Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-214. Pagi yang hangat


__ADS_3

Daratan Suci.


Xi Hong Qin sangat marah ketika melihat keadaan putranya, ia benar-benar tidak terima karena putranya disentuh oleh orang lain, karena menyentuh putranya sama saja dengan menyentuh dirinya, dan tentunya dia akan balas dendam.


Namun sayangnya, setelah Hong Qin datang ke restoran tempat putranya di hajar Xie Long, ia malah tidak menemukan siapapun di sana, jangankan menemukan pelakunya, bahkan jejak keberadaannya saja tidak berhasil ia temukan.


"Apa kalian kenal orang yang menghajar putraku?" tanya Hong Qin pada pengawal anaknya.


"Maaf patriark, kami tidak mengetahui siapa mereka, tapi jika tidak salah ingat, nama pemuda itu Xie Long."


"Xie Long, tunggu dan lihat saja, aku pasti akan membuatmu lebih menderita dari anakku!" ujar Hong Qin, kemudian pergi meninggalkan restoran tersebut.


Setibanya di keluarga Xi, Hong Qin kemudian memberikan perintah kepada pasukan keluarganya untuk mencari Xie Long di seluruh penjuru kota, ia juga memerintahkan mereka untuk mencarinya di hutan sekitaran kota.


Menurutnya, sehebat apapun kultivator yang menyerang anaknya, tidak mungkin dia bisa melarikan diri dengan sangat cepat, kalaupun mereka sudah meninggalkan kota Padang Pasir, pastinya masih belum terlalu jauh.


Selesai memberi perintah, Hong Qin kemudian pergi melihat keadaan anaknya yang masih tidak sadarkan diri didalam kamarnya, walaupun luka yang ia alami tidaklah parah, namun Hong Qin sangat mencemaskan kondisi putranya itu.


"Tetua, bagaimana kondisi putraku?" tanya Hong Qin pada tetua keluarga yang sedang menyembuhkan Ao Tian.


"Kondisi Tuan Muda baik-baik saja, beruntung serangan itu tidak mengenai bagian vital, jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Tuan Muda."


Hong Qin mengepalkan tinjunya menahan amarah yang kini tengah membara dalam dada, disaat yang sama, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas perbuatan orang yang telah melukai putranya, dan yang pasti, Hong Qin ingin orang itu lebih menderita daripada putranya.


***


Istana kerajaan Dunia Bawah.


Gelapnya langit malam perlahan mulai menghilang bersamaan dengan terbitnya matahari, Lin Feng dan Luo Ning yang tertidur taman bunga belakang istana, akhirnya membuka mata saat hangatnya sinar mentari pagi menerpa wajah mereka.


Lin Feng langsung mengecup bibir Luo Ning saat istrinya itu membuka mata, "Selamat pagi" sapa Lin Feng dengan senyuman indah yang terukir di bibirnya.


Luo Ning hanya menanggapi sapaan pagi suaminya dengan senyuman, ia kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lin Feng kemudian memeluknya dengan erat.


"Jangan kemana-mana, aku masih ingin memeluk Gege" ucap Luo Ning menahan Lin Feng yang hendak melepaskan pelukannya.


Lin Feng mengerutkan dahi ketika mendengar perkataan istrinya itu, ia tidak menyangka jika istrinya masih saja sangat manja di usia mereka yang sekarang ini, "Kau yakin?"


Luo Ning hanya menanggapi perkataan suaminya dengan anggukan, bahkan ia semakin mempererat pelukannya, seolah tidak rela Lin Feng jauh darinya walaupun hanya satu senti.


"Baiklah" ucap Lin Feng, kemudian mengeratkan pelukannya.


Sebenarnya Lin Feng ingin mengatakan jika mereka sekarang tengah berada di taman belakang istana, takutnya, ada seseorang yang datang ke sana dan malah melihat mereka seperti itu. Namun melihat tingkah istrinya yang manja, Lin Feng akhirnya mengurungkan niatnya.


"Gege."


"Hmm?"


"Cium aku" pinta Luo Ning setelah melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah suaminya.


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, tapi..."


"Tapi apa!?"


Lin Feng tersenyum lembut, "Bagaimana jika nanti aku malah menginginkan sesuatu yang lebih?"


"Apa salahnya, aku-kan istrimu" jawab Luo Ning dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Memang tidak salah, tapi..."


Sebelum Lin Feng sempat menyelesaikan ucapannya, Luo Ning telah lebih dulu mendaratkan kecupan di bibirnya, kemudian dilanjutkan dengan ciuman hangat di pagi hari.


Apa yang Lin Feng takutkan benar-benar terjadi, ciuman pagi yang diberikan oleh Luo Ning membuat akal sehatnya seperti terbang jauh meninggalkan tubuhnya, disaat yang sama, sesuatu di bawah sana juga sudah mulai mengeras dan butuh pelampiasan.


Luo Ning terkekeh pelan ketika merasakan adanya benda keras menyentuh perutnya, ia kemudian mendorong Lin Feng hingga terlentang, lalu ia naik ke atas tubuh suaminya.


"Ning'er, jika ingin berhenti, aku rasa sekarang adalah saat yang tepat" ucap Lin Feng yang masih berusaha mempertahankan akal sehatnya.


