
Langkah Jia Zhen akhirnya terhenti setelah dirinya berada di aula istana, tatapan matanya yang tenang terfokus pada dua sosok yang tengah duduk di singgasana yang begitu megah.
"Anak muda, boleh aku tahu siapa dirimu?" tanya sosok pria yang Jia Zhen yakini sebagai raja di istana itu.
"Aku lebih tertarik untuk mengetahui siapa dirimu" jawab Jia Zhen.
"Anak muda yang menarik, apa kau mau menjadi putra kami?" tanya sosok wanita, kemudian beranjak dari singgasananya dan langsung menghampiri Jia Zhen.
Jia Zhen menggeleng pelan, "Mohon maaf, yang mulia ratu. Tapi, aku masih memiliki orang tua yang lengkap dan sangat menyayangiku" jawabnya dengan sopan.
Wanita itu tersenyum seraya membelai lembut pipi Jia Zhen dengan telapak tangannya yang terasa begitu halus dan lembut. Meski baru saja ditolak, tapi tidak ada amarah sedikitpun di raut wajahnya.
Bahkan, tatapan matanya sangat tenang, dan Jia Zhen yakin, tatapan itu bisa menenangkan siapapun yang melihatnya, berhasil ketenangan di mata wanita itu berhasil Jia Zhen mengukir senyuman indah di bibirnya yang tipis.
"Tidak masalah jika kau masih memiliki orang tua, karena aku tidak akan merebut-mu dari mereka."
"Yang mulia ratu, aku benar-benar minta maaf" sahut Jia Zhen.
"Istriku, tidak baik terlalu memaksakan kehendak, jika anak muda ini tidak mau, kita tidak bisa memaksanya."
"Hah" wanita itu menghela napas panjang, kemudian kembali ke sisi suaminya, "Sayang sekali, padahal dia anak yang sangat baik" ucapnya pelan, namun masih terdengar oleh Jia Zhen.
Jia Zhen hanya menanggapi perkataan wanita itu dengan senyuman, kemudian mengarahkan pandangannya para sang raja yang masih duduk tenang di singgasananya yang megah.
"Yang mulia, boleh aku mengetahui siapa yang mulia berdua?" tanya Jia Zhen.
"Aku tidak keberatan mengatakan siapa diriku sebenarnya, tapi sebelum itu, aku ingin menguji dirimu terlebih dahulu, apa kau bersedia?"
"Tenang saja, aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau."
Jia Zhen tidak langsung menjawab dan memilih untuk memikirkan tawaran pria itu, meski ia belum mengetahui ujian apa yang akan diberikan oleh pria itu, tapi setidaknya, dengan ujian itu, ia bisa meningkatkan potensi dirinya lagi.
"Baiklah, tapi aku juga punya permintaan" jawab Jia Zhen.
"Hahahaha!" pria itu tertawa lantang, "Aku sangat suka dengan anak muda yang berterus terang, katakan, apa permintaanmu!"
Setelah itu, Jia Zhen menceritakan jika pamannya akan menikah besok dan dirinya membutuhkan sesuatu untuk diberikan sebagai hadiah pernikahan pamannya itu.
Kemudian, Jia Zhen menjelaskan jika dirinya tidak ingin memberikan sesuatu yang biasa saja pada pamannya, dengan kata lain, ia meminta sesuatu yang berharga dari pria itu.
"Tidak masalah aku akan memberikan beberapa harta berharga jika kau berhasil melewati ujian-ku!"
"Aku anggap itu sebagai kesepakatan!" ujar Jia Zhen.
Pria itu tersenyum, "Baiklah, ujian pertama adalah menahan tekanan dari kekuatanku!"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban atau tanggapan dari Jia Zhen, pria itu langsung saja melepaskan aura kekuatannya, sehingga membuat Jia Zhen merasa seperti tubuhnya ditimpa oleh sesuatu yang sangat berat.
Meski tekanan intimidasi yang menimpa sangat besar, namun Jia Zhen masih dapat bertahan hanya dengan melepaskan kekuatannya saja, tapi kekuatan yang ia lepaskan untuk menahan tekanan itu hampir mencapai seratus persen.
"Lumayan, aku akan menambah tekanannya!"
Wushh!
Aura yang jauh lebih besar menerpa tubuh Jia Zhen, seketika itu juga, tekanan intimidasi yang lebih besar lagi langsung menimpa tubuhnya, bahkan tekanan itu sampai membuat tubuh Jia Zhen sedikit membungkuk karenanya.
"Ini masih belum seberapa!" ujar Jia Zhen seraya melepaskan kekuatan sampai tahap maksimal.
"Hahahaha! Teruslah bertahan, anak muda! Buktikan jika dirimu pantas mendapatkan pengakuan dariku!"
