Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Rapat


__ADS_3

Kami sampai di rumah Kak Wisnu sejak lima belas menit yang lalu. Rencananya hari ini, kami akan melakukan rapat paripurna untuk menangkap kawanan BagasLovers dalam waktu dekat dan singkat. Hal itu dilakukan karena tingkah mereka sudah mulai kelewat batas.


Beruntung karena yang akan menghadapi mereka bukan cuma aku dan Kak Bagas. Kak Wisnu yang kental dengan sebutan sahabat si Ketua OSIS, ikut andil dalam rencana bahkan menyediakan lapak untuk membahas ikrar kerjasama.


Tuan rumah pun sudah berganti pakaian, membawa kami ke ruang keluarga. "Kalian tunggu di sini. Gue bawa minuman sebentar!" perintah Kak Wisnu yang semakin mengencangkan langkah menuju dapur.


Bak sudah paham dengan suasana rumah, Kak Bagas meletakan ransel di sofa, lalu berjalan mendekati sudut ruangan. Dia mengambil segulung karpet, memilih motif kotak hitam-putih seperti papan catur, hingga menggelarnya di bawah sofa. Belum diperintah oleh Kak Wisnu, Kak Bagas sudah lebih dulu duduk di karpet itu. Aku yang masih segan hanya bisa mematung tanpa ekspresi apa pun.


"Sini, Dek!" Dia menepuk lahan kosong di sampingnya.


"Malu, ah!" kataku yang belum mau beranjak.


"Anggap, aja, rumah sendiri."


"Ya, Abang begitu karena udah sering ke sini," semprotku sinis.


"Kenapa?" Tuan rumah sudah kembali dari aktivitas mengambil minuman. Aku yang tak ingin merepotkan, lekas menghampiri lalu mengambil alih nampan. "Ra, duduk! Santai, aja! Anggap rumah sendiri."


"Gue udah bilang kayak, gitu, tapi malah dibentak. Dara galak kalau lagi dateng bulan."


"Apa, sih?" Aku membentak lagi. Heran, deh, kenapa Kak Bagas menyebalkan terus?


"Tuh, kan!" Telunjuknya mengarah padaku.


"Ya, wajar aja dia kayak begitu. Orang mentalnya diganggu sama kawanan angsa buruk rupa." Kak Wisnu berpendapat dan itu cukup masuk di logika. "Gue juga kalau jadi Dara bakalan bunuh lo duluan, Gas. Udah cuma sekedar pacar, pake di-bully pula."


Aku mengulum senyum. Mungkin lebih tepatnya, sudah cuma sekadar pacar bohongan, pakai di-bully pula.


"Diminum, Ra!" Kak Wisnu mengambil segelas minuman di atas nampan, lalu menggoyangkannya ke hadapanku.


"Iya, nanti Dara minum, Kak," tolakku yang belum mau menenggak apa pun.


Kak Bagas ikut minum setelah melihat tuan rumahnya minum. Dia sampai menenggak setengah dari isinya, lalu menyimpan kembali gelas itu ke nampan.


"Jadi, lo punya rencana apa?" tanya Kak Bagas.


"Lo serius mau pake rencana gue?" Kak Wisnu menatap kawannya sanksi.


"Ya, gue coba dengerin dulu aja!"


"Masalahnya rencana gue harus ngorbanin Dara, Gas!" Secara hati-hati dia menatap ke arahku.


Aku yang sudah tahu dari awal kalau setiap rencana membutuhkan campur tanganku sebagai umpan, tentu saja hanya bisa tersenyum. "Dara mau coba denger dulu, Kak!"

__ADS_1


"Beneran, Ra?" Dia yang ragu-ragu membuatku jadi merasa takut. Takut kalau rencananya bisa meregang nyawaku. "Ini kalau berhasil, kita untung banyak, lho, Ra!"


"Untung banyaknya dari segi apa?" Aku yang tadinya takut jadi penasaran juga.


"Dari segi ketenangan hidup. Kita bisa nyeret mereka ke ruang BK, kalau perlu di drop out sekalian."


"Coba jelasin dulu!" Kak Bagas nampak kesal karena kawannya terus berputar-putar kata.


"Ini yang gue amati dari kemaren. Mereka maunya main sembunyi. Alasan kenapa rencana lo bisa gagal, ya, karena lokasinya di belakang perpus. Emang enggak ada CCTV, tapi tetep rawan keliatan orang, Cuy! Bisa aja, kan, pas lagi nyiksa Dara, Bu Amara denger terus liat?"


