
Dimensi pertama.
Setelah menjalani latihan selama satu tahun setengah, Xie Ling dan Jia Zhen akhirnya diizinkan untuk pulang oleh Lao Tzu, namun mereka diharuskan kembali ke Alam Nirvana secepatnya, karena latihan mereka masih belum berakhir.
"Kakak, aku yakin ayah dan ibu pasti takjub dengan pencapaian kita sekarang" ucap Jia Zhen.
"Kau benar, mereka pastinya akan kagum dengan pencapaian kita!" sahut Xie Ling.
Dua bersaudara itu nampak sangat bahagia ketika mereka memasuki gerbang kerajaan Dunia Bawah, mereka bahkan sudah tidak sabar untuk menunjukkan pencapaian mereka kepada kedua orang tuanya.
Namun, saat melewati kota, keduanya dapat merasakan perbedaan suasana, dan entah kenapa, mereka melihat kesedihan di setiap wajah orang yang mereka temui di kota kerajaan Dunia Bawah.
"Ada apa ini? Kenapa semua orang terlihat sedih?"
"Sebaiknya kita bergegas ke istana, aku yakin ayah mengetahui penyebab kesedihan ini" jawab Xie Ling.
Jia Zhen mengangguk, kemudian menggenggam tangan kakaknya itu, lalu mereka menghilang dari sana, sesaat kemudian, keduanya telah sampai di depan pintu masuk istana yang terbuka lebar.
Ketika mereka tiba di sana, keduanya dibuat heran dengan suasana istana yang begitu sunyi, bahkan mereka dapat merasakan kesedihan yang jauh lebih besar lagi dibandingkan dengan yang mereka rasakan saat berada di kota.
"Kakak!" ujar Xie Ling memanggil Huanran yang kebetulan melintas.
Huanran menoleh ke sumber suara, ia menunjukkan senyuman terbaiknya untuk menyambut kedatangan kedua adik Xie Long, meski begitu, Xie Ling dan Jia Zhen dapat merasakan bahwa senyuman Huanran itu seperti senyuman yang dipaksakan.
"Dimana kak Long?" tanya Jia Zhen.
"Selamat datang, bagaimana kabar kalian?" Bukannya menjawab, Huanran malah mengajukan pertanyaan pada Jia Zhen, dan hal itu berhasil membuat adik Xie Long itu merasa curiga.
"Kak Hua, apa yang sebenarnya terjadi?"
Huanran menghela napas panjang, "Sebaiknya kalian ke kamar ibu sekarang" ucapnya, kemudian membawa kedua adik Xie Long itu ke kamar Luo Ning.
Setibanya di kamar Luo Ning, tangis Xie Ling tiba-tiba saja pecah ketika melihat ibunya yang tengah terbujur kaku di tempat tidur, seluruh tubuhnya terlihat pucat dan energi kehidupannya sangat redup dan semakin berkurang.
Kepulangan mereka seharusnya mendapatkan sambutan meriah dan hangat, karena keduanya pulang dengan membawa kabar gembira, namun kepulangan yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru berakhir dengan kesedihan yang mendalam.
Berbeda dengan Xie Ling, Jia Zhen justru terlihat lebih tenang, tapi bukan berarti ia tidak sedih. Ia sangat sedih, bahkan benar-benar sedih melihat keadaan ibunya, namun ia masih bisa menyembunyikan kesedihannya itu.
"Kakak, apa yang terjadi pada ibu?" tanya Jia Zhen, suaranya terdengar parau karena menahan tangis.
Dengan menahan segala kesedihan yang memenuhi dadanya, Xie Long kemudian menceritakan apa yang telah terjadi pada ibu mereka. Dan kejadian ini dimulai setelah beberapa hari sejak kepergian ayah mereka enam bulan lalu.
Xie Long sendiri sebenarnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya menimpa ibu mereka, karena saat itu, Xie Long sudah menemukan ibu mereka dengan kondisi seperti sekarang ini, namun satu-satunya alasan yang bisa ia jelaskan adalah ayah mereka.
"Ayah? Memangnya ayah kenapa? Dan dimana dia sekarang?" tanya Xie Ling.
