
Sinar mentari mulai menghilang secara perlahan, dunia dimensi ketujuh yang semula diterangi oleh cahaya sekarang telah diselimuti oleh kegelapan malam, diiringi dengan munculnya bulan dan juga jutaan bintang yang menghiasi gelapnya langit dimalam hari.
Menghilangnya sang mentari dan munculnya rembulan membuat orang-orang menghentikan aktivitasnya, mereka memilih untuk bersantai bersama keluarga, teman-teman ataupun langsung mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena beraktivitas seharian.
Namun hal itu tidak berlaku pada dua pria yang berada di pulau terpencil yang letaknya sangat jauh dari Benua Bintang, keduanya tidak hanya tidak menghentikan aktivitasnya, tapi juga tidak beristirahat seperti kebanyakan orang. Justru, keduanya masih saja disibukkan oleh pertarungan yang entah kapan akan selesai.
Gelapnya malam biasanya membuat orang-orang malas untuk melanjutkan pekerjaan atau aktivitas mereka disiang hari, namun kegelapan yang menyelimuti pulau terpencil itu justru tidak memberikan pengaruh apapun kepada kedua pria tersebut, bahkan dinginnya angin malam tidak mereka hiraukan sedikitpun.
Xiao Lang dengan wujud leluhur bangsa Naga dan Lin Feng dengan wujud sejati Dewa Asura, keduanya masih saja saling menyerang dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, tidak peduli apakah serangan itu mampu menjatuhkan lawannya atau tidak, yang pastinya mereka akan terus bertarung sampai benar-benar puas.
***
Xiao Lang mengumpulkan seluruh energinya dan membentuk sebuah bunga teratai yang sangat besar. Ia tidak hanya menggunakan satu kekuatannya saja, tapi juga mengerahkan semua kekuatan yang ia miliki, termasuk kekuatan bintang yang merupakan perwujudan dari identitasnya sebagai Dewa Bintang.
Pada saat yang bersamaan, jutaan cahaya bintang yang menghiasi gelapnya langit malam mendadak bersinar semakin terang, seolah-olah mereka semua sedang membantu Xiao Lang dengan menyalurkan kekuatan mereka padanya, atau lebih tepatnya kedalam bunga teratai raksasa tersebut.
Selain itu, aura kekuatan yang sangat dahsyat yang berasal dari teratai itu menyebar keberbagai penjuru, sehingga menimbulkan tekanan intimidasi yang amat dahsyat. Bahkan tekanan intimidasi tersebut sampai membuat seisi pulau bergetar serta mengguncang lautan yang luas.
Disisi lain.
Kemunculan bunga teratai serta aura kekuatan dahsyat yang berasal darinya tidak membuat Lin Feng merasa gentar sedikitpun, alih-alih melarikan diri atau bersembunyi untuk menyelamatkan dirinya, ia justru tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya dan malah menikmati pemandangan indah yang tengah menghiasi langit malam itu.
"Sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata" gumam Lin Feng, kemudian mengalihkan pandangannya pada Xiao Lang yang masih dalam wujud Naga.
"Sepertinya aku tidak punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan indah ini" lanjutnya, kemudian membentuk segel dengan tangan kirinya.
"Segel terbuka!"
Wushh!
Aura kekuatan yang tidak kalah dahsyatnya dari aura kekuatan Xiao Lang terpancar dari tubuh Lin Feng, dan kemunculan aura kekuatannya ini menciptakan getaran yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Selain itu, benturan yang terjadi antara kedua aura kekuatan mereka berhasil membuat pulau terbelah menjadi dua bagian.
Setelah melepaskan segel kekuatannya, Lin Feng kemudian mengacungkan pedangnya ke langit, dan tidak lama kemudian, di langit yang gelap muncul sebilah pedang dengan ukuran yang sangat besar, bahkan ukuran dari pedang tersebut dua kali lipat lebih besar daripada ukuran pulau itu sendiri.
"Asura, kita akhiri semuanya sekarang juga!"
"Memang itulah tujuanku!" sahut Lin Feng.
__ADS_1
"Teratai penghancur semesta!"
"Teknik pedang hampa, pedang Asura!"
Wushh!
DHUAARRR!
BOOOMMMMM!
