
Saat membuka matanya, Jia Zhen dibuat terkejut karena dirinya berada di tempat yang aneh, padahal dia masih mengingat dengan jelas jika sebelumnya, ia dan anggota pilar kematian tengah berada di hutan.
Akan tetapi, sekarang ia tidak hanya tidak berada di hutan sebelumnya, tapi semua anggota pilar kematian juga tidak ada di dekatnya, dan anehnya lagi, tidak ada apapun di tempat itu kecuali air di bawah kakinya.
Bisa dikatakan, tempat itu menyerupai sebuah lautan yang benar-benar sangat luas, namun yang membedakannya adalah, lautan pastinya akan selalu ada ombak, tapi tidak dengan tempat itu.
Selain tidak adanya ombak, ditempat itu juga tidak ada angin yang bertiup, bahkan di atasnya hanya ada langit biru yang membentang sangat luas, tidak ada awan yang menghiasi ataupun matahari yang bersinar.
"Tempat apa lagi ini?" gumam Jia Zhen seraya melangkahkan kakinya menyusuri tempat aneh itu.
Jia Zhen terus melangkah tanpa tahu arah dan tujuan, satu-satunya hal yang ia ketahui adalah, dia terus melangkah maju dan tidak pernah berhenti, sambil terus menoleh ke sekitarnya untuk memeriksa tempat tersebut.
Tidak lama berselang, dari dalam air yang sangat tenang itu memancar cahaya emas yang cukup terang, karena penasaran, Jia Zhen kemudian menghampiri sumber cahaya tersebut, yang keberadaannya tidak terlalu jauh darinya.
Saat Jia Zhen sampai di sana, dari dalam air muncul gumpalan energi yang memancarkan cahaya emas, gumpalan tersebut sangat padat hingga membentuk seperti sebuah bola sebesar kepala pria dewasa.
"Lin Jia Zhen, akhirnya kau bisa datang ke sini!"
Jia Zhen tersentak kaget ketika mendengar bola cahaya didepannya itu bicara dan suaranya terdengar seperti perempuan, "Siapa kau? Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?"
"Jia Zhen, aku adalah bagian dari dirimu, aku sudah ada dalam dirimu saat kau masih dalam kandungan ibumu" jawab bola cahaya tersebut.
Jia Zhen mengerutkan dahinya mendengar perkataan bola cahaya itu, "Maksudmu?"
"Sulit bagiku untuk menjelaskannya, tapi intinya adalah, aku adalah dirimu."
Penjelasan yang sangat singkat itu benar-benar tidak dimengerti oleh Jia Zhen, "Aku tidak mengerti" ucapnya.
"Sama halnya dengan kakakmu, kau juga memiliki kembaran dan itu aku, hanya saja, kita hanya memiliki satu tubuh dan satu jiwa, berbeda dengan kedua kakakmu."
"Itu tidak mungkin! Ibu sudah menjelaskan semuanya dan aku tidak memiliki kembaran!" ujar Jia Zhen.
"Benar! Secara fisik kau memang tidak memiliki kembaran, karena jiwamu-lah yang memiliki kembaran dan aku, adalah jiwa keduamu."
__ADS_1
"Jia Zhen, tidak masalah jika kau tidak percaya padaku, tapi inilah kenyataannya, kau terlahir dengan dua jiwa."
Jia Zhen menghela napas panjang, membuang segala sesuatu yang mengganggu pikirannya, walaupun sulit baginya untuk percaya dengan semua ini, namun ada alasan kuat yang bisa menjelaskan semuanya.
Alasan itu adalah kedua orang tuanya sendiri, ayah dan ibunya memiliki sepasang jiwa yang bernama jiwa Yin dan Yang, meski mereka berbeda, namun pada dasarnya mereka tetaplah satu dan saling berkaitan.
Jika apa yang Jia Zhen pikirkan saat ini memang benar adanya, maka dirinya juga memiliki jiwa yang mirip seperti kedua orang tuanya, hanya saja, Jia Zhen memiliki kedua jiwa itu secara langsung, atau lebih tepatnya, dia memiliki dua jiwa dalam satu tubuh.
"Jadi, siapa namamu?" tanya Jia Zhen setelah berhasil mencerna keanehan yang menimpa dirinya.
