
Langit-langit kamar sudah aku lihat sekitar setengah jam. Benaran hanya melihat dan tidak memikirkan apa pun. Bisa dibilang kalau tubuh sedang mengaktifkan mode patung. Hanya memiliki tujuan melemaskan otot, juga mengistirahatkan badan yang mulai terasa ngilu-ngilu sedap.
Ini kali pertama bagi seorang Dara, menjelajah mal tanpa melewatkan sudut dan pojokan. Semuanya terjangkau. Mulai dari toko baju, sepatu, tas, aksesoris, hingga kosmetik. Sungguh hebat kemampuan Bu Ester dan Kak Irish. Keduanya pantang berhenti, jika belum menemukan barang yang dicari.
Ingatanku pada aktivitas belanja sore terhenti, akibat pintu yang diketuk tiba-tiba. Tubuh lelahku terpaksa diajak bangkit, berjalan ke dekat pintu, lalu membukanya.
"Astaga!" Aku menjerit berang begitu menemukan Kak Soraya tengah tersenyum sambil melipat tangan. "Kenapa gak langsung masuk aja, sih?" Lagaknya, sudah seperti mami dan papi yang datang. Tahu dia orangnya, mungkin aku tinggal berteriak saja.
"Sengaja, biar kamu yang bukain pintu." Senyum isengnya senantiasa terpancar. Sadar diri kalau adiknya sedang dalam mode lelah, tangannya berujung mengulurkan sebuah ponsel. "Nih, ketinggalan di sofa. Berisik tau. Si Bagas telepon mulu."
Aku yang semula memasang wajah sangar pun berubah melunak. Tanpa mengucap terima kasih, tanganku menyambar ponsel yang katanya ketinggalan. Kami kembali ke tempat masing-masing setelah tujuan Kak Soraya selesai.
Begitu tangan menekan layar, terpampang nyata delapan panggilan tak terjawab dari Ayang. Pantas saja kamarku sepi, biang kegaduhan tertinggal di sofa dan aku tidak menyadarinya. Sebelum menekan icon panggilan, mataku terlebih dulu melirik jam dinding. Sudah jam sembilan malam. Aman. Kak Bagas pasti sudah pulang.
Niatku untuk memulai panggilan terpaksa berhenti karena Kak Bagas mendahului. Dia seakan tidak mau menyerah, padahal sudah memberiku notifikasi delapan kali.
"Kak?" sapaku begitu kami terhubung.
"Ya Tuhan! Kenapa baru diangkat? Adek dari mana aja, sih?" cerocosnya sambil ngegas.
"Baru pulang," jawabku seadanya karena lebih mendahulukan rebahan ketimbang menjawab pertanyaan.
"Masa pulang sekolah jam segini? Memangnya, OSIS pada kumpul?" Masih bertanya dengan nada yang sama.
Kelihatan sekali kalau Kak Bagas kurang jauh main. Andai dia tahu kalau sejak pulang sekolah aku diculik ibunya, mungkin nada bicara saat ini tidak akan terlalu tinggi.
"Dek? Kamu kenapa, sih? Dari tadi aneh. Tadi VC juga tiba-tiba mati. Chat kakak gak dibalas satu pun."
"Dibalas, kok." Aku membela diri karena benaran lelah berdebat.
"Dibalas apa? Adek cuma tanya Kak Irish—"
"Ya, itu, kan, tetep dibalas." Perihal menyebalkan, aku juga bisa melakukannya.
"Maksud kakak ... astaga!" Dia terdengar kesal. "Adek capek, ya? Laper?"
"Capek," bentakku karena dia tak kunjung paham.
"Ya, udah besok kakak telepon lagi."
"Jangan!" Aku menahan cepat. Ya, kali menyudahi panggilan ini. Susah payah mendapat waktu luang Kak Bagas, tapi tidak digunakan sebaik-baiknya.
"Jadi, maunya gimana, hm?"
"Ya, maunya teleponan gak pake marah-marah," kataku.
"Sayang, kakak gak marah-marah. Justru kamu yang sensi banget." Dia malah melimpahkan ketidaknormalan padaku.
"Ih, kakak yang pertama marah-marah. Baru angkat telepon udah ngegas." Ya, kali telingaku salah tangkap.
__ADS_1
"Itu kakak lagi khawatir, bukan lagi marah-marah. Bayangin, aja, sama Adek. Jam segini, cewek baru pulang. Gak bales chat dan angkat telepon cowoknya. Hati bakalan aman gak, tuh?"
"Kakak mau tahu alesan adek pulang telat sampe gak bisa tengokin HP?" Waktunya memberi tahu dia tentang ibu dan calon kakak iparnya.
"Iyalah. Kakak juga pengen tahu. Kakak gak mau adek sembunyiin sesuatu lagi."
