
Xie Long mengerutkan alisnya ketika mendengar penjelasan kakek buyutnya itu, ia sendiri tentunya sudah mengetahui tentang kakeknya itu dari Lin Feng, namun setahu Xie Long, kakeknya itu sudah lama meninggal.
"Kakek buyut, bukankah kakekku sudah meninggal, lalu kenapa dia bisa datang menemui ku?"
Yuan Chun Zhe menggeleng pelan, "Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padamu, atau mungkin dia hanya ingin bertemu dengan cucunya."
"Yasudah, jangan dipikirkan lagi," lanjutnya.
Xie Long hanya mengangguk tanda setuju dengan perkataan kakek buyutnya itu, namun dalam benaknya, ia masih memikirkan alasan kenapa kakeknya itu datang menemui dirinya.
"Long'er, kakek dan para prajurit berencana untuk pergi ke suatu tempat, apa kau mau ikut?" tanya Yuan Chun Zhe.
"Tentu saja kakek, lagipula kita sudah bertemu di sini, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolak ajakan kakek," jawab Xie Long.
"Tapi, kakek mau pergi kemana?"
"Ke suatu tempat yang selama ini dihindari oleh setiap kultivator di wilayah Selatan ini."
Alis Xie Long berkerut saat mendengar jawaban kakek buyutnya itu dan entah kenapa, ia langsung memikirkan sebuh tempat yang pernah diceritakan oleh Qiao Chen sebelumnya.
"Kedengarannya sangat menarik," sahut Xie Long.
"Lalu, kapan kita akan berangkat, kakek?"
"Sebenarnya hari ini, tapi karena kau baru saja datang, maka kita akan menunda perjalanan sampai besok," jawab Yuan Chun Zhe.
"Aku baik-baik saja kakek, lagipula, semakin cepat kita ke sana, semakin cepat pula masalah ini diselesaikan."
"Hahahaha" Yuan Chun Zhe tertawa lantang mendengar ucapan cucunya itu, "Baiklah, kalau begitu kita akan berangkat sebentar lagi" ucapnya.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka akhirnya berangkat menuju ke tempat yang dimaksud oleh Yuan Chun Zhe sebelumnya, yaitu sebuah tempat yang dianggap sangat berbahaya oleh para kultivator.
Disepanjang perjalanan, Xie Long mencoba mengorek informasi mengenai tempat yang mereka tuju, namun karena belum pernah datang ke sana, kakek buyutnya itu tidak bisa memberikan banyak informasi padanya.
Meski demikian, Xie Long yang memang dianugerahi dengan otak di atas rata-rata remaja seusianya, langsung dapat memahami betapa bahayanya tempat yang dimaksud, namun ia malah semakin tertantang untuk datang ke sana.
"Semakin berbahaya suatu tempat, semakin besar pula kemungkinan untuk menguji batasan diri sendiri," gumam Xie Long.
***
Sementara itu.
Lin Feng dan Wu Nan yang telah tiba di dimensi kesembilan juga telah melanjutkan perjalanan mereka, namun kali ini, Lin Feng merasakan aura kekuatan kehancuran sangat besar yang berasal dari suatu tempat di dimensi kesembilan ini.
Walaupun ia sendiri mengetahui jika tidak mungkin lagi untuk membangkitkan Dewa Huo, namun bukan berarti tidak ada yang akan mengikuti jejaknya, misalnya saja seperti saat ini, dimana kekuatan kehancuran yang Lin Feng rasakan sudah lumayan besar untuk dimiliki oleh manusia biasa.
Jika kekuatan seperti ini ia biarkan tumbuh dan semakin membesar, maka sudah bisa dipastikan bahwa pemilik kekuatan ini akan menjadi Dewa Huo yang selanjutnya. Oleh karenanya, Lin Feng bergegas menuju ke tempat kekuatan kehancuran itu berasal.
"Guru, kita sudah semakin dekat." Wu Nan yang sudah lama membasmi pengikut Dewa Huo, tentu juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh gurunya itu.
Lin Feng mengangguk, "Bersiaplah, musuh yang akan kau hadapi kali ini cukup merepotkan."
"Baik, guru!" ujar Wu Nan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, keduanya telah sampai di tempat aura kekuatan kehancuran itu berasal, yaitu sebuah lembah yang cukup luas.
"Di sana!" ujar Lin Feng mengarahkan telunjuknya ke suatu tempat di lembah tersebut.
Wu Nan mengangguk, kemudian mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya, lalu setelah itu, ia melesat terbang menuju ke arah yang ditunjuk oleh Lin Feng.
Sementara Lin Feng sendiri, ia lebih memilih untuk menjadi penonton pertarungan muridnya itu, lagipula, ia sangat yakin jika muridnya tersebut mampu mengalahkan musuh seorang diri.
"Baiklah, mari kita lihat sampai dimana kemampuanmu, Wu Nan" gumam Lin Feng.
Disisi lain.
Wu Nan kini telah berada di depan sebuh gua yang lumayan besar, dari dalamnya terpancar aura kekuatan kehancuran yang sangat besar, yang menandakan bahwa musuhnya tengah berada di dalam gua tersebut.
Wushh!
"Keluar dan hadapi aku!" ujar Wu Nan setelah melepaskan aura kekuatannya.