Wushh!
Aura yang lebih besar lagi kembali menerpa tubuh Jia Zhen, dan tekanan intimidasi yang ditimbulkan oleh aura tersebut sampai memaksa Jia Zhen menggunakan energi Dewa dalam tubuhnya, kalau tidak, dia pasti sudah pingsan karenanya.
"Tebakanku ternyata benar, itu artinya, tidak masalah jika aku menggunakan kekuatan yang lebih besar lagi."
"Anak muda, jika kau berhasil menahan sepuluh persen kekuatanku ini, maka aku akan menyudahi ujian pertama ini!"
Wushh!
"Arkhhh!"
Darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya, yang menandakan jika jiwanya terluka karena tekanan intimidasi yang sangat dahsyat itu.
Walaupun pria itu hanya mengerahkan sepuluh persen kekuatannya, namun bagi Jia Zhen, kekuatan sepuluh persen itu sudah sangat besar, bahkan benar-benar sangat besar baginya.
Meski jiwanya sudah mulai terluka karena menahan tekanan yang melebihi kemampuannya, namun Jia Zhen masih belum ingin menyerah, keinginannya untuk memberi hadiah pada Zhu Ling memberikan dorongan pada dirinya untuk tetap bertahan.
"Suamiku, hentikan sekarang juga!"
"Tapi..."
"Hentikan atau aku akan marah!"
"Ti-tidak, ja-jangan dihentikan" sahut Jia Zhen.
"Tapi tekanan seperti ini bisa saja menghancurkan jiwamu."
"A-aku masih bisa bertahan!"
Wushh!
__ADS_1
Boom!
Boom!
Tidak lama berselang, dari dalam tubuh Jia Zhen terdengar suara ledakan teredam sebanyak dua kali, yang menandakan jika kultivasi-nya telah meningkat sebanyak dua tingkat.
Kejadian itu sontak membuat pria itu terkejut, karena tidak menyangka jika Jia Zhen akan memanfaatkan tekanan darinya untuk memaksakan diri melewati batasannya sendiri.
Cara yang Jia Zhen lakukan adalah cara yang sangat ekstrim, karena jika dirinya gagal, maka resikonya adalah kematian, oleh karena itu, cara seperti ini tidak pernah digunakan oleh para kultivator.
Dan mereka yang masih saja menggunakan cara ini, biasanya akan dianggap sebagai jenius tiada banding, bahkan ada yang menganggap mereka gila, karena rela mengorbankan nyawa demi meningkatkan kultivasi.
"Luar biasa, sudah ribuan tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat orang nekat sepertimu" ucap pria tersebut.
"Bukankah kau dulu juga seperti itu?"
Pria itu tertawa canggung, "Istriku, kenapa malah mengungkit masa lalu?"
"Bukan urusanmu!" ujar wanita tersebut, kemudian menghampiri Jia Zhen, lalu mengobati jiwa Jia Zhen yang telah terluka karena ulah suaminya.
"Nak, siapa namamu?"
"Lin Jia Zhen."
"Nama yang bagus! Baiklah, sekarang ujian kedua." sahut pria yang masih belum beranjak dari singgasananya itu.
"Biar aku saja!"
Setelah kembali duduk di singgasananya, wanita itu kemudian tersenyum pada Jia Zhen, "Lin Jia Zhen, tingkat ketenangan tertinggi adalah kehampaan. Tapi, apa kau mengetahui tingkatan tertinggi setelah kehampaan?"
Pertanyaan wanita itu terdengar biasa, namun berhasil membuat Jia Zhen memutar otaknya untuk menemukan jawabannya, karena menurutnya, tidak ada lagi tingkat ketenangan yang lebih tinggi selain kehampaan.
"Kehampaan, hampa... bukankah sama saja dengan kosong? Tidak, lebih tepatnya kekosongan" jawab Jia Zhen.
Suami istri itu saling berpandangan ketika mendengar jawaban Jia Zhen, kemudian mereka mengangguk dan menoleh padanya.
"Apa aku benar?"
"Tidak hanya benar, tapi jawaban yang kau berikan sangatlah tepat."
"Kehampaan sebenarnya sama saja dengan kekosongan, bahkan hampir tidak ada bedanya. Namun, kekuatan dibalik kekosongan ini jauh lebih besar daripada kehampaan."
"Kekuatan?"
Pria yang sejak awal hanya duduk di singgasananya itu, akhirnya berdiri dan kemudian menghampiri Jia Zhen, begitu juga dengan istrinya.
__ADS_1
"Perkenalkan, kami adalah Dewa Kekosongan, satu tingkatan lebih tinggi darimu yang merupakan Dewa Kehampaan."