
Disaat yang bersamaan.
Perlahan namun pasti, sepasang mata yang telah tertutup untuk waktu yang lama akhirnya terbuka lagi, wajah yang biasanya pucat seperti tidak memiliki darah, kini sudah mulai berseri seperti biasanya.
"Ling'er" panggil Luo Ning dengan suara pelan.
Suara sang ibu yang sudah lama tidak ia dengar sontak membuat Xie Ling terbangun dari tidurnya, meski suara itu terdengar sangat pelan seolah seperti berbisik, namun ia masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ibu, akhirnya ibu bangun juga!" ujar Xie Ling kemudian memeluk erat tubuh ibunya.
Air mata kebahagiaan mengalir dengan deras dari mata Xie Ling, ia benar-benar sangat bahagia karena ibunya telah sadarkan diri, dan ia sangat bahagia karena akhirnya bisa bebas dari kesedihan serta kekhwatiran yang selama ini membelenggu dirinya.
"Ling'er, apa kau ingin tubuh ibu remuk?"
Xie Ling tersentak kemudian melepaskan pelukannya, "Maaf ibu, aku sangat bahagia sampai memeluk ibu terlalu erat" ucapnya.
Luo Ning tersenyum, kemudian membelai pipi putrinya itu serta menghapus jejak air mata yang masih ada di sana, "Tidak apa-apa, ibu malah senang karena kau ada di sini."
"Ling'er, bangunlah, sudah saatnya..."
Ucapan Huanran terhenti ketika melihat kearah Luo Ning yang telah sadar, "I-ibu..." tangis kebahagiaan kembali pecah, Huanran yang semula berhenti diambang pintu, bergegas menghampiri Luo Ning dan langsung memeluknya.
"Sudah, jangan menangis" ucap Luo Ning menenangkan kekasih putranya itu.
"Aku akan memberitahukan pada yang lain" ucap Xie Ling, kemudian keluar dari kamar ibunya.
Setibanya di luar, Xie Ling memanggil Xiao Xie, kemudian memerintahkannya untuk menyampaikan kabar mengenai ibunya kepada seluruh anggota keluarga Asura, termasuk pada kakaknya yang kini berada di Daratan Suci.
Xiao Xie mengangguk paham dan langsung berangkat menuju Benua Biru, lalu menuju ke kota Zuanshi untuk menyampaikan kabar pada klan Lin, setelahnya, ia berangkat menuju kekaisaran Feng, lalu kekaisaran Luo dan terakhir kekaisaran Yuan.
__ADS_1
Selain itu, Xiao Xie juga menyampaikan kabar mengenai Luo Ning pada pemimpin serta tetua sekte Phoenix Emas, karena bagaimanapun juga, mereka sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Asura.
Dan setelah menyelesaikan tugasnya di Benua Biru, Xiao Xie kemudian menghubungi saudaranya yang berada di Daratan Suci, ia berpesan pada Xiao Xue agar segera membawa Xie Long kembali ke Dunia Bawah untuk bertemu ibunya.
***
Untuk menenangkan dirinya, Lin Feng memutuskan untuk bermeditasi, walaupun tubuhnya belum bisa digerakkan, namun bukan berarti ia tidak bisa melakukan meditasi untuk memulihkan energinya.
Pertarungannya dengan Xin Yi tidak hanya sekedar menguras energinya saja, tapi juga hampir merenggut nyawanya dan jika saat itu Lin Feng terlambat sedetik saja, mungkin dirinya akan musnah dalam ledakan energi dahsyat itu.
Bisa dikatakan, Lin Feng sangat beruntung karena berhasil selamat, karena dampak dari ledakan energi yang sangat dahsyat itu berhasil masuk ke portal dimensi yang ia ciptakan, dan itulah yang membuatnya sampai terluka parah.
Meski kekuatan api emas dan es surgawi sudah melindungi dirinya, namun dampak ledakan itu masih saja dapat melukai Lin Feng, bahkan ia harus merelakan sebagian lengan kirinya karena dimakan oleh ganasnya ledakan energi tersebut.
"Lin Feng, sampai kapan kau mau tidur? Apa kau tidak ingin makan sesuatu?" tanya Chu Hua yang baru saja kembali ke rumah.
