
Sepanjang perjalanan menyusuri daratan baru ini, Jia Zhen tidak henti-hentinya memikirkan keanehan yang terjadi dalam dirinya, selain itu, ia juga sangat penasaran mengenai kemunculan pedang ayahnya di dalam gumpalan energi tersebut.
Karena tidak bisa berhenti berpikir, Jia Zhen sampai tidak bicara sepatah katapun sejak menyelesaikan meditasi-nya, dan hal ini tentunya membuat Huise serta yang lainnya khawatir, bahkan mereka berpikir telah terjadi sesuatu pada Jia Zhen.
"Zhu Ling, diantara kami semua, hanya kau yang paling dekat dengan Tuan Muda, dan mungkin saja dia akan bercerita padamu."
"Baiklah, akan kucoba" sahut Zhu Ling, kemudian mendekati Jia Zhen.
"Tuan Muda"
Jia Zhen menoleh, "Ada apa, Bu?"
"Sejak tadi, Tuan Muda selalu saja diam, apakah ada masalah?"
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "Sebenarnya memang ada sedikit masalah, tapi ini bukan hal yang penting."
"Tuan Muda, penting atau tidaknya masalah, sebaiknya jangan dipendam sendiri. Jika Tuan Muda mau berbagai, kami semua siap menjadi pendengar dan mungkin saja, kami bisa membantu Tuan Muda menemukan jalan keluarnya."
Jia Zhen memikirkan perkataan Zhu Ling, dan memang benar, ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya sekarang dan merekalah orang itu. Kalaupun mereka tidak menemukan solusinya, setidaknya ia sudah mau berbagi.
"Kita istirahat sebentar" ucap Jia Zhen, kemudian melesat turun ke bawah.
Setelah mendarat di tanah, Jia Zhen kemudian menjelaskan mengenai perubahan kekuatan dalam dirinya, ia juga menjelaskan tentang kemunculan pedang ayahnya, hanya saja, ia masih belum mau menceritakan tentang Zhen Jia.
"Maaf Tuan Muda, boleh aku melihat kekuatan Tuan Muda?"
Jia Zhen mengangguk, kemudian menunjukkan kekuatannya pada mereka semua. Kekuatan petir yang muncul di telapak tangan Jia Zhen memang terlihat berbeda, jika sebelumnya lebih didominasi oleh warna merah, sekarang justru lebih didominasi oleh warna emas.
Selain warna yang mengalami perubahan, aura yang terpancar dari kekuatan itu juga mengalami perubahan yang sangat besar. Sebelumnya, kekuatan Jia Zhen terdiri dari dua aura dalam satu kekuatan, namun sekarang, auranya benar-benar telah menyatu.
"Sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi menurutku, kekuatan Tuan Muda telah meningkat ke tahap yang lebih sempurna" ucap Huise setelah mengamati kekuatan Jia Zhen.
"Lalu, bagaimana dengan kemunculan pedang ayah?" tanya Jia Zhen.
Huise diam sejenak, kemudian menjelaskan asal-usul pedang hitam milik Lin Feng, yang terbuat dari pohon jiwa yang didalamnya terkandung jiwa salah satu Beast penguasa, yaitu rusa agung tujuh warna.
__ADS_1
Setelahnya, Huise menjelaskan tentang pedang emas yang merupakan perwujudan jiwa silat Lin Feng, dan ia juga menjelaskan tentang kekuatan sejati yang dimiliki oleh pedang emas itu.
Terakhir, Huise juga menjelaskan tentang pedang emas yang telah menyatu dengan pedang hitam, dan dengan kata lain, kemunculan pedang Lin Feng dalam diri Jia Zhen, pastikan berhubungan dengan kekuatan petir surgawi.
Alasannya, karena Jia Zhen memiliki kekuatan sejati yang sama dengan kekuatan pedang hitam, yaitu kekuatan petir surgawi.
Meski kekuatan itu telah menyatu dengan kekuatan api emas, tetap tidak merubah kenyataan bahwa Jia Zhen memiliki kekuatan petir surgawi.
"Penjelasan paman cukup masuk akal, tapi aku masih tidak mengerti kenapa pedang itu bisa muncul, sedangkan kita masih belum mengetahui dimana ayah sekarang."