Ledakan yang sangat dahsyat terjadi ketika kedua wujud dari kekuatan Lin Feng dan Xiao Lang saling berbenturan, tidak hanya itu saja, dampak dari ledakan dahsyat yang tercipta dari benturan kedua kekuatan itu juga sangat dahsyat, bahkan pulau terpencil tempat mereka bertarung langsung musnah seketika itu juga.
Selain itu, gelombang kejut yang muncul dari ledakan dahsyat itu juga menimbulkan gelombang tsunami yang sangat dahsyat, dan beruntungnya, pertarungan mereka berlangsung sangat jauh dari tempat tinggal orang-orang, jika tidak, gelombang tsunami tersebut pasti akan mencapai daratan.
Walaupun gelombang tsunami itu tidak mencapai daratan, namun suara dari ledakan yang sangat dahsyat itu masih terdengar oleh orang-orang yang tinggal di bibir pantai Benua Bintang, dan untuk beberapa saat, mereka juga merasakan terpaan angin yang cukup kencang dan berbeda dari biasanya.
"Pertanda apakah ini?"
"Apakah ini adalah pertanda datangnya bencana?"
Sebagian orang menganggap bahwa fenomena angin yang mendadak bertiup kencang sebagai pertanda akan terjadinya sesuatu, sebagian lainnya justru menganggap bahwa hembusan angin malam yang tidak biasa itu disebabkan oleh badai, alasannya hanya karena suara ledakan tersebut terdengar mirip dengan suara gemuruh badai yang biasanya mereka dengar.
***
"Kau sudah sadar?"
"Memangnya kapan aku pingsan?"
"Maaf, ternyata aku salah, aku kira kau pingsan karena dampak dari ledakan itu" ucap Xiao Lang.
"Justru kaulah yang pingsan, jika aku tidak menarik mu ke sini, mungkin kau sudah terbawa oleh ombak" sahut Lin Feng.
"Kau benar, ledakan itu memang membuatku kehilangan kesadaran, lalu apa yang terjadi setelah itu dan sudah berapa lama aku pingsan?"
Lin Feng menjelaskan jika dirinya juga tidak mengetahui apa yang terjadi pada Xiao Lang, karena saat ledakan itu terjadi pandangannya dihalangi oleh cahaya yang berasal dari ledakan tersebut. Selain itu, ia juga terkena dampak serangan itu hingga terlempar dan jatuh ke air, dan saat ledakan berlalu, ia hanya melihat Xiao Lang yang telah berubah menjadi manusia tengah mengambang di air.
"Ternyata begitu, itu artinya kaulah yang memenangkan pertarungan ini" ucap Xiao Lang.
__ADS_1
"Aku sudah tidak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah" sahut Lin Feng.
"Apa maksudmu, apa kau tidak senang karena memenangkan pertarungan ini?"
"Pertarungan bukan hanya sekedar untuk mencari kemenangan, tapi ada banyak hal lain yang bisa dilakukan."
"Contohnya?"
"pikirkan saja sendiri!"
"Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi seluruh tubuhku sangat sakit" ucap Lin Feng.
"Percaya atau tidak, jika kau benar-benar tertawa, aku pasti akan menghajar mu saat ini juga!"
"Kau ini benar-benar aneh, ya. Padahal sudah seperti ini tapi masih saja ingin bertarung" ucap Xiao Lang, namun Lin Feng tidak menyahuti perkataannya itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Xiao Lang.
"Sebentar lagi saudaraku akan datang, dia akan membawa kita pergi dari sini."
"Kita?"
"Jika kau tidak suka, kau bisa menunggu di sini sampai dewa kematian merenggut nyawamu!"
"Bukankah kau adalah dewa kematian itu?"
"Cihh, tidak bisakah kau diam saja? Atau kau benar-benar ingin aku mencabut nyawamu?"
Xiao Lang hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi, dan hal itu malah membuat suasana di sana menjadi sangat hening, hingga beberapa menit kemudian, Xiao Lang kembali bicara untuk memecah keheningan di sana.
"Asura, seperti yang kau katakan sebelumnya, pertarungan memang tidak hanya sekedar untuk mencari kemenangan saja, dan aku sudah menemukan contoh hal lain yang bisa didapat dari suatu pertarungan."
"Apa?"
"Saudara, pertarungan kita barusan membuatku mendapatkan saudara yang luar biasa."
"Aku tidak mau menjadi saudara orang tua sepertimu" sahut Lin Feng.
__ADS_1
"Hahaha, aku belum terlalu tua, mungkin hanya beberapa kali lipat lebih tua dari umurmu saja."