Seorang pria yang tengah fokus bermeditasi didalam gua, menjadi sangat terganggu karena aura kekuatan yang dilepaskan Wu Nan, dengan perasaan kesal dan marah, pria itu kemudian menghilang dari tempat duduknya.
Tidak lama kemudian, pria tersebut telah muncul di mulut gua, "Bocah! Berani sekali kau mengganggu meditasi ku!" ucapnya.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak terima?"
"Cihh, bersiaplah untuk mati!"
Tanpa basa-basi lagi, pria itu melesat maju dan menyerang Wu Nan, dan tidak tanggung-tanggung, pria itu langsung mengerahkan kekuatan penuhnya, karena tidak ingin terlalu lama berurusan dengan Wu Nan.
Sama halnya dengan pria tersebut, Wu Nan juga melesat maju dan melancarkan serangan, namun ia belum mengerahkan kekuatan penuh, karena masih ingin mengukur sejauh mana kehebatan musuhnya itu.
Dhuaar!
Dhuaar!
"Kekuatan orang ini sangat berbeda dengan orang-orang yang dulu pernah aku hadapi," gumam Wu Nan disela-sela pertarungan.
Wushh!
Boom!
Satu serangan berhasil mendarat ditubuh Wu Nan, yang membuatnya terlempar hingga menabrak sebuah baru sampai hancur, dari sudut bibirnya juga mengalir darah segar, yang menandakan serangan itu cukup kuat.
"Dimana kesombongan mu yang tadi, bocah? Bukankah kau datang untuk menantang ku?!"
Wu Nan menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Ini masih belum seberapa" ucapnya, kemudian menghilang dari pandangan.
Sesaat kemudian, Wu Nan telah muncul tepat didepan pria itu sembari menebaskan pedangnya, namun tebasan yang seharusnya berhasil memenggal kepala itu, malah berhasil ditahan dengan tangan kosong.
"Kau butuh kekuatan yang lebih besar untuk sekedar melukaiku!" ujar pria tersebut.
Wu Nan mengabaikan kata-kata provokasi yang diucapkan oleh lawannya itu, walaupun cukup kaget karena serangannya ditahan dengan tangan kosong, tapi bukan berarti ia akan mundur hanya karena itu.
Boom!
__ADS_1
Satu lagi serangan berhasil mengenai Wu Nan, namun tidak sama seperti sebelumnya dimana ia harus terlempar cukup jauh, serangan kali ini justru dapat ia tahan dengan mudahnya.
"Bagaimana kau..."
"Saatnya untuk serius!" ujar Wu Nan memotong perkataan pria tersebut.
Walaupun pertarungan mereka baru berlangsung selama beberapa menit saja, namun Wu Nan sudah bisa memperkirakan sebesar apa kekuatan musuhnya itu, jadi ia memutuskan untuk mulai serius.
Aura kekuatan yang jauh lebih besar terpancar dari tubuh Wu Nan dan berhasil memberikan tekanan intimidasi pada musuhnya, namun tidak berlangsung lama, karena pria itu juga melepaskan aura kekuatan yang lebih besar.
Pertarungan mereka kembali berlanjut, Wu Nan yang sudah serius pun memberikan serangan yang cukup untuk membuat lawannya kewalahan, bahkan pria itu nampak heran dengan perubahan pola serangan Wu Nan.
"Bocah ini... apa jangan-jangan dia menyembunyikan kekuatannya?"
"Jangan melamun!" ujar Wu Nan.
Wushh!
Dhuaar!
Serangan cepat yang dilancarkan oleh Wu Nan berhasil mendarat di tubuh lawannya, yang membuat pria itu terlempar sampai ke dalam gua.
Wu Nan yang tidak ingin kehilangan kesempatan emas, kemudian melancarkan serangan kedua dengan menciptakan bola energi, lalu melemparkannya ke dalam gua didepannya itu.
Dhuaar!
Ledakan dahsyat terjadi lagi saat bola tersebut menghantam sesuatu didalam gua, dan seketika itu juga, gua yang awalnya nampak kokoh, langsung runtuh dan menimpa pria yang dihadapi Wu Nan.
"Bocah sialan! Jangan harap kau bisa hidup setelah mengusikku!"
Dhuaar!
Ledakan kembali terjadi dari reruntuhan gua, kemudian pria yang terkubur di dalamnya melesat terbang ke udara.
Setelah cukup tinggi, pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara, kemudian ia menciptakan bola energi dengan ukuran yang sangat besar dari kekuatan kehancuran.
"Sepertinya kau bermaksud untuk mengakhiri pertarungan kita dengan serangan itu, apa aku benar?"
"Bagus jika kau tahu!"
Wu Nan mengangkat sudut bibirnya, lalu ia melapisi pedang di tangannya dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga membuat pedang tersebut memancarkan cahaya berwarna biru.
"Tebasan membelah langit!"
"Ledakan kekuatan kehancuran!"
Disaat yang bersamaan, mereka berdua melancarkan serangan dengan kekuatan penuh yang mereka miliki.
Dhuaar!
Ledakan yang jauh lebih dahsyat terjadi saat energi pedang milik Wu Nan menghantam bola energi berwarna hitam tersebut.
Tanah seketika bergetar karena dahsyatnya dampak yang diciptakan oleh benturan serangan keduanya.
__ADS_1
Selain itu, gelombang udara yang tercipta dari ledakan itu, juga berhasil menerbangkan apapun di sekitar tempat pertarungan mereka berdua.