
Slash.
Energi berbentuk bulan sabit tercipta ketika Jia Zhen menebaskan pedangnya di udara, energi yang cukup besar tersebut melesat dengan kecepatan tinggi dan memotong tubuh setiap musuh yang dilaluinya.
Pada saat yang bersamaan, Jia Zhen juga menggunakan kekuatan petir surgawi untuk memporak-porandakan pasukan musuh, hantaman dahsyat dari petir tersebut benar-benar berhasil membuat barisan musuh menjadi kacau.
"Apa yang kalian lakukan!?"
"Ciptakan formasi untuk menahan hantaman petir itu!"
"Baik!" ujar para prajurit, kemudian membentuk formasi pelindung.
Jia Zhen tersenyum senang melihat musuhnya menciptakan formasi pelindung, walaupun formasi tersebut bisa melindungi mereka dari sambaran petir surga, namun formasi itu tidak melindungi mereka darinya.
"Salah besar kalau kalian berpikir aku tidak bisa melakukan apapun" gumam Jia Zhen, lalu menghilang dari pandangan.
Ditengah hantaman petir surgawi yang terus menyambar, Jia Zhen terus melesat dengan kecepatan tinggi dan membantai setiap orang yang ada disekitarnya.
Hanya dalam hitungan detik, sudah tidak terhitung berapa banyak jumlah nyawa yang direnggutnya, dan mereka semua mati dalam keadaan yang sama, karena Jia Zhen hanya sekedar memenggal kepala mereka.
"Zhen Jia, pinjamkan kekuatanmu" ucap Jia Zhen bicara dengan adiknya yang masih berada dalam dirinya.
"Tentu saja, kakak!" sahut Zhen Jia.
"Kobaran api surgawi!"
Wushh.
Boom!
Kobaran api berwarna emas tiba-tiba saja muncul ditengah lautan pasukan musuh, api yang sangat panas itu menyebar dengan cepat dan membakar siapa saja yang bersentuhan dengannya.
Para prajurit musuh sudah mencoba untuk melindungi dirinya masing-masing, namun api emas itu seperti tidak bisa dihentikan ataupun dipadamkan oleh apapun juga.
Jumlah pasukan musuh berkurang dengan sangat cepat, peperangan itu baru saja dimulai dalam beberapa menit, namun pasukan musuh sudah berkurang sangat banyak.
"Ada apa dengan kekuatan bocah ini?"
"Fokuskan serangan pada bocah itu, kalau tidak, dia akan membinasakan kita semua!"
"Tapi..."
"Tapi apa!?"
__ADS_1
"Bagaimana cara menyerangnya!?"
Para prajurit itu tentu bukanlah kultivator bodoh yang tidak mengerti cara menyerang lawan, tapi masalahnya adalah, lawan yang ingin mereka serang itu tidak terlihat sedikitpun.
Mereka mengetahui jika musuh itu ada diantara mereka dan siap merenggut nyawa mereka kapan saja, namun tidak seorangpun yang mengetahui atau melihat dimana musuh mereka berada.
"Sial! Aku tidak pernah menyangka kalau gerakan anak itu sangatlah cepat."
Slash.
Slash.
Energi pedang bermunculan dari segala arah, sehingga sangat sulit bagi pasukan musuh untuk menebak darimana Jia Zhen melakukan serangan, selain itu, petir merah yang sebelumnya juga masih terus menyambar mereka semua.
"Saudaraku apa yang harus kita lakukan?"
"Tentu saja membunuh bocah sialan itu dan menghancurkan sekte ini!"
"Jangan harap!" ujar Jia Zhen yang telah muncul di ketinggian.
Langit kembali diselimuti oleh awan gelap yang memancarkan kilatan cahaya merah keemasan, pada saat yang bersamaan, di langit muncul petir berwarna merah keemasan dan langsung menyambar pasukan musuh.
"Gunakan seluruh kekuatan kalian untuk menciptakan formasi!" ujar salah seorang pemimpin pasukan tersebut.
Wushh.
Ketika seluruh pasukan yang tersisa bersiap untuk menciptakan formasi yang lebih kuat, api emas tiba-tiba saja muncul dan membakar mereka semua yang ada di sana.
Dhuaaar!
Ledakan yang sangat dahsyat kembali terjadi ketika petir merah keemasan itu menyambar mereka semua, yang membuat seluruh pasukan benar-benar berhasil dihancurkan oleh Jia Zhen.
