
"Tunggu!" Prajurit itu menghentikan langkah mereka lagi, padahal keduanya sudah ingin meninggalkan kota Awan.
"Aku memang mengizinkan kalian pergi, tapi sebelum itu, kalian harus membayar denda!"
Jia Zhen menghela napas panjang, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi, "baiklah, berapa banyak yang harus kami bayar?" Ucapnya, masih dengan suara yang sangat dan sopan.
"Bayar dengan seluruh harta yang kalian miliki!"
"Tuan, apa kau ingin merampok kami?"
"Lancang! Apa kau pikir kau bisa bertindak seenaknya di kota ini?"
"Baiklah, aku akan membayarnya!" jawab Jia Zhen, kemudian menyerahkan sebuah cincin penyimpanan pada prajurit tersebut.
"Sudah selesai, bukan? Kalau begitu, jangan halangi kami lagi!"
Prajurit itu menunjukkan senyuman sinis di wajahnya, kemudian menghampiri Zhen Jia, "kau boleh pergi, tapi nona kecil ini tidak boleh meninggalkan kota ini!"
Boom!
Karena sudah tidak tahan, Jia Zhen akhirnya meluapkan amarahnya dan menghantam wajah prajurit itu dengan tinjunya, sehingga membuatnya terlempar puluhan meter jauhnya.
Meski tidak berakibat fatal, namun pukulan yang menghantam wajahnya itu sudah cukup untuk membuat wajahnya terluka dan kehilangan kesadaran.
"Aku bisa memaafkan tindakanmu yang semena-mena padaku, tapi jangan coba-coba untuk menyentuh adikku!"
"Bunuh bocah tidak tahu diri ini!" ujar salah seorang penduduk kota.
Tidak lama berselang, ratusan prajurit datang menghampiri mereka berdua, kemudian para prajurit itu mengelilingi Jia Zhen dan adiknya agar mereka berdua tidak bisa melarikan diri dari tempat tersebut.
"Bocah, kalian berdua harus dihukum mati karena telah berani menyerang kota Awan!"
"Apa kau tidak salah?" tanya Jia Zhen.
"Tentu saja tidak! Bunuh kedua bocah itu!"
"Zhen Jia, masuk ke tubuhku!" ujar Jia Zhen.
Setelah Zhen Jia masuk ke tubuhnya, Jia Zhen kemudian melompat ke udara dan langsung mengeluarkan pedang Dewa Asura dari cincin penyimpanannya, lalu setelah itu, ia menghilang dari pandangan.
Slash!
Slash!
Suara tebasan terdengar sangat jelas di telinga semua orang, pada saat yang bersamaan, satu-persatu kepala para prajurit di sana mulai menggelinding di tanah.
"Apa yang kalian lakukan? Serang bocah sialan itu!"
Mereka semua tentu ingin menyerang dan membalas perbuatan Jia Zhen yang telah membunuh teman-temannya, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena Jia Zhen tidak terlihat di mata mereka.
__ADS_1
Slash!
Dhuaaar!
Energi pedang yang sangat besar melesat ke arah para prajurit dan memotong apapun yang dilaluinya, bahkan beberapa bangunan yang ada di sana juga ikut hancur karena hantaman energi pedang tersebut.
Para penduduk kota berlarian menyelamatkan diri, karena tidak ingin menjadi korban dari pertarungan tersebut. Sedangkan para prajurit, mereka masih berusaha menemukan keberadaan Jia Zhen.
"A-apa itu?"
Prajurit yang tersisa menatap ke arah langit, sesuatu yang sangat besar berbentuk seperti bola api tengah melesat turun kearah mereka, ukurannya benar-benar besar hingga menyelimuti sebagian kota.
"Manusia seperti kalian tidak pantas untuk hidup!"
Dhuaaar!
Ledakan yang sangat dahsyat terjadi ketika bola api emas raksasa itu menghantam kota, ledakan itu berhasil membinasakan para prajurit yang ada di sana, begitupun dengan bangunan di bawahnya.
Akan tetapi, Jia Zhen masih menahan kekuatannya agar tidak menyakiti penduduk kota, sehingga yang menjadi korban dari kekuatan api emas hanyalah para prajurit saja.