Bu Amara yang disebutkan Kak Wisnu itu, petugas perpustakaan yang biasa menjaga meja administrasi. Cukup masuk akal juga, sih. Pantas saja jebakan disiapkan di toilet wanita, padahal mereka bisa saja menyeretku ke belakang perpustakaan.


"Nah, beda sama toilet. Udah enggak ada CCTV. Jauh dari ruang kelas dan guru. Makin enak, tuh, buat gencet anak orang."


"Iya, juga, ya?" Kak Bagas tampak setuju dengan pendapat itu. "Tapi, Wis, Shafir juga pernah dirundung di sana."


Ah, lagi-lagi ada nama Shafira.


"Masa, sih? Lo kata siapa?"


"Dapet info dari Ayu." Kak Bagas menjawab nama yang sama seperti waktu itu.


"Ya, mungkin ada revisi tempat," ucap Kak Wisnu asal.


"Ya, udah pokoknya ikutin dulu saran dari gue. Gue, sih, mikirnya ini bakalan terjadi lagi dan tempatnya tetep di toilet." Kak Wisnu masih kukuh pendirian. "Oh, iya, Gas. Rencana gue ini butuh modal. Lo ada duit berapa?"


Aku memandang Kak Bagas yang mulai mengocek saku celananya. Selembar uang seratus ribu dikibaskan di depan dada.


"Cuma segini," katanya.


Tanpa aba-aba Kak Wisnu menarik uang itu. "Cukup, kok. Spy Cam harganya 89.000."


"Eh, jangan pake semuanya juga, Bambang! Itu jatah tiga hari gue jajan," pekik Kak Bagas dan hendak mengambil kembali uang yang sudah berada di tangan temannya.


"Ya, elah, tinggal minta lagi apa susahnya?" celetuk Kak Wisnu begitu ringan. "Lo juga belum bayar utang ke gue."


"Utang apaan?"


Aku menahan senyum memperhatikan satu per satu wajah yang tengah berdebat di depanku.


"Nasi kucing—"


"Nasi rames," potong Kak Bagas.

__ADS_1


"Iya, itu. Pokoknya lo belum bayar duit nasi, dua puluh ribu." Telunjuk dan jari tengahnya melayang di hadapan Kak Bagas.


"Lo peritungan banget kalo soal duit," ejek Kak Bagas sambil memiringkan kepala.


"Sori, Ngab! Duit enggak pernah mandang temen!"


"Ya, udah duit itu lo pake buat beli CCTV, terus sisanya ambil, aja, buat bayar utang gue!" Kak Bagas akhirnya mengalah.


"Ya, jelas kurang, Yana!"


"Kurang sepuluh ribu!" Mereka berakhir saling membentak satu sama lain.


"Sepuluh ribu juga duit. Gue bukannya untung malah buntung!"


"Udah!" Sudah saatnya aku melerai mereka dan mengeluarkan selembar uang untuk membayar utang makan siang itu. "Ini Dara bayar utangnya Kak Bagas."


"Dek, jangan!" Teriakan itu tidak berarti apa-apa karena Kak Wisnu sudah merebut uang dari tanganku.


"Enggak apa-apa." Aku mencoba menenangkan.


"Nanti abang ganti uangnya, ya!"


"Lah, giliran duit cewek janjinya cepet," ejek Kak Wisnu masih belum puas.


"Berisik, lu!" Kak Bagas sampai meninju sebelah lengan kawannya.


"Berarti nanti toilet cewek bakalan dipasang CCTV, ya, Kak?" Aku ingin memperjelas rencana ini.


"Iya. Ntar sore kakak beli dulu Spy Cam-nya, terus mampir ke sekolah buat pasang di toilet cewek," jelas Kak Wisnu.


"Tapi, Kak ... itu, kan, toilet cewek ...." Aku agak ragu sebenarnya dengan rencana ini.


"Tenang, Ra, tenang. Kita enggak akan ngintip, kok. Nanti kakak bakal atur posisi sebaik mungkin. Kalau perlu, kamu duluan yang liat rekamannya, baru kita-kita."


Ah, baiklah. Melihat Kak Wisnu begitu bertekad, aku yakin kali ini kami tidak akan gagal.


"Lo yakin mau pasang kameranya sendiri?" Kak Bagas hendak menawarkan bala bantuan.


"Yakin. Lo anter Dara pulang, aja! Jagain, kasian!"


"Soal itu, sih, enggak perlu diingetin. Gue pasti jaga Dara sampai akhir!" janjinya yang mampu menghangatkan segenap relung jiwaku.


......***......

__ADS_1


__ADS_2