Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-213. Ada apa dengan Lin Feng?


__ADS_3

Malam harinya.


Suasana di istana kerajaan Dunia Bawah sangatlah ramai, karena seluruh anggota keluarga tengah berkumpul dan mengobrol bersama, namun sayangnya, Lin Feng tidak ikut hadir dalam kebersamaan itu, karena ia lebih memilih untuk sendirian di halaman belakang istana.


Luo Ning yang juga merasakan beban berat yang tengah dipikul oleh suaminya, memilih untuk menemaninya di halaman belakang, sebagai seorang istri, ia tentunya tidak ingin suaminya itu memikul beban berat sendirian.


Meskipun tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu, namun ia yakin kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Lin Feng, dan setidaknya, kehadirannya disisi sang suami mungkin bisa membantunya melepaskan beban berat yang ia pikul.


"Gege..."


Lin Feng menoleh sesaat kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke langit malam, "Kau tahu, dulu aku sangat sering sekali melakukan hal-hal bodoh demi menyusul mereka."


"Tapi setelah memiliki kalian, aku malah tidak ingin kehilangan nyawa ini agar bisa bersama kalian selamanya, terutama bersamamu, Ning'er."


Luo Ning tidak mengatakan apapun dan tidak ingin mengatakan apapun, kali ini, ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik bagi suaminya.


Namun entah mengapa, kesedihan tiba-tiba saja menyelimuti dirinya, bahkan ia sampai tidak sanggup lagi membendung air mata yang kini menetes membasahi pipinya.


Lin Feng merangkul pundak istrinya, kemudian membawanya kedalam dekapannya, ia sengaja membiarkan istrinya menangis, meluapkan kesedihan yang kini menyelimuti dirinya.


"Ning'er, jika aku mati, apa kau akan menikah lagi?"


Pertanyaan itu membuat Luo Ning terkekeh pelan, tapi kemudian, derai air mata semakin deras membanjiri wajahnya, bahkan baju Lin Feng ikut basah karena air matanya.


Berulang kali Luo Ning menghela napas panjang agar dirinya tenang, namun kesedihan itu terlalu dalam, ia benar-benar tidak sanggup menahannya walau hanya sesaat.


"Jangan ditahan, biarkan semuanya mengalir bersama dengan air matamu" ucap Lin Feng, kemudian mengecup puncak kepala istrinya.


"Gege."


"Hmm?"


"Jika kau mati, aku pun akan ikut mati bersamamu."


"Kenapa begitu?"


"Apa Gege lupa jika kita memiliki satu jiwa yang saling terhubung?"


Lin Feng mendesah pelan, "Benar juga! Aku sampai lupa akan hak itu."


"Aku mohon..." Luo Ning terpaksa menggantung ucapannya karena derai air mata kembali membasahi pipinya, "Jangan tinggalkan aku" ucapnya lirih.


Lin Feng tidak mengatakan apapun, sebenarnya ia sendiri juga sangat sedih, sangat sedih sampai rasanya ingin menangis seperti Luo Ning, namun ia masih bisa menahannya dan menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.


Itulah Lin Feng, yang selalu terlihat tegar dan kuat di luarnya, tapi sebenarnya sangat rapuh dan lemah di dalamnya. Dan ketegaran yang selama ini ia tunjukkan, hanya agar alam semesta ini tahu jika dirinya adalah pria yang sangat kuat.


"Gege, kenapa tidak melarang hubungan mereka?" tanya Luo Ning setelah diam untuk waktu yang cukup lama.


Lin Feng tersenyum, "Apa yang akan kau lakukan jika dulu, keluarga kita tidak merestui hubungan kita?"


"Aku akan terus berjuang sampai mendapatkan restu ibu" jawab Luo Ning.

__ADS_1


"Itulah yang akan mereka lakukan jika kita melarangnya, tugas kita sebagai orang tua hanya memberikan kebahagiaan untuk anak-anak kita."


"Kita hanya perlu memberi mereka dukungan atas pilihan yang mereka telah mereka tetapkan, dan harus memberi nasehat saat mereka melakukan kesalahan."


"Jika kita melarangnya, mungkin semangatnya untuk maju akan menghilang dan bukan tidak mungkin, jika suatu saat nanti, ia justru memilih jalan yang salah."


"Lalu bagaimana denganku, apa aku tidak berhak lagi untuk bahagia bersamamu?" tanya Luo Ning.


"Hahaha!" Lin Feng malah tertawa mendengar pertanyaan istrinya itu, "Istriku, kebahagiaan kita sudah lengkap, jadi apa lagi yang kau inginkan?"


"Menghabiskan sisa hidupku bersamamu" jawab Luo Ning.


"Aku juga ingin melakukan hal yang sama, tapi ada kebahagiaan anak-anak kita yang harus kita pikirkan, kita harus menjaga mereka agar tidak ada orang lain yang merusak kebahagiaan mereka."


Suasana kembali menjadi hening karena keduanya memilih untuk diam dan menikmati waktu dalam ketenangan, walaupun sempat ada kesedihan yang datang melanda, tapi sekarang semuanya telah berlalu dengan tenang.


Tidak lama berselang, Xie Long dan Huanran datang menghampiri mereka berdua, meski masih ada sisa-sisa kesedihan dalam hatinya, namun Luo Ning tetap mencoba untuk tersenyum pada mereka berdua.


"Ayah, ibu, boleh kami bergabung di sini?" tanya Xie Long.


"Tentu saja, nak. Kemari-lah" jawab Luo Ning.


"Nyonya, apa kehadiranku membuatmu sedih?" Huanran memberanikan diri untuk bertanya.


