Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-199. Kekuatan Jia Zhen


__ADS_3

Kekaisaran Luo.


Sejak kepergian kakak tertuanya, Lin Jia Zhen nampak sangat murung dan kadang seperti orang yang kehilangan semangat, meski masih ada kakak kedua yang selalu menjahilinya, namun hal itu tidak cukup untuk mengembalikan kecerahan di wajahnya.


Kadang kala, Lin Jia Zhen pergi ke tempat yang sepi di istana itu untuk menyendiri, meski belum sepenuhnya mengerti dengan bermeditasi, namun hal itulah yang ia lakukan saat ia sendiri di tempat yang sunyi.


Dibandingkan dengan kedua kakaknya, Lin Jia Zhen bisa dikatakan sebagai anak yang sangat manja, namun dibalik itu semua, tersimpan sifat yang tidak diketahui oleh orang lain, sifat yang hanya akan ia tunjukkan ketika dirinya sendirian.


"Lemah! Kenapa aku sangat lemah?" ucapnya sembari menatap pantulan dirinya di cermin.


"Jika saja aku memiliki kekuatan yang hebat, kakak tidak mungkin pergi meninggalkan kami, jika saja aku memiliki kekuatan, pasti akulah yang akan melindungi kedua kakakku."


Jia Zhen mengepalkan tinjunya karena marah pada dirinya sendiri yang tidak memiliki kekuatan, tubuhnya nampak gemetar saat mengingat, betapa lemahnya dirinya yang tidak bisa melakukan apapun seperti kedua kakaknya.


Wushh!


Tanpa di sadari, aura kekuatan terpancar dari tubuh Jia Zhen, tubuhnya nampak diselimuti oleh cahaya kilatan petir berwarna merah keemasan. kilatan petir yang keluar dari tubuhnya, menyambar ke seluruh ruangan dan menghancurkan apapun yang ada di sana.


Disaat yang sama.


Langit mendadak diselimuti oleh awan mendung, suara gemuruh terdengar jelas dari langit dan kemudian diikuti oleh sambaran petir berwarna merah keemasan. Selain itu, ada juga aura aneh yang berasal dari sambaran petir tersebut.


Fenomena aneh ini sontak membuat para penduduk kota kekaisaran menjadi gempar, mereka semua nampak ketakutan dan berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing, karena mereka menganggap bahwa fenomena itu adalah pertanda buruk.


"Apa yang terjadi?" tanya Luo Ming An yang baru saja keluar dari istana.


"Maaf yang mulia, kami juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi" jawab salah seorang prajurit.


"Ayah!"


Luo Ning yang sebelumnya bermeditasi, terpaksa harus menghentikan meditasi-nya karena terganggu oleh aura aneh itu, dan saat keluar dari istana, ia semakin kaget saat melihat petir merah keemasan yang menyambar dari langit.


"Aura kekuatan ini..."

__ADS_1


"Ning'er, apa kau mengetahui sesuatu?"


Luo Ning hanya mengangguk dan tidak menjawab pertanyaan ayahnya, lalu setelah itu, ia bergegas masuk ke istana untuk mencari Jia Zhen, karena ia yakin, kemunculan petir merah keemasan itu berasal dari putra bungsunya.


Sementara itu.


Lin Jia Zhen juga nampak kaget dengan kemunculan petir merah keemasan yang menyelimuti tubuhnya, ia bahkan sempat merasa takut saat melihat petir tersebut, namun saat mengetahui jika petir itu tidak menyakitinya, ia malah kegirangan sendiri.


Selain kekuatan petir merah keemasan, kedua lengan Jia Zhen juga diselimuti oleh armor berwarna merah kehitaman, armor tersebut terlihat sama seperti armor lengang milik Lin Feng, yang muncul karena kekuatan darah naga ditubuhnya.


Yang membedakannya adalah, armor lengan milik Lin Feng berwarna hitam pekat dan menyatu dengan jubah Asura, sedangkan milik Jia Zhen, malah berwarna merah kehitaman dan nampak mengandung kekuatan petir.


"Petir yang sangat indah, apa jangan-jangan petir ini adalah kekuatanku?" gumam Jia Zhen.


Disaat yang sama.


Luo Ning yang tengah mencari keberadaan Jia Zhen, akhirnya berhasil menemukan putra bungsunya itu di salah satu ruangan tidak terpakai di istana kekaisaran. Ia nampak memicingkan mata saat melihat kekuatan petir yang menyelimuti tubuh putranya itu.