"Aku terlahir dalam dirimu, sehingga tidak ada yang menyadari keberadaan-ku selain dirimu, dan karena itu juga, aku tidak memiliki nama."
"Begitu ya?" Jia Zhen menempelkan jari telunjuknya di dagunya sembari memikirkan sesuatu, "Bagaimana kalau aku saja yang memberimu nama?"
"Benarkah?"
Jia Zhen mengangguk pelan, "Anggap saja sebagai permintaan maaf-ku karena baru menyadari keberadaan-mu."
Setelah itu, Jia Zhen kembali diam sembari memikirkan nama yang cocok untuk gumpalan cahaya emas di depannya itu, namun karena belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, iapun merasa sedikit kesulitan.
"Zhen Jia?"
Jia Zhen mengangguk pelan, "Sebenarnya nama itu adalah kebalikan dari namaku, apa kau suka?"
"Aku suka, terima kasih, kakak!"
Meski tidak memiliki wujud, namun Jia Zhen dapat merasakan kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh gumpalan energi didepannya itu, dan entah kenapa, Jia Zhen malah merasa senang saat dirinya dipanggil "kakak" oleh gumpalan energi tersebut.
"Kakak, ikut aku!"
"Kemana?"
"Aku akan menunjukkan sesuatu."
__ADS_1
Setelah itu, gumpalan energi tersebut melesat terbang meninggalkan tempat itu, kemudian diikuti oleh Jia Zhen yang sangat penasaran dan ingin mengetahui sesuatu yang akan ditunjukkan oleh gumpalan energi itu padanya.
Tidak lama berselang, mereka akhirnya sampai di sebuah altar di tengah lautan tenang itu. Kemudian, gumpalan energi tersebut melayang ke tengah-tengah altar, lalu cahaya emas yang terpancar darinya semakin terang dan menyilaukan.
Cahaya yang sangat terang dan menyilaukan itu memaksa Jia Zhen untuk menutup matanya, lalu ia membuka matanya lagi setelah merasakan cahaya itu mulai redup dan akhirnya menghilang.
Ketika membuka matanya, Jia Zhen kembali dibuat terkejut ketika melihat seorang anak perempuan seusianya tengah menatapnya, penampilan anak itu benar-benar mirip dengannya, bahkan wajah mereka juga sama.
"Kakak!" ujar anak perempuan itu, kemudian berlari menghampiri Jia Zhen dan memeluknya dengan erat.
"Kau..."
"Ini aku, Zhen Jia"
"Bukankah tadi..."
"Aku hanya bisa menunjukkan wujud-ku di tempat ini" ujar Zhen Jia yang masih memeluk Jia Zhen.
Jia Zhen tersenyum, kemudian membalas pelukan anak itu, saat ia memeluknya, ada perasaan hangat dan nyaman yang sulit dijelaskan, namun perasaan ini pernah ia rasakan ketika dirinya memeluk ayah ataupun ibunya, begitu juga dengan kedua kakaknya.
"Kakak, aku minta maaf karena tidak bisa membantumu menemukan ayah, tapi aku berjanji, aku akan selalu ada untukmu."
"Tidak apa-apa, kehadiranmu sudah sangat membantuku" sahut Jia Zhen, kemudian melepaskan pelukannya.
Setelah itu, keduanya mengobrol layaknya kakak dan adik, Jia Zhen yang awalnya sempat kebingungan, sekarang sudah bisa menerima kehadiran Zhen Jia dalam dirinya, selain itu, ia juga merasa senang karena memiliki seorang adik.
***
Esoknya.
"Tuan Muda, apa semalam terjadi sesuatu?" tanya Zhu Ling.
Saat membuka matanya lagi ini, Zhu Ling dibuat keheranan melihat Jia Zhen yang tersenyum bahagia, tapi bukan berarti dia tidak senang karena Jia Zhen tersenyum, hanya saja, dia sangat penasaran dan ingin mengetahui penyebab kebahagiaan itu.
__ADS_1
Jia Zhen menggeleng pelan, "Aku hanya senang karena semalam tidurku sangat nyenyak."
Zhu Ling hanya menanggapi perkataan Jia Zhen dengan senyuman, meski ia tahu jika Tuan Mudanya itu tengah menyembunyikan sesuatu, namun ia tidak ingin mengungkitnya lebih jauh, karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Jia Zhen.