan menghubungi beberapa kawan yang punya usaha berhubungan dengan pernikahan. Seperti percetakan, fotografer, usaha tenda, katering dan lain-lain. Setelah faham, aku akan mengandeng mereka dalam usahaku nanti."
"Rencana yang bagus," ujar Pak Sofyan. Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum kaku.
"Oh, ya saya rasa pertemuan kita sampai di sini saja. Saya juga ingin mengundang kalian untuk datang ke acara lamaran anak kami, yang bernama Zahra. Besok malam."
"Insya Allah kami akan datang ke sana."
"Nak, Elang juga datang. Kau itu kan teman Zahra juga."
Elang mengantuk bibirnya dan menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kami pamit undur diri."
Keluarga Toha akhirnya keluar dari rumah setelah bersalaman dengan semua orang. Sanjaya dan anak menantunya mengantarkan ke depan sampai mobil mereka tidak terlihat lagi.
"Apakah yang dimaksud dengan calon Kakak iparku itu, Zahra?" bisik Ariana di telinga Elang. Pria itu hanya menatap adiknya tidak senang lalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ariana sendiri mengajak Dita masuk ke dalam untuk mengambil beberapa barang mereka di kamar Mikael agar dibawa masuk ke kamarnya.
"Bagaimana dengan pengiriman barang kali ini Mike?" tanya Sanjaya.
"Berjalan baik, Paman tidak ada kendala. Sepertinya harga buah-buahan sedang naik dan kita bisa untung lebih kali ini."
"Bagus. Nanti kau awasi saja para pegawai ketika memberikan bayaran pada para petani serta mengecek barang bawaan mereka. Setelah itu kau bisa istirahat baru jam satu malam kau awasi muatan yang akan dibawa keluar Jawa."
"Baik, Paman." Menunduk.
"Aku percayakan ini padamu, jangan kecewakan aku. Nampaknya, Elang sedang tidak fokus dengan pekerjaannya sendiri." Sanjaya menepuk satu bahu Mikael.
"Saya akan melakukannya dengan sebaik mungkin."
Sanjaya lalu melangkah pergi masuk menuju ke kamarnya. Tetapi sebelum keluar ruangan dia menghentikan langkah. Membalikkan tubuh.
"Kau bisa gunakan satu kamar di sebelah Ariana untuk putrimu. Suruh saja Mak Ijah untuk membantu Ariana membersihkannya."
Pekerjaan itu seperti tidak ada habisnya. Pantas saja jika mertuanya kelelahan dengan semua ini. Seharusnya mereka mulai memakai alat-alat modern untuk membantu melakukan semua pekerjaan ini.
Memasukkan data penjualan dan pembeljan dalam sistem komputer bukannya dengan sistem manual yang butuh tenaga lebih untuk mengeceknya.
Meletakkan CCTV di tempat-tempat tertentu yang terhubung dengan gadget kita, sehingga kegiatan ini bisa dipantau setiap saat tanpa harus ada di sana. Juga untuk menghindari kecurangan pegawai.
Lalu alat untuk memisahkan barang bagus dan tidak seperti yang dipakai di negara lain untuk sayuran seperti wortel. Mereka perlu perbaikan besar-besaran untuk bisa mewujudkan mimpi menjadi supplier besar keluar negeri.
Mikael benar-benar fokus dengan pekerjaan dan idenya hingga lupa bahwa Ariana menunggunya di kamar.
Dia mulai melihat jam di tangannya. Jarum pendek di angka sembilan lebih dan jarum panjang di angka 6. Jika dia tidak ke kamar maka pekerjaannya akan berlanjut hingga dini hari. Waktu istirahatnya tinggal dua jam lagi.
Ariana sendiri merasa kesal dan jengkel. Walau satu kamar tetapi mereka masih terpisah karena pekerjaan yang ayahnya berikan. Dia akhirnya menutup pakaian tidur dengan jubah satin yang pernah Mikael berikan di mall Jakarta.
__ADS_1
Dia lalu bangkit hendak pergi ke kamarnya. Dia hendak berjalan, dan melihat pintu mulai terbuka dan Ariana berdiri di belakang pintu.
Dia merasa takjub dengan penglihatannya kali ini. Rambut Ariana tergerai di atas bahu, ikalnya nampak berantakan, dan memantulkan cahaya lampu dari lorong.
Kulit Ariana nampak pucat di tengah latar belakang yang gelap, membuat bayangan keunguan di bawah mata, di cekungan leher dan di tulang bahu wanita itu.
Tubuh wanita itu nampak indah dengan balutan baju tidur sutera berwarna silver. Dia juga tidak menyangka bisa terpikat oleh penampilan sederhana Ariana.
Sebelumnya dia melihat Sheila dengan penampilannya yang sempurna. Namun, ini terasa natural dan manis tidak dibuat-buat.
Mikael berharap bisa memikirkan sesuatu yang cerdas untuk dikatakan namun tenggorokannya seolah tersumbat oleh angin malam.
"Aku kira kau sudah melupakan aku dan tenggelam dengan pekerjaan itu jadi aku kemari untuk menemanimu," ucap Ariana berkilah.
Mikael hanya bisa tersenyum lalu memberi isyarat kepada Ariana untuk keluar ruangan itu.
Lengan baju wanita itu yang berenda bergantung. Mikael tidak tahu mengapa dengan hanya melihat kulit berwarna gading di bawah siku bisa membuatnya mengerti bahwa di balik gaun tidur Ariana dia tidak memakai apa-apa. Dia menyadari bahwa Ariana pasti sudah menunggunya.
Ketika seseorang ingin menyingkirkan obsesi yang dimilikinya, dia pasti akan melakukan sesuatu dengan cepat. Tetapi dia menyadari bukan seperti itu yang diinginkannya. Justru dia merasa dikendalikan oleh kebutuhan untuk ingin dilihat dan dimengerti untuk merasakan segala hal yang terjadi.
Hidup terlalu singkat untuk hanya menikmati saat ini, untuk menggenggam tangan kekasih dan menimbangnya diatas tanganmu. Dia sempat tidak percaya lagi dengan cinta.
Tapi yang dirasakannya saat ini hanyalah denyut cepat di pinggang Ariana saat dia melingkari dengan lengannya. Bulu halus wanita itu bergetar tatkala dia menyusuri jarinya di sana. Dan nafas wanita itu naik turun tatkala tubuh mereka saling menempel satu sama lainnya. Lalu, mulut Ariana menempel di mulutnya ketika mereka saling merasakan satu sama lain.
Sambil meremas bahu Ariana Mikael menjauhkan tubuh Ariana dari tubuhnya sendiri dan jarak itu seperti menimbulkan luka.
"Seharusnya kita tidak berada di sini. Apakah kau tidak takut seseorang melihat apa yang kita lakukan?" ucap Mikael dengan suara berbisik.
Ariana lalu celingukan ke kanan dan kiri lalu cekikikan antara malu dan geli.
***
__ADS_1
Bantu promosikan ke temannya ya Sayang...