Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 4 | Jurit Malam


__ADS_3

Semua peserta LDKS diminta berbaris sesuai kelompoknya masing-masing. Momen yang paling menegangkan untukku dan Kak Bagas pun akan terjadi sebentar lagi. Sekeras apa pun menghibur hati, tetap saja keinginanku dan dirinya tetaplah sama. Sama-sama ingin ditempatkan di kelompok tiga. Aku harap Kak Bagas yang menyusulku, bukan Arfan apalagi Cecilia.


Namun, sepertinya doa kami tidak disambut semesta dengan sebaik-baiknya. Baru juga permulaan, baru juga awal. Nama Kak Bagas keluar saat kocokan dipegang ketua tim pertama. Sudah kalah, padahal baru berjuang. Memang bukan rezekinya dijaga Ayang.


"Ah, padahal aku pengen dijaga Kak Bagas." Celetukan itu tentu saja membuat kepalaku menoleh. Si Mantan rupanya belum tersadar. Dia masih bersikukuh tidak rela. Entah apalagi yang harus ia rasakan supaya bisa melek mata, hati, dan pikiran.


Lain dengan Shafira yang membuatku kesal dengan ucapannya, Eren malah membisikkan kata-kata yang memancingku untuk lebih percaya diri supaya bisa saling menguatkan.


"Gimana dong, Ra? Kalau kedapatan Arfan atau Cecilia, kelompok kita pasti tamat 'kan?"


"Ah, gak juga." Aku berkelakar padahal hati ikutan tegang. "Misalkan sekelompok sama mereka, aku yakin mereka tanggung jawab, kok."


Rasanya tidak mungkin kalau mereka menjatuhkan kelompok sendiri demi membalaskan dendam hati. Ya, kali ingin hancur bersama. Semua orang pasti ingin maju bersama, 'kan?


Tiba saatnya kelompok kami yang mengambil nama senior. Aku yang dihantui rasa takut, tegang, dan berharap lebih pun berjalan sungkan ke arah depan, tempat senior berkumpul juga tempat pengocokan nama dilaksanakan.


Kak Bagas masih menampilkan senyum, menganggukkan kepala seolah meyakinkan. Benar. Aku tidak boleh putus harapan. Pilihan kedua ada Kak Wisnu. Dia belum dipilih kelompok mana pun. Masih ada peluang, masih ada jalan. Kelompokku pasti bisa pulang dan tidur nyenyak malam ini.


Tanganku mulai masuk ke kotak kocokan. Dengan mata tertutup, aku mencoba mencari peluang disetiap kesempatan. Satu ikatan nama aku dapatkan dengan mudah. Hati penuh harap, aku mengeluarkan kertas tersebut, lalu menyembunyikannya di belakang badan. Arfan yang sudah mengulurkan tangan, bermaksud membacakan nama yang tercantum pun mendadak diam.


Biar aku yang menyebut namanya. Aku tidak ingin ditipu daya lagi olehnya. Degupan jantung semakin tidak terkendali saat kertas itu terbuka. Sebuah nama perlahan terlihat dengan jelas berbarengan dengan mikrofon yang diulurkan Arfan padaku. Ludahku telan berkali-kali, aksi menunggu dari audiens cukup menegangkan tubuh hingga keringat dingin membasahi kedua tangan. Baiklah. Ini tidak seberapa. Aku yakin orang ini tidak akan menghancurkan regunya sendiri. Dia akan menjaga kami, aku yakin.


"Siapa, Sayang?" tanya Kak Bagas dari belakang badanku.


"Kak ... Cecilia." Suaraku teramat lancar melewati mikrofon.


"Gu-gue?" Orang yang kusebut pun menunjuk dirinya sendiri. Matanya terbelalak menandakan kalau ini murni pilihanku sendiri.


Tidak ingin dilihat menolak dan tidak profesional, Cecilia mau tak mau mengikuti berjalan ke arah kelompok tiga yang menunggu. Lenganku tiba-tiba ditahan dari arah belakang sehingga langkahku berujung melambat.


