
"Jadi, Ra. Irish ini pacarnya Bima. Kakaknya Bagas."
"Bi-Bima?" Aku merasa asing mendengar nama itu. Sejak kapan Kak Bagas punya kakak? Bukankah dia anak pertama?
"Iya, Bima. Anak pertama ibu. Lho, Bagas belum cerita?" Giliran Bu Ester yang terkejut karena aku belum tahu tentang Kak Bima.
"Mungkin Kak Bagas udah cerita. Mungkin juga Dara yang lupa." Dua kali melindungi Ayang. Duh, kurang apalagi coba?
"Oke, gak apa-apa. Bima emang jarang ada di rumah. Waktu Dara ke rumah juga dia lagi kerja."
Ah, pantas saja hanya Baim yang terlihat di sana.
"Jadi, nanti kalau ibu sama Irish pergi belanja atau makan di luar, kamu harus ikutan, ya?"
Wah, aku disambut dengan baik.
"Siap, Bu. Ibu berkabar, aja. Nanti Dara luangin waktu, biar bisa makan sama Ibu dan Kak Irish."
"Yeay!" jerit Kak Irish paling bahagia. "Akhirnya, tim kita nambah personel ya, Bu."
Bu Ester tertawa renyah. "Iya. Akhirnya, Bagas punya pacar juga ya, Rish." Tangan beliau kembali menepuk punggung tanganku. "Kamu cewek pertama yang Bagas kenalin lho, Ra."
"Bisa dibilang, cinta pertamanya juga, Bu," timpal Kak Irish yang sukses membuat wajahku memanas.
"Ah, bukan cinta pertamanya kali, Kak." Aku menepis, supaya jantung tidak terlalu berpacu.
"Emang jiplakan Bima banget Bagas itu." Bu Ester mengakui.
"Dia dapet resep dari kakaknya, Bu," sahut Kak Irish lagi.
Jujur aku tidak paham dengan obrolan ini. Demi menepis rasa tidak mengerti, aku berusaha menekan malu untuk bertanya, "Maksudnya jiplakan dan resep itu apa, Bu, Kak?"
"Jadi, begini, Ra. Kamu sama Irish itu sama kasusnya. Sama-sama dipacari anak-anak ibu dari SMA."
"Wah, Kak Irish satu alumni sama Kak Bima? Berarti pacarannya udah lama, dong?" Perlahan, aku bisa mengikuti arus pembicaraan mereka.
"Udah lama banget, Ra. Hampir ... tujuh tahun," jawabnya setelah menghitung beberapa detik.
"Wah!" Aku kembali berdecak. "Lama banget ya, Kak."
"Iya, ibu juga kasihan sama Irish. Si Bima kalau ditanya kapan nikah, jawabnya na-nu-na-nu. Susah banget sama ini anak." Rasa bersalah karena kelakuan anaknya terdengar begitu kental.
Aku yang paham situasi berusaha menyimak. Tidak mau terlalu hanyut dalam obrolan karena takut salah ucap.
"Irish gak masalah sih, Bu. Mungkin Bima emang belum siap. Irish juga gak pengen nikah buru-buru."
Senyumku terukir mendengar perkataan Kak Irish yang begitu legawa. Hah, jika itu aku ... mungkin sudah berbeda cerita dan perasaan.
Tidak terasa, mobil yang membawa kami berhenti di lahan parkir The Queen's Shopping Center. Kawasan tidak terlalu padat pengunjung karena kami datang bukan di hari Sabtu.
Begitu turun dari mobil Bu Ester berdiri di antara aku dan Kak Irish, langsung menggandeng tangan kami seakan mengajak berjalan bersama-sama. Ada kehangatan yang terselip saat mendapat perlakuan seperti ini. Tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau aku akan diperlakukan baik oleh Bu Ester. Beliau juga tidak memandangku sebelah mata, meskipun aku dan Kak Bagas masih terbilang baru berpacaran.
__ADS_1
"Mau makan dulu atau beli baju dulu?" Bu Ester seakan meminta pendapatku.
"Kalau makan dulu aja, gimana? Irish udah lapar, Bu," saran Kak Irish.
"Boleh. Mau makan di mana, nih?" tanya beliau.
"Dara ada saran, gak?" Kak Irish ikutan bertanya karena aku terlihat diam saja.
"Hm ...." Aku berpikir sebentar. "Dara gak terlalu sering main ke sini, sih. Paling biasa mampir ke Sonata Resto." Bentuk kejujuran murni. Faktanya, aku bukan gadis yang suka bolak-balik mal.
"Nah, boleh, tuh." Kak Irish tampaknya menerima saranku dengan baik.
"Ya, sudah. Ayo, kita rame-rame ke sana," ajak Bu Ester sambil menarik lengan kami, supaya mempercepat laju langkah.
Sesampai di Sonata Resto, kami memilih kursi yang tersedia untuk tiga orang. Posisi langsung di tengah ruangan karena sore hari ini pelanggan kebanyakan duduk di pojokan. Kak Irish yang mewakili kami mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Tidak perlu menunggu lama, tim yang bertugas mencatat pesanan datang seraya mengulurkan tiga booklet menu makanan.
"Nah, kalian mau makan apa?" tanya Bu Ester begitu kami membuka buku.
Kak Irish terlihat santai meneliti, sedangkan aku tidak banyak basa-basi. "Dara mau Chicken Cordon Bleu." Lantang sekali aku mengatakan satu menu tersebut. Begitu percaya dirinya sampai Bu Ester tersenyum lebar.
