Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Tertangkap


__ADS_3

Setelah diyakinkan Kak Wisnu, Kak Bagas akhirnya mau mengikuti kami membuka ruangan ini. Ya, meskipun ujungnya dia tetap marah dan enggan berbicara padaku. Aku, sih, berusaha tidak terpengaruh. Niat dan tujuan awalku, kan, untuk mengungkap kasus, bukan mau balikan sama mantan.


"Wis, kasihin kuncinya ke Dara. Suruh dia aja, yang buka!"


Begitulah sedari tadi tingkahnya. Dia terus-menerus memerintah Kak Wisnu untuk menyampaikan pesan padaku.


"Udah gue, aja, yang buka!"


Beruntungnya, Kak Wisnu tidak banyak bertingkah. Kunci yang memang ada di tangannya lekas ia masukkan ke lubang pintu.


"Eh, gue bilang suruh Dara yang buka!" perintah Kak Bagas sambil menepis tangan Kak Wisnu hingga benda itu jatuh.


"Astaga! Woi!" Pada akhirnya, Kak Wisnu kehilangan titik kesabaran. "Lo kemasukan jin cewek apa, gimana? Perkara Dara yang pinjem kunci masih, aja, dimakan hati! Tolong profesional dikit! Urusan dapur, lo bisa bahas nanti!"


"Eh, ******! Gue cuma suruh lo kasih kuncinya ke Dara, biarin dia yang buka!" Bukannya berpikir, Kak Bagas malah makin menjadi.


"Ya, emang apa bedanya? Gue atau Dara yang buka juga sama, aja!" Kak Wisnu memungut kunci yang sempat terjatuh.


"Kasihin kuncinya ke Dara sekarang! Biarin dia yang buka!" tuntutnya karena Kak Wisnu tidak kunjung mengindahkan perintah. Kunci yang sudah dipungut itu kembali dilekatkan ke lubangnya.


"Wis, gue minta—"


"Lo mau gue hajar?" Tangan Kak Wisnu sudah mengepal di depan dada. "Lo niat enggak, sih, nangkap penjahatnya?"


"Penjahat apa, ya?"


Suara berat yang tiba-tiba terdengar itu mampu menghentikan perdebatan dan membuat kami mematung di tempat. Kami serempak menolehkan kepala, menatap ke sumber suara yang datang meskipun tidak diinginkan.


Aih!


Mataku langsung terpejam. Aku yang mendadak kehilangan muka, langsung menunduk dalam. Kak Bagas, sih! Pakai acara ganggu Kak Wisnu. Jadi, ketahuan orang lain, kan!


"Ini kenapa jadi rame gini?" Arfan si pemilik kunci yang mengejutkan kami, mulai berjalan mendekat. Tatapannya begitu tajam ke arah dua manusia bodoh ini.


"Bisa jelasin enggak, Ra? Kakak kasih kunci, kan, buat kamu seorang! Kenapa kamu bawa-bawa mereka ke sini?"


"Dara bisa jelasin, kok, Kak!"


"Enggak perlu!" sela Kak Bagas sambil mengalungkan lengannya di pundakku. "Adek enggak perlu jelasin apa-apa ke dia!"

__ADS_1


Lah, kenapa dia jadi berubah lembut saat berhadapan dengan Arfan? Bukankah barusan dia masih merajuk?


"Terus siapa yang mau jelasin situasi ini?" Arfan melayangkan tatapan tajamnya lagi.


"Ruangan ini sendiri yang bakal jelasin semuanya ke lo!" tunjuk Kak Bagas ke pintu ruangan yang belum terbuka.


"Lo mulai gila, ya, Bagas?" ejek Arfan sambil tersenyum meremehkan.


"Ya, kalau enggak percaya buka sendiri, aja, pintunya! Toh, pelaku yang bully Dara, nyimpen barang buktinya di sini!"


Lidah Arfan terdengar berdecak. "Ngada-ngada!" ujarnya sambil membuang muka.


"Coba, deh, Kakak yang buka! Dara juga bisa pastiin kalau buktinya ada di dalam!" Aku menurunkan harga diri, membujuknya di depan semua orang meskipun jijik setengah mati.


Arfan lekas mengangguk, berjalan mendekati pintu, lalu mengambil alih posisi Kak Wisnu. "Coba kamu tunjukin, Ra!" perintah Arfan setelah pintu benar-benar terbuka.


Kami memasuki ruangan yang katanya kepunyaan Klub Jurnalis dan Mading. Arfan yang ingin menagih bukti, tiba-tiba menyalakan sakelar lampu sampai ruangan ini sepenuhnya terang benderang.


"Waktu kalian enggak banyak, lho! Cepet kasih tau di mana buktinya!" desak Arfan kepada kami.


"Coba lo turunin papan tulis itu!" perintah Kak Bagas begitu percaya diri.


"Serius, Kak. Buktinya emang ada di sana." Aku yakin, kalau aku yang berbicara Arfan pasti langsung bergerak dan mengiyakan.


Sesuai dugaan, dia memang melakukannya. Dibantu Kak Wisnu, Arfan menurunkan papan tulis itu ke lantai.


"Mana? Enggak ada?" ucapnya lagi.


"Balik dulu papannya!" Kak Bagas mulai terdengar kesal. Dia mengambil alih posisi Arfan, bekerjasama dengan Kak Wisnu untuk membalik papan tulis itu.