"Bisa-bisanya lo pilih gue," bisiknya masih sambil menampilkan senyuman.


Aku mendengkuskan napas. Masih berjalan lambat aku berusaha menjawab, "Anggap, aja, gue lagi apes. Ingat! Hari apes gak ada di kalender."


***


Kelompok tiga berangkat lima belas menit setelah kelompok dua pergi duluan. Berbekal dua buah senter, kami berjalan menyusuri jalan setapak. Dipimpin Cecilia, kami berjalan membuntutinya tanpa tahu arah dan tujuan lain.


"Tunggu!?" Tangan Cecilia mengapung dan mampu menghentikan langkah kami. "Di sini siapa yang otaknya encer?"

__ADS_1


Tentu saja kami saling pandang. Tidak tahu harus menjawab siapa karena baru masuk sekolah, belum dilakukan ujian dan pembagian raport.


"Masa gak ada yang cerdas?" teriaknya seolah tidak menyangka.


Aku yang harus melindungi tim berujung melipat tangan di depan dada. "Memangnya mau apa? Pakai acara cari yang cerdas segala."


"Eh, ini berguna buat bebasin kita dari jebakan. Cepet kirim siapa, aja, ke barisan depan! Jangan si Dara kalau bisa!" tunjuknya padaku.


"Maaf, Kak. Setahu saya, Dara juga cerdas, kok." Eren yang bicara sukses membuatku menahan napas. Tahu dari mana dia?


"Seriusan? Kok, gak kelihatan pinter, ya?"


Astaga. Ingin rasanya aku membungkam mulut senior yang menyebalkan ini!


"Shafira," panggil Cecilia lebih lembut ketimbang memanggil namaku. "Lo, aja, gimana? Lo, kan, lebih lama tinggal di kelas X ketimbang mereka."


"Oke! Aku siap."


Alhasil dia, lah, yang menjadi pemandu jalan. Berdiri lebih awal, berdampingan dengan Cecilia. Memang pas saja. Kedua musuh bebuyutan diam di barisan terdepan.


Kami berhenti di pos pertama. Hanya bertemankan cahaya temaram dari sebatang lilin, samar-samar aku melihat kubangan yang sengaja ditutup helaian daun jati. Mengingat kalau itu adalah kolam air buatan, sukses membikin bulu kuduk meremang. Dingin begini disuruh berendam. Hah, ya, sudahlah. Seperti yang kubilang, hari apes tidak ada dalam kalender.


Aku yang sudah diberi bocoran tidak terlalu terkejut dan bereaksi seadanya. Lain dengan mereka yang meringis menahan ngeri. Ya, siapa pun takut kalau kubangan pertama itu lumpur. Sayangnya, kubangan pertama yang akan kami lewati itu air. Bocoran dari Kak Bagas, sih, begitu.


"Mana pertanyaannya, Sa." Cecilia sudah tak sabar untuk menjawab pertanyaan. "Ingat, lho, harus pikir dengan benar sebelum jawab. Rasa-rasain sama kalian kalau cuaca malam ini dinginnya kebangetan. Ya, kali mau menyelam."


Kami terdiam karena menunggu Kak Esa membacakan sebuah pertanyaan.


"Oke, dengar baik-baik. Akan ada dua kali pengulangan dan kalian diberi waktu tiga menit untuk memikirkan jawabannya." Setelah mendapati kami paham akan aturan tersebut, Kak Esa kembali bersuara. "Pertanyaan untuk melewati kubangan pertama. "Sebutkan jumlah ruangan yang ada di sekolah SMK Farmasi Bangsa."


Kami saling pandang sambil mengernyitkan kening. Sudah aku duga kalau pertanyaan mereka itu random. Kebanyakan tidak jelasnya ketimbang harus berpikir keras tentang pelajaran. Ya, namanya juga seru-seruan. Tidak butuh orang cerdas dan pintar dalam menjawab ini. Cukup orang yang beruntung saja, sebenarnya.