"Dara pinter pilih menu, nih. Kumplit, semua ada," puji beliau. "Iya, Mas. Pesan 2 porsi Chicken Cordon Bleu. Minumnya mau apa, Dara?"
"Enggak tunggu Kak Irish dulu, Bu?" Aku memandangi Kak Irish yang wajahnya tertutup buku menu.
"Sebentar-sebentar ...." Tangannya menyembul di balik booklet.
"Ah, jangan ditungguin, Ra. Irish udah biasa, lama kalau lihat menu. Mending kita pesan minum, aja."
"Oke, ibu pilih Teh Tarik, aja." Setelah bicara demikian beliau mencolek lengan Kak Irish. "Udah selesai belum?"
"Hah, Irish juga pesen menu yang sama kayak Dara."
Jawaban yang membuatku tersenyum, tapi membuat Bu Ester menggeleng tak percaya. Mas pelayan yang bertugas menuliskan pesanan pergi setelah mengulang menu yang kami sebutkan. Kini tersisa Kak Irish yang langsung melipat tangan di depan dada.
"Kenapa, Nak? Ada harga yang gak masuk akal?" tanya Bu Ester seperti sudah paham betul gelagat calon menantu pertamanya.
"Makanan favorit Irish naik dong, Bu, padahal harga bahan-bahannya masih normal di pasaran."
Entah apa alasannya, Bu Ester tertawa ringan. "Rish, Rish, mereka juga butuh untung."
"Untungnya terlalu banyak, Bu. Merugikan customer," keluh Kak Irish.
"Iya, sudah-sudah. Lain waktu kita makan di resto Irish aja, ya?" Bu Ester menenangkan sambil menepuk-nepuk lengan Kak Irish.
Aku yang baru mendengar informasi itu langsung bertanya, supaya bisa masuk ke topik pembicaraan. "Kak Irish punya restoran juga?"
"Punya, Ra." Jawaban diwakilkan oleh Bu Ester. "Itu alasan dia lama kalau lihat booklet menu. Banding-banding harga sama hitung-hitung harga."
"Aaahhh ...." Aku baru paham.
"Sebenarnya aku bukan tipe cewek kalkulator, Ra. Cuma kadang-kadang suka terusik, aja, kalau harga makanannya gak sesuai keinginan." Sekarang senyuman terukir manja di wajah cantik Kak Irish.
__ADS_1
"Nah, sekarang ibu ada temen nungguin Irish hitung menu. Kemaren-kemaren ibu sendirian, lho, Ra, nungguin kebiasaan Irish." Adu beliau sambil menggeleng lagi.
"Nah, makanya kita butuh personel baru. Dara harus sering-sering gabung, ya," pesan Kak Irish yang seakan tidak terganggu dengan ucapan Bu Ester.
Aku yang kembali mendapat perlakuan menyenangkan jadi tersenyum bahagia. "Iya, Dara siap gabung, kok. Dara seneng kalau bisa ketemu terus sama Ibu dan Kak Irish."
Pembicaraan terus berlanjut ke sesi perkenalan yang sebelumnya terpotong. Jika saat di mobil tadi kami fokus membahas tentang Kak Irish dan Kak Bima, kali ini aku diberi kesempatan untuk menceritakan diri sendiri, hingga awal pertemuan dengan Kak Bagas.
Selama bercerita, Bu Ester hanya menyimak dan tidak berhenti tersenyum lebar. Berbeda dengan Kak Irish yang terlihat menahan penasaran sampai akhirnya melontarkan pertanyaan, "Dara kelas sepuluh apa?"
"X-A, Kak," jawabku cepat.
"Oh, X-A. Berarti gak sekelas dong. Eh, tapi Dara ikutan OSIS kan, ya?" Pertanyaan kedua.
"Iya, Kak. Dara ikutan OSIS. Masih aktif, kok, sampai sekarang." Masih menjawab dengan santai dan tenang.
"Nah, kalau masih aktif OSIS, Dara kenal Prayoga, dong?"
Sebentar. Kenapa dia?
"Pra-yoga?" ulangku sambil menahan napas.
"Hm-m, Prayoga." Mata Kak Irish malah berbinar. Dia terlihat lebih tertarik membahas lelaki ini ketimbang Kak Bagas.
"Ya ... ya, kenal, Kak." Aku menjawab sungkan. Mendadak jantung pun terasa berdetak cepat. Pembahasan ini berubah jadi menakutkan.
"Dia orangnya gimana?"
"Hm ... dia ... baik ... kok." Terdengar meragukan, tapi memang begitu adanya.
"Ah, syukurlah. Satu lagi dong, Dara. Aku mau tanya satu lagi."
Duh, sudahlah! Jangan bertanya tentang dia lagi. Tanganku sudah bergetar di bawah meja.
"Di sekolah heboh gosip tentang Prayoga gak, sih?"
Mataku menyipit. "Gosip apa, Kak?"
"Gosip tentang dia sama cewek, misalnya."
Spontan kepalaku menggeleng pelan.
"Yah, penasaran banget aku," gumamnya sambil menyandarkan tubuh di punggung kursi.
"Penasaran kenapa, Rish?" Bu Ester yang sedari tadi diam ikut bertanya.
"Iya, katanya dia lagi suka sama cewek, tapi gak mau ngasih tahu nama ceweknya. Irish, kan, jadi penasaran."
Aku juga penasaran. Aku mendadak penasaran. Masih dengan kondisi menahan napas, aku menelan ludah sebelum akhirnya bertanya, "Kak Irish. Kakak kenal deket, ya, sama Prayoga?"
"Iya, dong, Ra. Prayoga, kan, adikku."
__ADS_1
***