Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-208. Lagi?


__ADS_3

Patriark dan para tetua sekte bergidik ngeri mendengar perkataan Xie Ling, mereka benar-benar tidak menyangka jika gadis muda itu ternyata memiliki jiwa yang sangat kejam, bahkan dari tatapan matanya saja sudah bisa ditebak betapa kejamnya ia.


"Ling'er..."


"Kakak, jangan hentikan aku! Aku ingin mereka semua merasakan akibat perbuatannya yang telah berani mengusik kakakku!" ujar Xie Ling.


Xie Long hanya bisa pasrah tanpa bisa mengucapkan apapun lagi, karena jika adiknya itu sudah marah, maka tidak akan ada lagi yang bisa menghentikannya, dan jika dia tetap memaksa menghentikan Xie Ling, adiknya itu pasti akan sangat marah padanya.


Bagi Xie Long, lebih baik dia berhadapan dengan ratusan hingga ribuan musuh seorang diri, daripada harus menghadapi kemarahan Xie Ling, karena, saat Xie Ling marah padanya, maka dia harus siap didiamkan selama berhari-hari dan Xie Long tidak mau itu terjadi.


"Nona, yang mana dulu yang harus aku siksa?" tanya Xiao Xie.


"Dia, aku tidak suka padanya!" ujar Xie Ling menunjuk salah seorang tetua.


Senyuman mengerikan terukir di bibir Xiao Xie, dengan langkah yang perlahan, ia kemudian menghampiri tetua sekte yang ditunjuk oleh Xie Ling.


"Aku tidak punya dendam denganmu, tapi perintah Nona adalah hal mutlak yang tidak bisa dibantah!" ujar Xiao Xie, kemudian memotong tangan dan kaki tetua tersebut.


Arkhhh!


Teriakan memilukan keluar dari mulut tetua tersebut, bahkan teriakannya sampai menggema dan terdengar ke seluruh bagian sekte, jika saja di sekte itu masih ada orang yang tersisa, pastilah mereka akan sangat kaget karenanya.


Patriark dan tetua yang lain bergidik ngeri, tubuh mereka langsung gemetar karena rasa takut yang menyelimuti tubuhnya, belum lagi ditambah dengan sosok Xiao Xie yang terlihat mengerikan, yang pastinya membuat rasa takut mereka kian membesar.


"Nona, siapa selanjutnya?" tanya Xiao Xie.


"Pilih sesukamu!" ujar Xie Ling.


"Baik, Nona!"


Xiao Xie tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan Tuannya, kekesalan yang selama ini sudah terpendam dalam dirinya, akhirnya bisa ia lampiaskan pada patriark dan para tetua sekte Naga Angin.


Setelah memotong kaki dan tangan mereka semua, Xiao Xie kembali bertanya pada Xie Ling, namun adik Xie Long itu malah bersikap seolah tidak mau tahu, bahkan ia mengatakan jika dirinya hanya ingin mereka semua mati dengan cara mengenaskan.


Patriark dan para tetua sekte yang sudah berada diambang kematian, hanya bisa menyesali perbuatan mereka yang telah menyinggung Xie Long, jika saja mereka tidak keras kepala, mungkin nasib mereka tidak akan berakhir seperti saat ini.


***


Hutan yang tidak terlalu jauh dari sekte.


"Xiao Xie, kenapa kau mengubah wujud mu menjadi laki-laki?" Xie Long yang sudah tidak sanggup menahan rasa penasarannya, akhirnya menanyakan hal itu kepada Xiao Xie.


Alis Xiao Xie nampak berkedut saat Xie Long melontarkan pertanyaan itu padanya, jika saja yang melontarkan pertanyaan itu adalah orang lain, mungkin sudah dihajar habis-habisan oleh Xiao Xie.


"Tuan, kapan aku pernah menyebut diriku perempuan?"

__ADS_1


Xie Long mengangguk pelan, "Maafkan aku" ucapnya.


"Jadi, kemana tujuan kita sekarang?" tanya Xie Ling.


"Ling'er, sebelum menentukan tujuan selanjutnya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu."


Ekspresi wajah Xie Ling berubah saat mendengar perkataan kakaknya itu, tingkahnya terlihat seperti seseorang yang tengah menyembunyikan sesuatu.


"Pertama, apa ibu tahu kau ke sini?"


Xie Ling tertunduk tanpa memberikan tanggapan apapun, namun diamnya itu sudah bisa menjawab pertanyaan Xie Long.


Dan ya! Xie Ling datang ke Daratan Suci tanpa sepengetahuan Luo Ning ataupun yang lainnya, karena jika dia mengatakan hal itu pada ibunya, sudah pasti dia tidak akan mendapatkan izin.


"Hah" Xie Long menghela napas panjang, "Kembalilah, ibu pasti mengkhawatirkan mu" ucapnya.