"Dengar, Tuan Muda Lin! Meskipun sekarang kau memaksaku untuk berhenti, aku tetap akan melanjutkannya, meskipun harus memaksamu."


Lin Feng tercengang mendengar perkataan istrinya barusan, ia benar-benar tidak menyangka jika pagi ini ia malah menyaksikan sesuatu yang lain dari istrinya, sesuatu yang sangat jarang bahkan tidak pernah ia tunjukkan selama pernikahan mereka.


"Nona Luo, apa yang terjadi padamu?"


"Ini salahmu, Tuan Muda Lin. Semalam kau membuatku sangat sedih, dan sekarang kau harus membayarnya!"


Lagi-lagi, ucapan Lin Feng terpaksa harus terpotong karena Luo Ning sudah ******* bibirnya dengan ganas. Awalnya Lin Feng sempat kaget, bahkan ia sempat berpikir jika istrinya tengah dirasuki oleh sesuatu, namun keganasan Luo Ning malah membuatnya semakin terbuai.


Lin Feng mencoba untuk bangkit dan mengambil alih kendali, namun Luo Ning menahan tubuhnya, "Tuan Muda Lin, kau sebaiknya diam saja, karena ini adalah bagian dari hukuman mu!"


"Ning'er, kau yakin dirimu baik-baik saja?" Lin Feng mulai khawatir dengan sikap istrinya yang menurutnya terlihat aneh.


"Tentu, aku tidak pernah merasa sebaik ini!"


Walaupun sempat bingung sekaligus tercengang dengan perubahan sikap istrinya, namun pada akhirnya, pagi itu mereka lewati dengan aktivitas panas dan melelahkan, dan sepanjang melakukan aktivitas tersebut, Luo Ning lah yang memegang kendali penuh.


***


"Sudah baikan?" tanya Lin Feng setelah aktivitas mereka selesai.


Luo Ning yang masih membenamkan wajahnya di dada Lin Feng yang bidang hanya mengangguk pelan, keganasan yang sebelumnya ia tunjukkan juga telah menghilang, bahkan, ia terlihat malu-malu ketika mengingat apa yang ia lakukan pada suaminya.


"Ini hanya perasaanku saja atau udara di kamar kita memang terasa panas?" tanya Luo Ning ketika merasakan panasnya terpaan sinar matahari di punggungnya.


"Kamar?"


"Ning'er, aku rasa kau masih belum sepenuhnya sadar."


"Maksud Gege?"

__ADS_1


"Coba lihat di sekitarmu."


Luo Ning mengerutkan dahi, kemudian mengangkat wajahnya dan seketika itu juga, ia baru sadar jika mereka sekarang masih berada di taman bunga belakang istana.


Beruntung, bunga-bunga yang tumbuh di sana cukup tinggi, sehingga menutupi keberadaan mereka berdua, jika tidak, keberadaan mereka di sana pasti akan diketahui oleh orang lain.


"Gege, kenapa tidak bilang kalau kita masih di sini?" Luo Ning terlihat sangat panik.


"Sudah kucoba, tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara."


"Ini... apa yang sudah kulakukan? Bagaimana jika ada orang yang memperhatikan kita?"


Lin Feng terkekeh geli melihat kepanikan di wajah istrinya, ia kemudian menarik wajah Luo Ning lalu mendaratkan kecupan di dahinya, "Tenanglah, aku sudah memasang penghalang, jadi tidak mungkin ada yang melihat kita di sini."


Luo Ning akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar perkataan suaminya, ia benar-benar takut jika ada seseorang yang memperhatikan mereka saat melakukan aktivitas panas barusan.


"Yasudah, sebaiknya kita ke kamar sekarang" ucap Lin Feng.


"Caranya?"


Lin Feng menanggapi perkataan istrinya dengan senyuman, kemudian ia menjentikkan jari tangannya dan seketika itu juga, mereka telah berpindah ke tempat tidur di dalam kamar mereka.


"Ning'er."


"Hmm?"


"Ada apa denganmu pagi ini? Dan sejak kapan kau menjadi sangat ganas?"


"Maksud Gege?"


"Coba kau lihat leher dan dadaku" jawab Lin Feng.


Luo Ning tertunduk malu ketika melihat banyaknya bercak merah di leher dan dada suaminya.


Sebenarnya, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa dirinya bisa seperti itu, karena awalnya, ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada Lin Feng yang sudah membuatnya bersedih. Tapi siapa sangka jika akhirnya malah seperti itu.


"Maaf" ucap Luo Ning pelan.


"Tidak apa-apa, lagipula aku suka kau yang seperti itu" sahut Lin Feng.


***


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, keduanya kemudian keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke ruang makan, karena mereka yakin semua orang sudah menunggu kedatangan mereka untuk sarapan bersama.


"Ayah, ibu, kenapa lama sekali, aku sudah sangat lapar" protes Jia Zhen.


"Maafkan ayah, nak. Ayah sangat lelah hingga bangun kesiangan."


"Ya sudah, sebaiknya kita sarapan sekarang" lanjutnya.


Setelah sarapan, Lin Feng dan yang lainnya kemudian menuju ke ruang keluarga, namun yang pergi ke sana hanya para laki-laki saja. Sedangkan Luo Ning dan para perempuan lainnya, lebih memilih untuk pergi ke taman.

__ADS_1


__ADS_2