"Maaf Tuan, aku juga tidak mengerti kenapa pedang itu bisa muncul, selain itu, aku sudah menjelaskan semua hal yang aku ketahui" sahut Huise.
"Tidak apa paman, terima kasih sudah membantuku meringankan beban pikiran ini."
Meski penjelasan Huise belum menjawab semua rasa penasarannya, namun berkat penjelasan itu, Jia Zhen berhasil meringankan beban pikirannya.
***
Pulau terpencil ditengah lautan yang sangat luas.
"Hua'er, bagaimana keadaan pemuda itu?"
Wanita tua yang sebelumnya bertanya mendesah pelan, "Entah musibah apa yang dialami pemuda itu, keadaannya benar-benar sangat memprihatinkan."
"Semoga saja dia segera sadar."
"Ya sudah, nenek ingin pergi sebentar."
"Nenek mau kemana?"
"Kau sendiri tahu masalah kita sekarang, jadi nenek harus datang ke rumah pemimpin desa, semoga saja dia masih mau mendengarkan penjelasan nenek."
Setelahnya, wanita tua itu meninggalkan rumah mereka, sementara gadis bernama Chu Hua itu kembali kedalam rumah, ia menghampiri pemuda yang tengah terbaring tak sadarkan diri ditempat tidur.
"Saat seperti ini saja dia terlihat sangat tampan, apalagi saat bangun?"
__ADS_1
Pemuda asing yang ada di rumahnya itu, ia temukan terkapar bersimbah darah di bibir pantai beberapa bulan yang lalu, saat itu, Chu Hua berpikir jika pemuda itu sudah menjadi mayat, karena kondisinya benar-benar mengenaskan.
Setelah memastikan jika pemuda itu masih hidup, Chu Hua kemudian membawanya pulang kerumahnya, kemudian mengobati seluruh luka di tubuh pemuda tersebut.
Chu Hua kemudian mengarahkan pandangannya ke tangan kiri pemuda itu, "Aku harus mengganti obatnya sekarang" gumamnya, kemudian mengambil obat herbal di meja yang berada tidak jauh darinya.
Kemudian, Chu Hua melepaskan kain yang membalut tangan kiri pemuda itu, tangan yang telah terpotong dan hanya tersisa setengah lengan saja. Setelahnya, Chu Hua membalut tangan pemuda itu dengan obat herbal racikannya sendiri.
"Semoga saja kau bisa menerima keadaan ini, meski tangan kiri-mu sudah tidak sempurna lagi, namun kau masih memiliki kelebihan yang lainnya."
Setelah selesai mengoles tangan pemuda itu dengan obat herbal, Chu Hua kemudian membalutnya dengan kain, disaat yang bersamaan, tangan pemuda itu nampak sedikit bergerak, dan kejadian itu sontak membuat Chu Hua sangat senang.
"Kau sudah sadar?"
"Di-dimana ini?"
"Ini di rumahku" jawab Chu Hua.
Pemuda itu menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya, ia kemudian mencoba untuk bangkit, namun seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, bahkan untuk bergerak saja sangat sulit untuknya sekarang.
"Jangan bergerak dulu, kondisimu masih belum membaik" ucap Chu Hua.
"A-aku harus pulang sekarang."
"Kau bisa pulang setelah kondisimu membaik, untuk sementara ini, sebaiknya kau tetap disini saja" sahut Chu Hua.
Pemuda itu mendesah pelan, meski ada keinginan yang sangat besar untuk segera pulang, namun perkataan gadis itu memang sangat benar, karena tidak mungkin ia bisa pulang dengan keadaannya saat ini.
"Siapa namamu?"
"namaku... Lin Feng."
"Namaku Chu Hua, baiklah, Lin Feng, apa kau lapar?"
Lin Feng hanya menanggapi pertanyaan Chu Hua dengan gelengan kepala, bagaimana mungkin ia memikirkan perutnya sementara ia tidak mengetahui keadaan anak dan istrinya, selain itu, dia tidak lapar sama sekali.
__ADS_1
"Kau yakin? Maksudku, kau sudah lama tidak makan dan mustahil kau tidak lapar."
"Maaf, aku benar-benar tidak lapar sekarang."