Xie Long menggeleng pelan, "Aku juga tidak tahu dimana ayah sekarang" ucapnya.
"Lalu kenapa kalian diam saja? Kenapa tidak memberitahukan hal ini padaku?!"
__ADS_1
Xie Ling benar-benar kesal karena tidak ada yang mengabarinya sebelumnya, dan jika mereka tidak kembali, mungkin mereka tidak akan pernah mengetahui keadaan ibu mereka saat ini.
Tangis Xie Ling semakin menjadi ketika semua orang diam dan tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sejujurnya, ia ingin marah dan melampiaskan kekesalannya pada mereka, namun kesedihannya masih jauh lebih besar.
Sementara itu.
Jia Zhen yang berada di samping kanan Luo Ning kemudian meraih tangan ibunya yang terasa dingin, saat ia menggenggam tangan ibunya itu, ia merasakan ada sesuatu berada dalam genggaman ibunya.
Kemudian, ia membuka genggaman tangan ibunya secara perlahan agar tidak menyakitinya, lalu ia meraih sebuah giok yang telah retak dari genggaman tangan ibunya itu. Setelahnya, ia menyimpan giok yang telah retak itu ke dalam cincin penyimpanannya.
Jia Zhen menggenggam tangan Luo Ning dengan erat, kemudian mencium punggung tangan ibunya dengan lembut, lalu ia mendekati wajah ibunya dan kemudian mengecup dahinya.
"Ibu, aku berjanji akan menemukan ayah dan membawanya pulang" ucap Jia Zhen berbisik di telinga ibunya.
Jia Zhen tentunya mengetahui jika giok yang digenggam ibunya itu adalah milik ayahnya, ia juga paham maksud dari retakan pada giok tersebut, namun hatinya menolak untuk percaya jika ayahnya sudah meninggal.
"Paman, bisa kita bicara sebentar?" tanya Jia Zhen pada Huise.
"Baik, Tuan Muda!"
Setelah itu, Jia Zhen dan Huise keluar dari kamar Luo Ning, keduanya kemudian pergi ke halaman belakang istana untuk bicara di sana.
"Paman."
"Ada apa, Tuan Muda!"
"Baik, Tuan Muda!" ujar Huise, kemudian memanggil semua saudaranya untuk berkumpul di halaman belakang istana.
Tidak lama berselang, seluruh anggota pilar kematian sudah berkumpul di halaman belakang, mereka semua nampak diam dan tidak ada yang berani bicara sebelum Jia Zhen mengizinkan mereka bicara.
Selain itu, ada hal lain yang membuat mereka tidak berani mengeluarkan suaranya, yaitu perasaan tegang saat melihat Jia Zhen yang berdiri membelakangi mereka semua.
"Aku tahu, kesetiaan kalian pada ayahku tidak perlu dipertanyakan lagi, aku juga tahu, kalian tidak akan mungkin berpaling darinya. Tapi..." Jia Zhen menggantung ucapannya, kemudian berbalik menghadap mereka semua.
"Untuk kali ini saja, izinkan aku mengambil alih kepemimpinan atas kelompok kalian" lanjutnya.
Huise dan yang lainnya nampak kaget, namun bukan karena perkataan Jia Zhen, melainkan karena perasaan yang sama seperti yang pernah mereka rasakan saat bersama Lin Feng.
Kekuatan Jia Zhen memang belum bisa dibandingkan dengan ayahnya ataupun kedua kakaknya, namun pancaran aura yang berasal dari tubuhnya, entah kenapa membuat mereka merasa tertekan.
Dan, tekanan yang mereka rasakan itu benar-benar sama dengan tekanan yang mereka rasakan saat bersama Lin Feng, namun anehnya, mereka tidak merasakan hal itu saat bersama Xie Long ataupun Xie Ling.
Selain itu, ketenangan yang ditunjukkan oleh Jia Zhen juga menimbulkan perasaan berbeda dalam diri mereka, karena ketenangan itu, hanya bisa mereka lihat pada diri Lin Feng.