Terbukti. Begitu Kak Bagas dan Kak Wisnu selesai membaliknya, tulisan yang terpampang di sana mendorong kami mengeluarkan ekspresi yang sama. Tertegun dengan wajah melongo total.


Masing-masing dari kami membaca tulisan yang terpatri. Mereka menulis semuanya di sini. Baik nama komunitas, bagan keanggotaan, visi dan misi, hingga tarif yang anggota peroleh pun tak luput dari tulisan tangan mereka. Bahkan lebih parahnya lagi, ada fotoku yang sengaja dipajang dan dibubuhi kalimat 'Sasaran'.


"Gila!" Arfan yang lebih dulu menyatakan rasa tak percaya dan menyadarkan semua orang.


Pandanganku tidak lagi tertuju kepada papan. Aku menangkap wajah Kak Bagas yang mengeras dan berubah memucat. Dia pasti terkejut membaca nama sang ketua sekaligus biang dibalik semua perundungan Shafira dan aku.


"Fan!" panggil Kak Bagas yang terdengar mengambang. "Bisa lo panggil Ayu?"

__ADS_1


Arfan berubah jadi penurut setelah melihat bukti yang kami sebutkan. Tangannya dengan sigap merogoh ponsel, lalu menelepon orang yang disebutkan Kak Bagas barusan.


Lain daripada aku dan Kak Bagas yang masih berdiri di tempat, Kak Wisnu mendadak mengeluarkan ponsel. Bergerak ke sana-sini untuk memotret tulisan guna dijadikan barang bukti.


Aku memberanikan diri melangkah menghampirinya. Tatapan Kak Bagas masih tetap sama, belum teralihkan saking terkejutnya menerima kenyataan. Tanpa diminta, tanganku menggenggam erat tangannya yang terkepal.


"Ada adek, Bang," bisikku yang berharap bisa meredakan emosinya yang tertahan. "Ada adek!"


......***......


Tak perlu membutuhkan waktu lama. Sang ketua BagasLovers pun datang dan memasuki ruangan. Ekspresinya yang terkejut tertoreh dengan begitu jelas. Dia seketika membelalakkan mata saat mendapati kami berdiri di samping papan rahasianya.


"Bisa jelasin ini, apa?" Arfan yang lebih dulu melemparkan pertanyaan.


Satu detik, dua detik, kami menunggu sebuah kepastian. Dia yang menjadi target sasaran terlihat enggan memberikan keterangan.


"Ayu!" panggil Arfan dengan nada tinggi sampai mampu menggaungkan ruangan. "Gue kasih dua pilihan! Jujur di sini atau jujur di ruang BK?"


Ayu serta-merta kelimpungan. Dia bak orang kesetanan berjalan mendekati meja, mengambil penghapus, lalu menghapus semua barisan bukti yang tercantum di papan. Kak Bagas yang sedari tadi diam saja, bergegas menghentikan aksi itu dan menggenggam tangan Ayu kuat-kuat. Matanya yang memerah sudah hampir memelototi gadis itu sepenuhnya.


"Brengsek, lo!" hardik Kak Bagas yang tak mampu menahan rasa kecewanya lagi. Dimaki begitu, anehnya Ayu masih kukuh bungkam. Dadanya yang kembang-kempis seperti menahan sesak dan tangis.


"Lo bener-bener kelewatan!" ucap Kak Bagas lagi. "Bisa-bisanya lo nusuk gue dari belakang, padahal kita udah sahabatan dari jaman bocah ingusan!"


"Gue enggak pernah mau jadi sahabat lo, Bagas!" teriak Ayu mulai melemparkan kata-kata. "Gue enggak mau." Air mata terlihat menetes di kedua pipi akibat gelengan kepalanya yang kuat.


"Gue enggak bisa liat lo sama yang lain," ungkapnya mulai membeberkan alasan melakukan hal keji ini. "Gue kayak gini karena sadar, lo enggak bisa nerima gue lebih dari seorang temen."


"Tapi lo enggak ada hak nyakitin orang yang gue sayang!" bentak Kak Bagas. "Bisa-bisanya lo ngasih gue informasi tentang Shafira, padahal lo sendiri yang nyerang dia."


"Gue cuma mau buka mata hati lo, Gas! Baik Shafira atau Dara, dua-duanya enggak pantes buat lo!"


"Dan lo lebih enggak pantes lagi buat gue! Lo munafik!" teriak Kak Bagas tak tertahankan.


"Gue bukan munafik, Gas!" sanggah Ayu sambil menyunggingkan sebuah senyuman. "Gue cuma pengen dunia berlaku adil. Mereka enggak boleh nyentuh hati cowok yang sulit gue sentuh! Lo enggak boleh dimiliki siapa pun."


"Dasar, Bangsat!"


Aku berlari mendekat karena Kak Bagas hendak melayangkan tamparan. Tanpa memikirkan harga diri, aku yang dilanda kepanikan lekas menepis tangannya yang terapung, lalu memeluk tubuhnya erat. "Tenang," bisikku dengan bibir bergetar. Punggungnya pun aku beri tepukan lembut, dia yang mulai mengendur kembali memancingku untuk mengatakan kalimat yang sama. "Tenang, ada adek di sini. Misi kita udah selesai, Bang!"

__ADS_1


......***......


__ADS_2