"Tapi, kak..."


"Tapi apa? Apa kau membantah perkataan ku?"


"Xie Ling, ayah tidak pernah mengajarkan kita untuk tidak jujur, ayah juga tidak pernah mengajarkan kita untuk pergi tanpa sepengetahuan keluarga, tapi apa yang kau lakukan sekarang?"


"Kembalilah!"


Xie Long memang sangat memanjakan adik-adiknya, namun bukan berarti ia tidak bisa bersikap tegas pada kedua adiknya, justru, ialah yang akan memarahi kedua adiknya saat mereka melakukan kesalahan, misalnya saja seperti saat ini.


"Kak, aku datang karena merindukan kakak."


"Kita sudah bertemu dan telah melepaskan rindu, jadi sebaiknya kau pulang sekarang!"


"Kakak jahat!" ujar Xie Ling menghentakkan kakinya, kemudian berlari meninggalkan mereka dalam keadaan menangis.


"Jangan dikejar!" Xie Long menghentikan langkah Xiao Xie yang hendak menyusul Xie Ling.


"Tapi, Tuan..."


"Biar aku yang mengurusnya!"


***


"Ling'er"


Xie Ling mengabaikan panggilan kakaknya, ia bahkan tidak mau menoleh pada kakaknya sedikitpun.


"Hah" Xie Long menghela napas, kemudian menghampiri adiknya itu dan langsung memeluknya, walau sempat ditolak, namun ia tetap berhasil membawa adiknya itu kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Dengar, aku tidak akan marah jika kau tidak melakukan kesalahan."


"Memangnya salah jika aku mau menemui kakakku sendiri?"


"Memang tidak salah, tapi caramu melakukannya yang salah" jawab Xie Long sembari membelai puncak kepala adiknya dengan pelan.


"Saat kau pergi tanpa sepengetahuan siapapun, apa kau tidak memikirkan kekhwatiran ibu? Dan mungkin saja, ibu sedang mencari mu saat ini."


"Aku tidak marah karena kau datang ke sini, bahkan aku akan mengizinkanmu untuk ikut bersamamu, asalkan, kau sudah meminta izin pada ibu."


"Ling'er, maaf jika kakak sudah membentak mu, tapi yang aku lakukan ini demi kebaikanmu juga, karena aku tidak ingin melihatmu menjadi anak yang melupakan ayah dan ibunya."


"Mengertilah, saat kakak memarahi mu karena melakukan suatu kesalahan, artinya kakak masih sangat peduli dan sangat menyayangimu."


"Kembalilah, ibu pasti sedang khawatir karena kau tidak ada di istana."


Setelah berusaha cukup lama, Xie Long akhirnya berhasil membujuk adiknya itu untuk kembali ke Benua Biru, ia juga meminta Xie Ling untuk berjanji agar tidak mengulang perbuatannya itu lagi, karena ia benar-benar akan marah jika Xie Ling melakukan hal itu lagi.


***


"Aku tidak menyangka kau bisa tegas pada adikmu" ucap Huanran setelah Xie Ling kembali bersama Xiao Xie.


"Aku tidak akan seperti ini jika dia tidak melakukan kesalahan" sahut Xie Long.


"Bagaimana denganku, apa kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku berbuat salah?"


"Tentu" jawab Xie Long singkat.


"Alasannya?"


Xie Long menghentikan langkahnya, kemudian menghadap Huanran dan menatap lekat matanya. Tindakan Xie Long yang sangat tiba-tiba, membuat jantung Huanran berdegup kencang, bahkan rona merah di pipinya semakin jelas terlihat.


"Apa aku harus mengatakan alasannya? Dan bukankah kau sendiri sudah mengetahui apa alasannya?"


"I-itu..." Huanran tidak mampu melanjutkan ucapannya, karena semakin lama Xie Long menatapnya, semakin kencang pula detak jantungnya.


Tatapan mereka bertemu untuk waktu yang sangat lama, dari tatapan mata itu, mereka dapat mengetahui jika mereka memiliki perasaan yang sama. Huanran dapat melihat dirinya di dalam mata Xie Long dengan jelas, begitupun sebaliknya.


Saat ini, otak mereka seakan berhenti untuk bekerja dan hanya naluri yang tengah menuntun mereka untuk saling mendekatkan wajah, setelah wajah mereka sangat dekat, keduanya kemudian memejamkan mata, namun...


"Ekhem!"


Hal yang sama terjadi lagi, disaat bibir keduanya hampir saja menyatu, sebuah suara membuat akal sehat mereka bergegas kembali menguasai dirinya, dan seketika itu juga, keduanya saling menjauh dan membuang muka.


"Tuan!"

__ADS_1


"A-aku lapar, tolong siapkan makanan!"


"Baik, Tuan!" sahut Xiao Xue.


__ADS_2