Luo Ning tersenyum, kemudian membelai lembut pipi Huanran yang sudah tidak ditutupi oleh cadar lagi, "Keluarga ini sudah menerima kehadiranmu, begitupun denganku, jadi jangan panggil aku Nyonya" ucapnya.


"Panggil aku ibu" lanjutnya, kemudian merentangkan kedua tangannya agar Huanran memeluknya.


Setetes cairan bening keluar dari sudut mata Huanran, kemudian ia menghampiri Luo Ning dan memeluknya dengan erat, pelukannya yang hangat membuat Huanran merasakan perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.


"Kenapa kau menangis?" tanya Luo Ning.


"Aku merindukan ibu" jawab Huanran yang masih mendekap erat tubuh Luo Ning.


Luo Ning dapat merasakan kesedihan yang sangat mendalam dari tangisan Huanran, karena bagaimanapun juga, ia dan Huanran memiliki nasib yang sama, sama-sama tidak memiliki seorang ibu.


Hanya saja, Luo Ning sudah tidak merasakan kasih sayang ibunya sejak kecil. Sedangkan Huanran, ia masih sempat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, walaupun hanya beberapa tahun saja.


Disisi lain.


"Ayah..."


"Jaga ibumu, jangan biarkan air matanya jatuh walaupun hanya setetes. Jaga adik-adikmu, jangan biarkan siapapun menyakiti mereka."


Jaga keluarga ini, jangan biarkan orang lain menghancurkannya. Dan terakhir, jaga dirimu baik-baik, karena ayah tidak selamanya ada untuk menjagamu."


Xie Long membeku mendengar perkataan ayahnya, kata-katanya mungkin terdengar seperti nasehat, namun bagi Xie Long, kata-kata itu memiliki maksud tersembunyi yang ia sendiri tidak mengetahuinya.


Untuk pertama kalinya, Xie Long dibuat menangis tertahan hanya karena ucapan ayahnya, ia tidak peduli lagi dengan perkataan orang lain yang mungkin melihatnya menangis, karena yang ingin ia lakukan hanyalah mendekap ayahnya dengan erat.


"Bodoh! Kau itu laki-laki, kenapa malah menangis?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu ayah, sudah kucoba untuk menahannya, tapi tidak bisa" jawab Xie Long yang masih mendekap erat tubuh Lin Feng.


"Dengar, kau semakin tumbuh dewasa dan ayah semakin tua, sudah saatnya kau belajar memikul tanggung jawab keluarga ini."


"Ayah tidak berharap kau menjadi seperti ayah, tapi ayah hanya berharap agar kau bisa menjaga keluarga kita dengan baik."


Xie Long mengangguk paham, ingin rasanya ia menyampaikan sesuatu pada pria yang sangat ia kagumi dalam hidupnya itu, namun ucapannya tertahan dan hanya sampai di benaknya saja.


"Ayah, ada apa denganmu? Kenapa kata-kata ayah terdengar seperti ucapan perpisahan?"


Disaat yang bersamaan, Xie Ling dan Jia Zhen akhirnya datang menghampiri mereka, kedua adik Xie Long yang tidak mengetahui apa-apa itu, malah mentertawakan kakaknya karena ketahuan menangis dalam pelukan ayah mereka.


Tawa Xie Ling dan Jia Zhen terasa seperti obat penawar yang sangat ampuh, karena hanya dengan mendengar dan melihat mereka berdua tertawa, kesedihan yang sempat menyelimuti mereka berempat tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Ayah, aku berjanji akan menjaga tawa mereka, tidak akan kubiarkan siapapun menghapus tawa mereka berdua" ucap Xie Long dalam hatinya.


"Kak Ling, julukan apa yang pantas untuk kakak kita ini?" tanya Jia Zhen yang masih belum puas menertawai kakak tertuanya.


"Tunggu sebentar" jawab Xie Ling, kemudian memikirkan julukan yang cocok untuk saudara kembarnya itu, "Anak manja, tidak, tidak, julukan itu hanya cocok untuk Jia Zhen."


"Apa!? Kenapa malah aku?"


"Memangnya kenapa? Bukankah kau memang anak manja?"


"Tidak!" bantah Jia Zhen.


"Tidak apanya, kau itu sangat manja, apalagi pada kakek!"


"Ayaah" ucap Jia Zhen memelas. Tatapannya terlihat seperti tengah meminta bantuan pada Lin Feng.


"Ling'er, berhentilah mengganggu adikmu."


Xie Ling tersenyum canggung, kemudian menghampiri Lin Feng dan langsung memeluknya, "Ayah, aku tidak mengganggunya, aku hanya ingin dia tahu jika dirinya itu sangat manja."


"Benarkah? Lalu apa bedanya denganmu, putriku?"


Ucapan Lin Feng membuat Xie Ling melepaskan pelukannya, ia menghentakkan kakinya ke tanah dan langsung membelakangi Lin Feng.


"Hahahaha! Kemari-lah, ayah benar-benar minta maaf."


"Tidak mau!"


"Kau yakin? Tidak mau memeluk ayah lagi?"


"Tidak!"


"Yasudah, kalau begitu ayah peluk adikmu saja."


Jia Zhen tersenyum penuh kemenangan, ia bergegas menghampiri Lin Feng yang kini merentangkan kedua tangannya, namun sebelum ia berhasil menggapai ayahnya, Xie Ling sudah lebih dulu melompat masuk dalam dekapan Lin Feng.


"Bukankah tadi..."

__ADS_1


"Aku sangat menyayangi ayah, aku tidak peduli mereka menyebutku anak manja, karena aku ingin selalu dimanjakan oleh ayah" ujar Xie Ling.


"Ayah juga menyayangi kalian semua."


__ADS_2