Tidak, lebih tepatnya, ketenangan yang ditunjukkan oleh Jia Zhen justru melebihi ketenangan yang ditunjukkan oleh Lin Feng, dan itulah satu-satunya alasan yang membuat mereka merasa seperti sedang bersama Lin Feng.
"Perasaan ini benar-benar sama dengan perasaan saat bersama Tuan" ucap Huise dalam hatinya.
"Bagaimana, apa kalian mau?" tanya Jia Zhen.
__ADS_1
"Kami siap mematuhi perintah, Tuan muda!" ujar mereka semuanya serempak.
Jia Zhen tersenyum senang mendengar jawaban mereka, "Baiklah, tugas pertama kalian adalah membawaku menyusuri setiap dimensi yang ada di alam semesta ini!" ujarnya dengan suara tegas.
"Baik!" Tanpa adanya keraguan sedikitpun, mereka berdelapan langsung mematuhi perintah Jia Zhen begitu saja.
"Tuan Muda, kapan kita akan berangkat?" tanya Huise.
"Sebentar lagi, karena aku ingin melakukan paman melakukan sesuatu sebelum kita berangkat" jawab Jia Zhen.
Setelah itu, Jia Zhen memerintahkan Huise untuk pergi menemui Dewi Nuwa, ia ingin Huise menyampaikan permintaannya pada Dewi Nuwa, yaitu memberikan sedikit energi kehidupan pada ibunya.
Sebenarnya, Jia Zhen ingin meminta bantuan itu secara langsung, namun ia sadar, kekuatannya masih belum cukup untuk bisa mencapai Alam Nirvana Agung, yang merupakan tempat dimana Dewi Nuwa berada.
"Menurut kalian, apa ayah benar-benar sudah meninggal?" tanya Jia Zhen setelah Huise pergi.
Mereka semua diam dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bukan karena takut Jia Zhen akan marah mendengar jawaban mereka, tapi karena kesedihan yang begitu besar hingga membuat mereka tidak sanggup untuk bicara.
"Kalian semua boleh saja percaya jika ayah sudah meninggal, tapi tidak denganku, aku tidak percaya jika ayah sudah meninggal!"
"Kalian mungkin lupa, tapi aku tidak! Aku masih mengingat dengan jelas siapa ayahku sebenarnya. Jadi, tidak mungkin dia meninggal dengan mudah!"
"Aku yakin, ayah kini sedang berada di suatu tempat di dimensi ini, dan aku yakin, ayah tengah terluka parah hingga membuatnya tidak bisa kembali."
Jia Zhen bicara sendiri, nada suaranya terdengar bergetar karena air mata yang telah susah payah ia bendung, akhirnya mengalir keluar dari matanya. Meski begitu, ia masih bisa tersenyum, agar mereka semua tahu jika dirinya sangatlah kuat.
"Percaya atau tidak, Tuan Muda sangat mirip dengan Tuan" ucap Lang Diyu dengan suara pelan.
"Kau benar, diantara kedua kakaknya, hanya dia yang benar-benar mewarisi sifat Tuan. Mereka mungkin mewarisi kekejaman Tuan, tapi hanya Tuan Muda yang mewarisi ketenangan dan keteguhan hatinya." sahut Yin Ouyang.
"Aku tidak tahu dengan kalian, tapi aku melihat sosok Tuan dalam dirinya."
"Kakak keempat benar, aku juga melihat hal yang sama!"
"Jadi?"
"Sudah diputuskan, kita harus mengikutinya dan mematuhinya seperti kita mengikuti dan mematuhi Tuan!"
"Keputusan yang bagus!"
"Zhu Ling, Zhu Lien, bagaimana dengan kalian berdua?"
"Sayangnya Tuan Muda masih kecil, kalau tidak, aku mau menikahinya."
Perkataan Zhu Ling membuat yang lainnya mengarahkan pandangan mereka padanya, mereka benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut Zhu Ling.
"Zhu Ling, kau baik-baik saja?" tanya Du Fang Ren.
Zhu Ling tersenyum, "Itu hanya sebuah ungkapan, dengan kata lain, aku akan mengikutinya dan juga mematuhinya."
__ADS_1