"Pertanyaan apaan itu?" pekik Cecilia seolah baru mendengar pertanyaan tersebut. Masa, iya, sekelas panitia tidak tahu menahu tentang pertanyaan ini?


"Tiga menit dimulai dari sekarang." Tangan Kak Esa mengepal di udara. Seolah memberi isyarat kepada kawannya yang lain untuk melihat stop watch.


Aku mulai menghitung. Membayangkan setiap sudut sekolah dengan benar sampai sebuah angka menyembul dan lekas aku suarakan. "Tiga puluh enam ruangan."


"Hah? Banyak amat!" Cecilia merasa tidak percaya.

__ADS_1


"Ya, kan, semua ruangan. Termasuk toilet, gudang, dan kamar penjaga sekolah, dong."


Hening sesaat dan Shafira mulai bersuara. "Tiga puluh lima harusnya."


"Nah, itu, aja." Telunjuk Cecilia mengapung ke arah Shafira.


Aku memutar bola mata. Dari awal memang dia tidak mau mendengarkanku 'kan? Seharusnya, aku tidak perlu repot-repot menghitung dan ikut andil dalam pertanyaan apa pun.


"Oke. Waktu kalian habis." Tangan Kak Esa terbuka lebar. "Jadi, berapa total ruangannya?"


"Tiga puluh lima." Paling lantang dia menjawab.


"Oke, kami kunci."


"Eh, sebentar! Kenapa main kunci, Kak?" Eren tiba-tiba sewot.


"Lah, emang kenapa? Suka-suka saya, dong. Kalian, kan, dikasih waktu buat mikir dan diskusi. Makanya jangan diem-diem bae, jadi giliran habis waktu pada ribut." Kak Esa malah banyak benarnya.


"Jadi, sudah, ya. Jawabannya 35. Kalian gak bisa ubah lagi." Ucapan itu yang memberi firasat padaku. Jawaban Shafira tidak benar dan kubangan air menunggu di depan sana.


"Jawabannya tiga puluh enam. Tadi saya dengar ada yang jawab tiga enam. Kenapa tidak memilih itu?"


Mereka yang menjerit, membuat hatiku terpukul. Andai saja tidak mementingkan ego. Andai bisa profesional sedikit.


"Kamu yang jawab 36 'kan?" Kak Esa berubah baik hati, menunjukku untuk mendengar penjelasan dari jawaban.


"Iya, saya." Aku maju selangkah, lebih percaya diri sambil tak lupa melayangkan pandangan menyipit kepada Cecilia dan Shafira.


"Coba kamu sebutkan! Tiga puluh enam itu ruangan mana saja?"


"Pos satpam, ruang staf, ruang wakil kepala sekolah, kamar penjaga sekolah, ruang kelas X A-E, ruang administrasi, tiga toilet wanita, ruang kepala sekolah, gudang—"


"Oke, stop! Silakan masuk ke lubang kejutan."


Bercampur perasaan enggan, tetapi sebisa mungkin kami berusaha menahannya. Ini hukuman karena ketidakkompakan dan kehilangan rasa kepercayaan. Mau tak mau semua harus menanggung akibatnya. Orang pertama yang masuk jelas saja Cecilia, Shafira, aku, dan ketiga kawan yang lain. Tak hentinya mereka menjerit. Lubang boleh terisi air, tetapi tetap saja dasar yang kami pijak terlalu lembek sehingga sepatu pun tidak bisa digunakan dengan benar. Terlalu licin untuk dijadikan lahan berjalan.


"Oke, cukup. Pos kedua kita profesional, aja!" ucap Cecilia yang baru sadar letak kesalahannya. "Gue gak mau kecebur lagi. Gue harap lo kerahkan kemampuan buat mikir, Dara!"


***

__ADS_1


__ADS_2