Meski begitu, masih ada para penduduk yang menjadi korbannya, walaupun kekuatan api emas tidak menyakiti mereka, namun ledakan dahsyat itu tetap berhasil merenggut nyawa mereka.
"Bocah, apa yang kau lakukan!?"
Jia Zhen menoleh pada pria paruh baya yang tengah menatapnya dengan tatapan kebencian, "siapa kau?"
"Tentu saja, tapi apa yang mau kau lakukan?"
"Aku akan membunuhmu!"
"Lakukanlah jika kau mampu!" sahut Jia Zhen.
"Jangan terlalu sombong, bocah!"
Pria itu kemudian melesat kearah Jia Zhen dan langsung menyerangnya, namun serangan itu berhasil dihindari oleh Jia Zhen dengan mudah.
Pada saat yang bersamaan, Jia Zhen juga melancarkan serangan dengan menebaskan pedangnya, tapi serangannya juga berhasil ditahan oleh pria tersebut.
"Gerakan mu cukup gesit, tapi kecepatan saja masih belum cukup untuk melawanku!"
"Kita lihat saja nanti" sahut Jia Zhen, kemudian menghilang dari pandangan pria tersebut.
Pria itu mengerutkan dahi, lalu melepaskan aura kekuatannya untuk merasakan keberadaan Jia Zhen, setelah itu, ia melancarkan serangan kearah samping.
Wushh.
Boom!
Pada saat yang bersamaan, Jia Zhen muncul di sampingnya, bahkan serangannya berhasil mengenai Jia Zhen hingga membuatnya terlempar cukup jauh.
__ADS_1
"Hahaha! Apa kau sudah melihatnya? Kecepatan mu itu tidak ada artinya bagiku!" ujar pria tersebut.
Jia Zhen menghela napas untuk menenangkan dirinya, ia mengerti jika dirinya tidak akan bisa menang jika bertarung dengan amarah yang berkecamuk dalam dirinya.
Setelah benar-benar tenang, Jia Zhen kemudian melesat kearah pria tersebut, setelah jarak mereka cukup dekat, Jia Zhen langsung menebaskan pedangnya di udara.
Energi pedang yang cukup besar tercipta dan melesat kearah pria tersebut, namun energi pedang itu berhasil dihindari oleh pria itu dengan mudah.
Akan tetapi, ia tidak menyadari jika serangan itu hanyalah sebuah pengalihan, karena serangan yang sebenarnya dilancarkan oleh Jia Zhen setelah serangan itu dihindari.
Slash.
"Arkhhh!"
Pria itu berteriak kencang karena sebuah tebasan mendarat di punggungnya, ia langsung berbalik dan langsung melancarkan serangan, namun Jia Zhen sudah menghilang dari sana.
Slash.
"Arkhhh!"
Tebasan kedua kembali dilakukan oleh Jia Zhen dan berhasil memotong sebagian lengan kiri pria tersebut, lalu setelah itu, Jia Zhen menebas tangan kanan pria tersebut.
"Tunjukkan dirimu, bocah sialan!"
"Aku di sini!" ujar Jia Zhen kemudian melancarkan tendangan dan berhasil mengenai kepala pria tersebut.
Wushh.
Boom!
Pria itu terlempar sangat jauh dan jatuh ke tanah, darah segar mengalir dari sudut bibirnya dan beberapa giginya nampak patah karena tendangan Jia Zhen.
"A-aku tidak rela!"
"Apa kau tidak rela dikalahkan oleh seorang anak kecil?"
Pria itu menatap Jia Zhen dengan tatapan tajam, kemudian senyuman sinis terukir di bibirnya, "silahkan bunuh aku, tapi setelah ini, kau tidak akan bisa selamat!"
"Kau mengancam ku?"
"Hahahaha! Apa kau takut?!"
"Tidak ada yang bisa membuatku merasakan takut sedikitpun!" ujar Jia Zhen, kemudian memenggal kepala pria tersebut.
Setelah itu, Jia Zhen pergi meninggalkan kota Awan, karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan ditempat tersebut, padahal, awalnya ia hanya ingin mengetahui tentang masa lalu ayahnya, tapi akhirnya malah menemui masalah yang tidak terduga.
"Kakak, kemana tujuan kita sekarang?"
"Entahlah, tapi yang jelas aku masih ingin menyusuri Benua Biru ini" jawab Jia Zhen.
__ADS_1