Lin Feng tidak menghiraukan Chu Hua, ia masih tetap fokus pada meditasi-nya, karena energi di dalam tubuhnya sudah mulai pulih secara perlahan-lahan. Jadi, Lin Feng tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat bagus tersebut.
Karena penasaran, Chu Hua kemudian mendekati Lin Feng yang nampak seperti sedang tidur, lalu ia mencoba untuk membangunkan Lin Feng dengan menyentuh pipinya, namun sayangnya, tangannya langsung ditepis oleh sesuatu sebelum sempat menyentuh Lin Feng.
"Apa itu tadi?" gumam Chu Hua, kemudian memberanikan diri untuk mencobanya lagi, namun hasilnya tetap sama saja.
Sebagai manusia biasa, Chu Hua tentu tidak mengetahui apa yang telah menepis tangannya, namun jika dia adalah kultivator, ia tentu bisa mengetahui jika tubuh Lin Feng sedang diselimuti oleh energi yang sangat padat dan perlahan mulai membesar.
***
Setelah beberapa jam berlalu, Lin Feng akhirnya membuka mata dan mengakhiri meditasi-nya, meski energinya belum sepenuhnya pulih seperti semula, namun energi yang berhasil ia kumpulkan sudah lebih dari cukup untuk memulihkan keadaannya.
Perlahan namun pasti, kekuatan api emas mulai menyembuhkan setiap luka di sekujur tubuh Lin Feng, hingga akhirnya, semua luka itu benar-benar sembuh total, bahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya juga sudah menghilang sepenuhnya.
__ADS_1
Namun sayangnya, kekuatan api emas yang memiliki efek penyembuhan yang luar biasa, nyatanya tidak bisa menumbuhkan sebagian lengan kiri Lin Feng yang terpotong, dan hanya menyembuhkan lukanya saja.
Meski begitu, Lin Feng tidak terlalu menghiraukan tangan kirinya yang tidak bisa tumbuh lagi, karena yang terpenting baginya sekarang adalah, segera memulihkan tenaga agar bisa kembali ke dimensi pertama.
"Lin Feng, kau..." Chu Hua kehabisan kata-kata, ia benar-benar tidak bisa percaya pada apa yang ia lihat saat ini.
Beberapa jam yang lalu, Chu Hua masih melihat Lin Feng terbaring ditempat tidur, tapi sekarang, pemuda tampan itu sudah bisa duduk, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, semua bekas luka di tubuhnya benar-benar menghilang.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Chu Hua.
"Seperti yang kau lihat, aku sudah sembuh" jawab Lin Feng.
"I-ini... benar-benar sulit dipercaya!"
"Tidak perlu di pikirkan, aku adalah seorang kultivator, jadi wajar jika lukaku bisa sembuh dengan cepat" jelas Lin Feng.
"Jadi kau seorang kultivator?" tanya Chu Hua memastikan, namun hanya di jawab dengan anggukan oleh Lin Feng.
"Syukurlah, aku senang karena kau sudah sembuh, tapi tangan kiri-mu..." Chu Hua menghentikan ucapannya, karena tidak ingin membuat Lin Feng merasa sedih.
Lin Feng tersenyum seraya menoleh ke tangan kirinya yang tinggal sebagian saja, "Tidak apa-apa, mungkin ini sudah menjadi takdirku."
Setelah itu, Lin Feng berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengeluarkan pakaian dari cincin penyimpanannya, karena tidak mungkin ia keluar dari sana hanya dengan mengenakan celana saja.
"Bisa tinggalkan aku sebentar?"
"Ba-baik!" jawab Chu Hua, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Tidak lama setelah Chu Hua pergi, Lin Feng langsung mengganti pakaiannya, lalu mengambil jubah hitam yang tergantung di dinding ruangan.
__ADS_1
"Kekuatan Xin Yi memang luar biasa, bahkan jubah hitam sampai seperti ini dibuatnya" gumam Lin Feng memandangi jubah hitam yang telah sobek di beberapa bagian, termasuk di bagian lengan kiri yang telah hilang hampir seluruhnya.
Selama ini, jubah hitam itulah yang melindungi tubuh Lin Feng dari berbagai macam serangan musuhnya, dan belum pernah ada yang berhasil menembus kuatnya pertahanan jubah hitam selain Xin Yi. Dan hal ini menandakan jika kekuatan Xin Yi memanglah sangat luar biasa.