Dihadapkan dengan dua serangan dahsyat sekaligus membuat musuh tidak bisa melakukan apapun, hingga pada akhirnya, mereka semua habis dilahap oleh dua kekuatan yang sangat dahsyat tersebut.
"Si-sialan, aku tidak rela dikalahkan oleh bocah sepertimu!"
Jia Zhen menoleh kearah sumber suara, "rupanya masih ada yang hidup" gumamnya, kemudian menghampiri pemimpin pasukan tersebut.
"Ka-kau mau apa?"
"Tentu saja membunuhmu!" ujar Jia Zhen, kemudian memenggal kepala pria tersebut.
Disisi lain.
__ADS_1
Pertarungan yang terjadi di dalam sekte juga telah berhasil diselesaikan, seluruh mata-mata yang selama ini bersembunyi di sekte juga berhasil dibunuh, namun korban yang berjatuhan dari pihak sekte juga tidak sedikit.
"Hormat kami, tetua agung!" Sapa seluruh murid ketika melihat Lin Feng muncul di sekte.
"Aku benar-benar kecewa dengan kalian!"
"Hanya karena aku memberikan perlindungan, bukan berarti kalian bisa mengabaikan keselamatan diri. Lihat akibatnya, begitu banyak murid yang gugur karena kelalaian kalian."
"Aku harap, kalian bisa belajar dari peristiwa ini, agar kedepannya nanti tidak ada lagi kejadian yang sama."
"Baik!" ujar semua orang.
Lin Feng mengangguk pelan, kemudian menggunakan kekuatan api emas untuk menyembuhkan para murid yang terluka, dan hanya dalam hitungan detik, luka di sekujur tubuh mereka telah lenyap tanpa jejak.
"Jika kejadian ini terulang lagi, maka kalian harus siap menerima kehancuran!"
Setelah itu, Lin Feng menghilang dari pandangan mereka semua, lalu muncul lagi di depan gerbang sekte, tepatnya didekat Jia Zhen yang tengah beristirahat setelah melalui pertarungan yang cukup melelahkan untuknya.
"Ayah..."
"Duduklah" sahut Lin Feng, kemudian ikut duduk disisi anaknya.
"Bagaimana rasanya?"
"Sedikit aneh" jawab Jia Zhen, kemudian mengarahkan pandangannya ke langit, "tapi, sekarang aku tahu apa yang ayah rasakan saat berada dalam situasi yang sama," lanjutnya.
Lin Feng tersenyum seraya menggeleng pelan, "ini belum seberapa, karena di masa depan nanti, akan ada musuh yang jumlahnya lebih banyak dan kekuatan yang lebih kuat darimu."
"Aku sudah siap ayah, siap menanti kedatangan mereka dan siap berjuang hingga napas ku terhenti!"
"Bagus! Tapi ingatlah, jangan pernah sombong hanya karena kau memiliki kekuatan yang besar, karena kesombongan bisa saja membawamu ke tempat paling bawah di dunia ini."
Jia Zhen mengangguk paham, ia tentunya mengerti maksud perkataan ayahnya itu, bahkan ia sudah berjanji untuk tidak menghadirkan rasa sombong itu dalam dirinya.
"Yasudah, kalau begitu ayah akan kembali sekarang" ucap Lin Feng, kemudian menghilang dari pandangan.
Setelah ayahnya pergi, Jia Zhen kemudian melanjutkan perjalanannya yang telah tertunda, meski sebelumnya ada masalah, namun niatnya untuk mengunjungi kota Awan tidak akan hilang begitu saja.
Selain ingin melihat kota kelahiran ayahnya, Jia Zhen juga ingin mencaritahu tentang masa lalu ayahnya, walaupun ia sudah mendengar semuanya, namun ia tidak akan puas sebelum mengungkitnya sendiri.
Dan untuk mengetahui kehidupan masa muda ayahnya, hanya ada satu tempat yang bisa ia datangi, yaitu kota Awan. Karena hanya di kota itulah ia bisa menemukan segala hal tentang masa muda ayahnya.
"Kakak, boleh aku keluar sekarang?"
__ADS_1
"Tentu saja" jawab Jia Zhen, kemudian menghentikan langkahnya. Lalu setelah Zhen Jia keluar dari tubuhnya, barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Awan.