"Zhen'er!"


Jia Zhen tersentak kaget saat mengetahui ibunya sudah ada di sana, karena takut dimarahi oleh ibunya, Jia Zhen kemudian menyembunyikan tangannya di belakang punggung, bahkan ia tidak berani menatap wajah ibunya secara langsung.


Disaat yang bersamaan, kekuatan petir yang menyelimuti tubuh Jia Zhen juga ikut menghilang, begitupun dengan armor yang menutupi lengannya, serta awan gelap dan petir merah keemasan yang sebelumnya terus menyambar dari langit.


Luo Ning tersenyum lembut menatap putranya yang tengah tertunduk, ia kemudian menghampiri Jia Zhen yang nampak ketakutan, lalu berjongkok agar tingginya bisa setara dengan putra bungsunya itu.


"Zhen'er, tidak mau memeluk ibu?"


Mendengar perkataan sang ibu, Jia Zhen yang semula tertunduk akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, seulas senyum terukir di bibirnya ketika melihat senyuman indah yang masih terlukis di wajah sang ibu.


Tanpa banyak bicara lagi, Jia Zhen langsung memeluk ibunya dengan erat, ia juga sangat senang karena sang ibu ternyata tidak marah padanya, padahal ia sempat sangat ketakutan saat memikirkan amarah ibunya itu.


"Zhen'er, ibu ucapkan selamat karena kau sudah berhasil membangkitkan kekuatanmu."

__ADS_1


"Ibu tidak bohong, kan?" tanya Jia Zhen setelah melepaskan pelukannya.


"Kenapa ibu harus berbohong sayang, kekuatan petir yang menyelimuti tubuhmu tadi, adalah kekuatan sejati yang ada di dalam dirimu" jawab Luo Ning.


Jia Zhen melompat kegirangan mendengar penjelasan ibunya, kekuatan yang selama ini sangat ia dambakan, akhirnya bisa ia miliki, walaupun ia sendiri masih belum mengetahui bagaimana cara menggunakannya.


"Ibu, apa aku sudah bisa berkultivasi seperti kakak?"


Luo Ning menggeleng pelan, "Sayangnya belum, meski kekuatanmu sudah bangkit, tapi kau belum bisa berkultivasi seperti kedua kakakmu."


Kasus Jia Zhen ini sangat berbeda dengan kedua kakaknya, bahkan Luo Ning sendiri sampai kebingungan dibuatnya, karena kekuatan Jia Zhen bangkit sebelum ia menjadi kultivator.


Meski begitu, Luo Ning tetap merasa senang karena putra bungsunya telah mendapatkan kekuatannya, dan saat ini, sudah menjadi tugasnya untuk melatih Jia Zhen agar bisa menguasai kekuatannya sendiri.


"Sekarang, katakan pada ibu, apa kau mau menjadi kultivator?" tanya Luo Ning.


Jia Zhen mengangguk dengan cepat, senyuman kebahagiaan nampak masih setia terukir di bibirnya yang tipis, namun, senyuman itu mendadak lenyap saat dia mengingat perkataan ayahnya.


"Tidak perlu khawatir, ibu yakin, ayah pasti sangat senang saat mengetahui kau sudah menjadi kultivator."


"Ibu yakin?"


Luo Ning mengangguk, "Tentu saja, nak. Ayahmu memang sangat keras, tapi dia sangat menyayangi kalian semua, jadi tidak mungkin dia tidak senang mendengar kabar bahagia ini."


"Terima kasih, Bu!" ujar Jia Zhen, kemudian memeluk Luo Ning dengan erat.


"Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita keluar dan menyampaikan kabar bahagia ini pada kakek mu?"


"Aku juga ingin menyampaikan kabar ini pada kakak, aku yakin dia tidak akan bisa menindas ku lagi!"


"Kau marah pada kakakmu?"


Jia Zhen menggeleng, "Aku sangat menyayangi kakak, Bu! Begitupun dengan ayah dan ibu, aku sangat menyayangi kalian semua!" ujarnya.

__ADS_1


Luo Ning hanya menanggapi perkataan putra bungsunya itu dengan senyuman dan tidak bisa dipungkiri, ada perasaan haru dan bahagia saat mendengar perkataan putra bungsunya tersebut.


__ADS_2