Kok, ada bahasa gini?
"Sayang?"
"Ya, itu ... adek pulang sekolah main sama Ibu dan Kak Irish."
"Ibu? Ibu mana?"
Aku tersenyum. Dia pasti terkejut mendengar ini. "Ibu Ester. Ibunya kakak."
"Anji*, serius?"
"Wadaw! Bahasanyaaaa ...." Malah aku yang terkejut, tapi tidak apa-apa. Aku tahu dia refleks.
"E-eh, maaf. Keceplosan."
Aku tertawa renyah guna mencairkan suasana.
"Ini beneran, kan? Adek lagi gak bohongin kakak, kan?" Dia kembali bertanya setelah tenang.
"Oh, pantesan tadi tiba-tiba tanya tentang Kak Irish."
"Kak Irish beneran pacar Kak Bima?" Niatku, malam ini ingin membahas tentang Prayoga.
"Iya, udah pacaran dari SMA, tapi gak diajakin kawin sampe sekarang. Heran."
"Bukan gak diajakin, mungkin belum diajakin." Aku mencoba membela kakaknya, setelah tahu perilaku Kak Irish yang baik hati.
"Eh, iya, Dek. Kakak lupa bilang."
Ah, aku tahu.
"Pasti lupa nyampein pesan ibu tentang makan malam, kan?"
"Iya, tapi ada yang lebih penting."
"Wah? Apa, tuh?" Apa aku melewatkan sesuatu?
"Ibu ulang tahun, makanya ada acara makan malam."
Mataku terbelalak diiringi tubuh yang terduduk tegak. Ini mengejutkan sekali. Sekarang terjawab sudah alasan ibu mengajak belanja. Pantas saja beliau rela menghabiskan setengah juta untuk dress cantik kami. Ternyata akan ada acara spesial.
"Duh, Kak. Adek kasih hadiah apa, ya?"
__ADS_1
"Hm ... kakak juga belum beli kado. Apa mau beli bareng? Jadi, hadiahnya atas nama berdua."
"Memang boleh?" Apa tidak terlalu terlihat pelit?
"Bolehlah. Kita, kan, masih pelajar. Patungan dikit, gak akan jadi masalah. Nah, kalau Kak Irish sama Kak Bima patungan, agak kelewatan."
Penjelasan itu membuatku tersenyum tenang. Ah, memang paling benar kalau bersama Kak Bagas. Lebih terasa aman dan nyaman, jika menyangkut keluarganya.
"Berarti besok kakak turun gunung, kan?" Waktunya sudah mepet. Tidak mungkin kalau ditunda lagi.
"Iya, besok kakak pulang. Langsung jemput di sekolah aja, ya? Berangkat dari sana."
Ah, akhirnya. Ingin rasa menjerit karena kebahagiaan bertemu Ayang.
"Deal, ya? Harus jemput adek, lho. Adek gak akan bawa motor." Baru membayangkannya saja, aku sudah sangat bahagia.
"Iya, Sayang. Besok kakak jemput."
Aku tidak bisa berhenti tersenyum setelah mendengar ini. Sudah tidak sabar rasanya, sudah sangat rindu, padahal kemarin baru saja bertemu. Ah, semoga tidak ada aral melintang lagi. Semoga bisa menghabiskan waktu sepuasnya.
Panggilan terputus setelah kami mengucap salam perpisahan. Begitu layar berganti jadi wallpaper, pesan pop up dari aplikasi WhatsApp menyembul, menarik perhatianku untuk membukanya langsung.
Ada lebih dari lima puluh pesan yang belum dibaca. Grup online organisasi yang biasanya sepi, berubah jadi hidup. Rasa penasaran memancingku untuk membaca dan menyimak isinya.
Dari : Prayoga
Besok kita dapat dispensasi. Kumpul pagi, karena ada tugas dari Pak Abigail
Dari : Eren
Mau bahas apa?
Dari : Prayoga
Besok juga dikasih tau, tunggu aja
Dari : Dion
Besok gue ada acara, bisa pulang cepet kan, Ga?
Pertanyaan Dion seakan mewakiliku yang memang memiliki halangan untuk berkumpul bersama. Namun, begitu membaca jawabannya segores luka mengenai tepat di relung hati.
Dari : Prayoga
Pulang cepet atau enggaknya, tergantung kinerja kita. Makanya besok pas datang ke sekolah langsung masuk ruangan OSIS. Bagi yang bisa nyetir motor, usahakan bawa.
Entah kenapa setelah membaca sekilas pesan mereka, hatiku mendadak yakin kalau peluang bertemu dan jalan-jalan bersama Kak Bagas akan sulit terlaksana. Gangguan akan kembali datang dan itu dari hal yang sama, yakni OSIS.
***
__ADS_1